Lemah Iman yang Meragukan Keberadaan Allah

08/04/2019

Lemah Iman yang Meragukan Keberadaan Allah

08/04/2019
Lemah Iman meragukan Keberadaan Allah

Oleh: Muhammad Lukman*

Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa Rasulullah diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsho kemudian ke Shidrotul Muntaha, yang menghasilkan perintah amalan sholat lima waktu langsung dari Allah SWT tanpa perantara.

Peristiwa ini sangat menarik untuk dibahas karena perjalanan Rasulullah sampai di Masjidil Aqsho yang hanya beberapa jam padahal jarak menuju Masjidil Aqsho ini bisa memakan waktu berbulan-bulan. Kemudian Rasulullah di angkat ke Shidrotul Muntaha yaitu langit ke tujuh dimana manusia biasa tidak akan bisa sampai sana.

Karena peristiwa ini, banyak orang muslim pada masa itu setelah mendengar bahwa Rasulullah diperjalankan ke Masjidil Aqsho kemudian ke Shidratul Muntaha mengalami keraguan akan peristiwa tersebut bahkan banyak yang keluar dari Islam. Jika dilogikakan, peristiwa ini sangat tidak masuk akal, sebab perjalanan dari Mekah ke Palestina tidak akan sampai hanya semalam saja.

Melihat pada masa itu pula bisa dibayangkan belum ada kendaraan seperti zaman sekarang ini, kendaraan hanya kuda dan unta saja, jadi peristiwa ini benar-benar tidak bisa dilogikakan. Maka pantas saja umat Muslim pada masa itu meragukan peristiwa tersebut, terutama umat Muslim yang awam atau baru saja menjadi Islam kemudian kembali lagi ke ajaran sebelumnya.

Kemudian ada sahabat Rasul yang menjadi satu-satunya orang yang meyakini terhadap peristiwa tersebut yaitu Abu Bakar As-siddiq. Umat Muslim yang lainnya pun ikut meyakini akan peristiwa tersebut setelah diyakinkan oleh Abu Bakar, terkecuali orang muslim yang sudah benar-benar meragukan dan tidak percaya akan peristiwa tersebut.

Dari peristiwa ini juga Abu Bakar mendapat gelar “As-Siddiq” yang telah meyakinkan kepada kaum Muslim bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj ini benar-benar terjadi pada diri Rasulullah. Abu Bakar meyakini peristiwa ini karena beliau sudah percaya dan beriman bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang utusan yang akan memberikan kebenaran terhadap alam semesta.

Peristiwa Isra’ Mi’raj ini mengingatkan kita akan dua hal yakni Rasional (masuk akal) dan Iman (percaya/yakin) yang akan menentukan kita percaya atau tidaknya terhadap peristiwa Isra’ Mi’raj. Jika dirasionalkan, peristiwa tersebut merupakan hal yang mustahil dilakukan oleh manusia.

Apabila diimani peristiwa tersebut benar akan terjadinya pada diri Rasulullah, sebab Rasulullah merupakan utusan Allah yang betul-betul dipelihara dan dijaga kebenarannya. Ketika kita melihat peristiwa tersebut hanya dengan rasional-empiris maka peristiwa tersebut memang tidak bisa dirasionalkan akan tetapi umat Muslim mempunyai keyakinan/ keimanan pada peristiwa tersebut.

Itulah yang membedakan peradaban Barat dan peradaban Timur, dimana peradaban Barat hanya percaya terhadap yang nampak saja atau hanya dapat diindera saja (materiil). Sedangkan peradaban Timur percaya akan yang fisik dan metafisik. Dikaitkan juga dengan keberadaan Tuhan yang dicari sejak zaman Yunani kuno sampai sekarang, penuh dengan perdebatan akan pencariannya. Banyak teori-teori yang menjelaskan tentang pembentuk alam yang kemudian ada sesuatu dibalik semua kehidupan ini yaitu pemciptanya.

Sampai ada pernyataan bahwa “Tuhan telah mati”. Pernyataan tersebut tidak asing lagi bagi orang yang sudah belajar filsafat, Friedich Nietzsche-lah yang menyatakan akan hal itu. Pernyataan “Tuhan telah mati” ini dimaksudkan bukan Nietzsche yang telah membunuh Tuhan akan tetapi pernyataan ini lebih ke dogma-dogma agama yang membatasi. Dimana dalam agama ada ajaran-ajaran yang jika dibuktikan secara empiris tidak terbukti akan kebenarannya.

Muhammad Lukman. (istimewa)

Nietzsche tidak percaya akan adanya yang metafisis, maka dari itu dia hanya percaya akan kebenaran apabila kebenaran itu dapat dibuktikan secara empiris atau dapat diindera. Seperti halnya ritual peribadatan, mengapa harus melakukan ritual untuk yang tidak nyata. Kebenaran yang tidak nyata tidak akan diakui olehnya.

Pada masa sekarang ada orang muslim yang masih ragu terhadap kebenaran Allah sebagai Tuhan, terutama yang terjun di bidang akademik termasuk juga para mahasiswa. Di kalangan mahasiswa juga ada yang meragukan akan keberadaan Allah sebagai Tuhan setelah belajar filsafat, baik itu pernyataan yang serius maupun pernyataan yang bersifat candaan. Akan tetapi sebenarnya jikalau ada yang disalahkan bukan filsafatlah yang disalahkan akan tetapi itu dikembalikan kepada orang yang belajar filsafat, bagaimana dia memahami dan mempelajarinya seperti apa.

Dengan mempelajari filsafat kita akan mampu memahami dan mengetahui akan kebenaran. Kebenaran yang seperti apa? bagaimana mencari akan kebenaran tersebut? Seperti kajian ontologi (hakikat hidup) merupakan salah satu cabang kajian filsafat. Tentu dalam mendapat suatu kebenaran itu (epistimologi) kita harus memperhatikan asal dari suatu kebenaran tersebut, ada empiris (dapat di indera), rasional (dapat di rasio/akal), dan intuisi (dirasakan oleh hati).

Barat hanya menggunakan rasional-empiris, sedangkan Timur menggunakan rasional-empiris sekaligus intuisi. Inilah yang harus diketahui, sebab Islam mempunyai petunjuk akan kebenaran berupa wahyu, dimana wahyu bukanlah karangan atau ciptaan manusia akan tetapi kalam Allah yang tidak ada bandingannya ataupun yang serupa darinya. Dan fungsi akal ialah memahami wahyu untuk kemaslahatan dan keselamatan hidup.

Sebagaimana kita harus memahami Qs al-‘Alaq ayat 4-5, sebagai berikut: :

“Yang mengajarkan (manusia) dengan pena (kalam). Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”.

Dari ayat ke-4 tertulis pena yang berarti kalam, bahwa Allah mengajarkan manusia dengan kalam atau apa-apa yang sudah ada di alam maka Allah mengajarkannya. Terdapat dalam QS Al-Baqoroh: 31 “dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya…”. ini berkaitan dengan pencarian kita akan kebenaran melalui rasional-empiris. Kemudian akal-lah yang berperan dalam memahami apa yang sudah di ajarkan .

Dari ayat ke-5 dapat kita pahami bahwa selain Allah mengajarkan manusia apa yang sudah ada, Allah juga mengajarkan manusia apa-apa yang tidak diketahuinya. Yang tidak diketahui disini maksudnya ialah suatu kebenaran yang sampai kapanpun manusia tidak akan pernah mengetahuinya kebenaran yang sesungguhnya, manusia hanya bisa mengimani dan meyakini akan hal tersebut. Maka dari itu yang berperan akan hal ini ialah Wahyu sebagai petunjuk kemudian akal yang memahaminya menuju kebenaran yang sesungguhnya.

Tentunya kita menyadari bahwa keberadaan akan Allah tidak dapat dibuktikan secara empirik akan tetapi dapat diyakini dengan keteguhan hati bahwa Allah itu memang ada akan kebenarannya. Sebagaiman ayat yang di atas tadi menjelaskan bahwa ada kebenaran yang tidak bisa kita dapatkan secara empiris namun hanya dapat diyakini kebenarannya.

Maka dari itu perlu dipertanyakan keimanan kita saat ini, apakah masih ragu akan kebenaran Allah? Ataukah kita ingin selalu membuktikan bahwa Allah itu ada? Tentu sudah jelas bahwa Allah itu ada, buktinya ialah alam semesta yang diciptakannya ini. Hanya manusia saja yang terbatas akan pencariaan kebenaran yang sesungguhnya. Kebenaran yang sesungguhnya akan nampak dan terasa ketika keimanan kita benar-benar sudah iman.

 

 

*Penulis adalah mahasiswa Pondok Hajjah Nuriyah Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta

Related Articles