Pilpres 2019, Dalam Diskursus Youth Government

Pilpres 2019, Dalam Diskursus Youth Government

10/04/2019
10/04/2019
Pilpres 2019 Dalam Diskursus Youth Governnment

Oleh: Akmal Akhsan Tahir*
Pemilihan Presiden 2019 memang terlihat sangat membosankan. Bukan hanya karena kontestannya adalah dua figur yang pernah bertanding pada 2014 lalu.

Lebih dari itu, rasa-rasanya perhelatan demokrasi lima kali setahun ini nyaris nir gagasan, kering terobosan-terobosan baru. Pada waktu dan tempat lain,  orang-orang hanya pandai menghujat, menghina dan mengikuti jalannya dinamika pemilihan dengan fanatisme buta.

Saat ini, masyarakat Indonesia terjebak dalam fenomena bigot, memiliki keyakinan kuat pada satu pandangan tertentu sekalipun tak berdasar, didorong fanatisme buta dan keberpihakan pada pandangan politik tertentu.

Perihal inilah yang melanggengkan jalannya politik yang tidak dialektis-argumentatif. Dalam perspektif seperti itu, Najih Prasetyo sebagai Ketua Umum DPP IMM pada kelas Training Politik Nasional IMM Ar Fakhrudin pada 7 April yang lalu menyatakan perlunya gagasan untuk ditawarkan pada kedua calon Presiden.

Salah satunya adalah gagasan tentang youth government. Penulis merasa tertarik untuk menarasikan gagasan ini ke permukaan, sehingga dialektika Pemilu bukan hanya soal hujat-menghujat saja, tapi dialog yang padat pikiran. Semoga!

Youth government dapat diartikan sebagai sistem tata kelola pemerintahan dimana inovasi gagasan diejawantahkan oleh pemuda demi tercapainya kesejahteraan masyarakat. Dalam bahasa singkatnya, youth government diartikan sebagai kepemimpinan anak muda.

Dalam diskursus global, bingkai youth government ini kembali muncul ke permukaan ketika Emmanuel Macron terpilih sebagai Presiden Prancis di usia 39 tahun pada pertengahan 2014. Terakhir, angin segar ini dapat dilihat dari keberanian pemerintah Malaysia mengangkat Syed Saddiq sebagai Menteri Belia dan Sukan Malaysia atau Menteri Pemuda dan Olahraga setelah sebelumnya berkarir sebagai wakil rakyat di parlemen.

Perlunya Youth Goverment di Indonesia

Kita bisa berbangga dengan tampilnya anak muda dalam dialektika Pilpres tahun ini di kedua kubu calon presiden. Realitas ini tentu memantik kesempatan bagi pemuda untuk hadir dan mengisi pemerintahan, siapapun yang berkesempatan untuk memimpin negeri ini pada lima tahun mendatang.

Agus Harimurti Yudhoyono, Dahnil Anzar Simanjuntak, Faldo Maldini, Tsamara Amany, Erick Thohir serta tokoh muda yang lain saat ini telah membuka kesempatan baru bagi generasi muda masuk dalam tubuh pemerintahan dengan ide segar, kreatif dan inovatif.

Akmal Akhsan Tahir. (istimewa)

Kesadaran subjek dari anak muda Indonesia sebenarnya telah dimulai dengan hadirnya Budi Utomo dalam perjuangan meraih kemerdekaan. Indonesia yang pada masa itu masih hidup dalam kerangkeng penjajahan menuntut pikiran muda untuk tampil dalam gelanggang sejarah.

Dalam desakan kolonialisme, muncul Budi Utomo sebagai organisasi modern pertama di Indonesia. Gairah kesadaran nasional yang mulai timbul dengan semakin terdidiknya pemuda, kemudian dibantu kepopuleran media cetak membawa kaum muda menyadari perlunya kesatuan nasional dan kesadaran akan kemerdekaan. Pergerakan Budi Utomo pada masanya patut diacungi jempol, mereka telah membentuk fondasi baru bagi pergerakan nasional kala itu.

Memandang Indonesia ke depan, negara ini perlu menghadirkan pemuda sebagai kekuatan baru dalam pergulatan politik, sosial dan ekonomi d itingkat global. Gelombang bonus demografi 2020-2035 adalah momentum besar yang dapat dijadikan kesempatan untuk mengkristalisasi kekuatan pemuda pada masa masa mendatang.

Di Indonesia saat ini struktur kependudukan yang ada telah menciptakan ledakan usia produktif (15-64 tahun) hingga separuhnya. Pada tahun 2030 mendatang, sekitar 180 juta penduduk Indonesia adalah usia produktif.

Kesempatan ini harus diisi anak muda masuk pada sektor pemerintahan dengan daya intelektualitas dan kreatifitas sebagai modal besar dalam memajukan peradaban bangsa.

Persaingan global sesungguhnya membutuhkan pikiran yang segar, inovatif dan kreatif. Kompetisi di tingkat internasional tak bisa selamanya mengandalkan peran kaum tua.

Pada masa inilah, kaum muda harus memahami peluang, bukan hanya menafsirkan keadaan  tapi turut terlibat dalam kontestasi dan memenangkan pertarungan. Jika demikian, cahaya masa depan akan selalu terang untuk negara ini. (*)

 

*Kepala Madrasah Digital Yogyakarta