Coblosan

22/04/2019

Coblosan

22/04/2019
Ilustrasi kualitas pemilu

Oleh: Wahyudi Nasution×

Jam 6 pagi, warung baru buka dan masih sepi. Sasa belum tampak batang hidungnya. Memang, bila pas hari libur, biasanya setelah jam 7 baru banyak pembeli. Dimulai para pegowes dari berbagai penjuru yang mampir untuk sekedar istirahat dan sarapan sebelum melanjutkan perjalanan.

Lalu datang juga beberapa rombongan keluarga dari luar kota yang sengaja datang menikmati sarapan soto klangenan. Begitulah, warung Soto Kartongali biasa jadi jujukan bagi orang yang ingin sarapan pagi sambil istirahat. Lalu mereka tuman kembali lagi di lain waktu karena rasa soto yang khas dan bikin gedhek-gedhek.

Karena masih sepi, kulihat Yu Semi yang biasa bertugas menggoreng tahu-tempe masih bisa ngobrol dan gojegan dengan teman-temannya. Tanpa sengaja nguping, aku yang kebetulan duduk di ruangan dekat dapur bisa mendengar dengan jelas obrolan mereka. Walaah, ternyata emak-emak dapur sedang me-review Pemilu dan Pilpres dua hari lalu. Kudengarkan obrolan mereka sampil menikmati soto dan teh nasgithel.

“Kemarin kamu dapat amplop berapa, Mar?” tanya Yu Semi pada Yu Marni.

“Lumayan, Yu. Dapat lima,” jawab Yu Marni.

“Isinya berapa?”

“Ada yang 20, 25, 30, dan ada yang 50. Lumayan bisa buat nyangoni sekolah anakku.”

“Kalau kamu dapat berapa, Sri?,”  Yu Semi tanya pada si Sri yang biasa bertugas nyuci mangkok, sendok-garpu, dan gelas.

“Dapat tiga, Lek. Yang satu isi 30 ribu, yang dua isi 50 rb. Lumayan,” jawab si Sri.

“Kalau kamu dapat berapa, Tin?” Yu Semi tanya lagi ke Tini pelayan yang paling muda usia.

“Di desaku semua cuma dapat satu amplop, Mbokde. Isinya 50 ribu. Tapi masjid kami sudah dibelikan karpet bagus sebelum coblosan,” jawab Tini sambil tangannya ngelap sendok dan garpu.

“Lumayan itu, Tin. Bisa dipakai bersama-sama dan pasti awet.”

“Iya, memang selama ini masjid kami masih anyep karena belum ada karpetnya. “Kalau di tempat Mbokdhe bagaimana?,” Tini balas bertanya.

“Di tempatku gak ada amplop, Tin. Tapi ada satu caleg yang janji mau belikan tenda setangkep. Caleg lainnya janji mau belikan kursi lipat 50 buah.”

“Masih janji semua to, Mbokdhe?”

“Ya masih janji, tapi karena bapak-bapak pengurus RT sudah percaya dan mantap, ya semua warga mendukung.”

“Kalau nanti calegnya gagal bagaimana, Mbokdhe? Kan gak jadi dapat tenda-kursi?”

“Ya gak apa-apa, Tin. Sebenarnya kami juga tidak minta kok. Kalau mereka tidak jadi, tidak terpilih, ya mending gak usah ngasih saja. Mesakke, Tin. Caleg-caleg itu pasti sudah habis banyak duitnya.”

“Iya ya, Yu,” Yu Marni menyahut, “Mesakke. Apalagi kita ini tiap bulan sudah dapat beras dan telur PKH. Banyak juga yang masih dapat bantuan pendidikan dan kesehatan. Bantuan PKH yang biasanya dibagikan akhir bulan, kemarin sudah kita terima sebelum Pemilu.”

“Lha iya, Mar. Makanya kita ini harus manut sama Pak Kades dan mas-mas pendamping PKH. Disuruh milih ini ya milih ini, disuruh milih itu ya milih itu. Daripada nanti gak dapat PKH lagi, to?”

“Kalau di tempat Pakdheku malah lebih enak lagi, Mbokdhe.”

“Lebih enak bagaimana, Tin?”

“Sebelum coblosan sudah dapat PKH dan dibagi amplop 50 ribuan. Pas coblosan semua datang ke TPS hanya untuk duduk, makan-makan, dan ngobrol. Para petugas TPS yang bekerja nyobloske.”

“Wah, itu namanya bukan Pemilu, Tin. Itu andrawina, resepsi, pesta.” Terdengar gelak-tawa orang-orang dapur.

“Lha katanya memang pesta, Mbokdhe? Pesta demokrasi. Semua diundang ke TPS. Kita pun meluangkan waktu untuk datang. Lumrah kalau ada makan-makan.” Kembali terdengar gela-tawa emak-emak dapur Kartongali.

Kulihat di ruang sebelah sudah penuh pembeli. Aku pun teringat harus segera pulang karena ada kerjaan menunggu. Setelah bayar ke Kang Panut di ruang depan, aku langsung ambil sepeda dan siap pulang dalam kondisi perut hangat dan badan masih gobyos bersimbah keringat.

“Loh, Om, kok tumben mruput pagi-pagi ke sini? Kok naik sepeda?” Rupanya Sasa sudah bertugas di tempatnya sejak tadi. Untung dia gak tahu aku ada di dalam.

“Iya, Sa. Ethok-ethoke olah raga gowes sambil nyoto,” jawabku sambil lalu.

“Nanti malam aku sowan ke rumah ya, Om. Tolong disiapkan kopinya…hahahaa.”

“Siap, Sa. Tenan, lho, kutunggu bakda isya’,” jawabku sambil mancal sepeda meninggalkan Sasa.

 

#Serisasa

*Penulis adalah Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah