Mengapa Caleg Gagal Alami Stres?

admin11/04/2019

Mengapa Caleg Gagal Alami Stres?

admin11/04/2019
Ilustrasi

Reporter Rani Setianingrum
MENTARI.NEWS, SUKOHARJO – Menjadi seorang wakil rakyat haruslah diniati sebagai amanah bukan dengan niatan lain. Karena disadari atau tidak, niat akan menentukan hasil akhir.

Sehingga ketika ada seorang caleg yang gagal dalam Pemilu dan akhirnya mengalami stres, maka harus dilihat kembali niatan awalnya.

Demikian disampaikan dosen Fakultas Psikologi UMS, Dr. Nisa Rachmah Nur Aganthi, M.Si., kepada Mentari.news di ruang kerjanya, Selasa (10/4/2019).

“Dalam psiko spiritual, niat itu sangat menentukan. Menentukan langkah selanjutnya dan merupakan awalan melakukan sesuatu. Ketika niatnya positif maka langkah selanjutnya juga akan positif. Niat positif itu seperti dia mencalonkan diri sebagai anggota legislatif untuk mewakili raykat,” terang Nisa.

Dikatakan Nisa, jika seseorang mencalonkan diri sebagai caleg, maka proses yang dilakukan adalah melakukan aktivitas kampanye untuk promosi, memperkenalkan diri kepada masyarakat.

“Itu juga harus positif, artinya, ketika kampanye ia harus memberikan janji dan ketika terpilih nanti harus dapat ia penuhi. Kemudian dari sisi hukum juga taat dengan waktu yang ditentukan tidak boleh mendahului dan lain sebagainya,” jelas Nisa.

Lantas mengapa caleg yang gagal mengalami stress? Nisa menjawab caleg gagal tersebut stres mungkin karena niat dari awalnya itu sudah melenceng. Kemudian dalam prosesnya juga banyak melakukan pelanggaran ataupun memberikan janji yang tidak dapat ia lakukan.

“Padahal janji itu kan hutang, hutang harus dibayar maka hal inilah yang mempengaruhi dan membebani secara mental,” kata psikolog klinis ini melanjutkan.

Maka tidak heran ketika caleg yang memiliki niat dan proses tidak positif, ketika dia gagal maka akan mengalami tekanan, gangguan mental.

“Namun sebaliknya ketika seseorang caleg memiliki niatan awal positif, melakukan proses juga secara positif, dan namun belum mendapatkan hasil yang positif ia tidak akan merasa tertekan karena ia tidak memiliki sebuah hutang, janji yang harus dipenuhi. Karena ketika berkampanye dia melakukan sesuai dengan kemampuannya,” pungkas Nisa.(*)