IMM, Nalar Kritis dan Tuntutan Ijtihad Baru

admin14/04/2019

IMM, Nalar Kritis dan Tuntutan Ijtihad Baru

admin14/04/2019
Immawan Ari Susanto

Reporter: Novia Tri Astuti
MENTARI.NEWS, SUKOHARJO –  Koordinator Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Universitas Muhammadiyah Surakarta menggelar diskusi publik sebagai isi grand closing milad IMM ke 55 Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Diskusi Publik  bertema Membangkitkan Nalar Kritis Mahasiswa di Era Milenial pada Sabtu (13/4/2019) di Auditorium Moh. Djazman kampus I UMS.

Diskusi publik ini rencananya menghadirkan dua pembicara, yaitu Drs. Tafsir, M.Ag., Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah 2015-2020  serta Immawan Ari Susanto, S.Ei., Kabid Ekonomi dan Kewirausahaan DPP IMM Periode 2018-2020. Namun pada hari H pelaksanaan, ternyata Ketua PWM Jawa Tengah tidak bisa hadir. Jadilah Ari Susanto menjadi pembicara tunggal diskusi publik ini.

Ari Susanto mengatakan gerakan mahasiswa mengalami situasi jalan di tempat. Gerakan mahasiswa lupa menjawab tantangan perubahan jaman yang dihadapi bangsa dan negara Indonesia saat ini.

“Kita (generasi muda) terlalu disibukkan dengan urusan pribadi dimana algoritma rasa mengalahkan algoritma akal. Kita diibaratkan orang-orang yang instan hingga lupa melakukan kerja-kerja kebangsaan,” terang Ari Susanto.

Kabid Ekonomi Kewirausahaan Dewan Perwakilan Pusat IMM periode 2019-2020 itu berharap agar IMM harus sadar untuk terus membangun kegiatan sinergis dari hasil nalar kritis yang mereka lakukan. Bergerak harus memiliki ide dan gagasan. Intelektualitas adalah bagian utama dari kesadaran membangun gerakan.

Untuk menjadi intelektual, tentu harus selalu banyak membaca, tidak hanya membaca teks, melainkan juga membaca keadaan. Selain itu Ari Susanto menegaskan, membangun nalar kritis tidak hanya dari membaca tapi juga menulis.

“Menulis adalah bagian dari perilaku intelektual. Di era milenial ini tentu banyak sekali cara menulis yang lebih mudah. Mulailah menyampaikan ide dan gagasan melalui buku, website, blog dan media-media lain untuk semakin mengembangkan pemikiran generasi berkemajuan IMM yang selanjutnya, “terang Ari Susanto.

Menyampaikan ide melalui tulisan adalah usaha melakukan ijtihad baru. Ari Susanto menyebutnya sebagai fresh ijtihad.

“Islam tidak hanya dalam bentuk teks melainkan lebih dari sekedar teks, yakni pada akal pikiran. Kita harus selalu melakukan penajaman dalam berfikir, terlebih berfikir untuk persoalan-persoalan Islam di zaman sekarang,” jelas Ari. (*)