Usreg

admin30/04/2019

Usreg

admin30/04/2019
USREG

Oleh: Wahyudi Nasution*

Ngobrol dengan Sasa selalu jadi asyik karena sering terlontar kosa kata lama yang sudah jarang terdengar. Kadang dia terkesan seperti seorang penyair, teliti memilih diksi untuk menyatakan pikiran dan perasaannya. Kadang juga seperti seorang lawyer yang pilihan diksinya tidak mengundang tafsir ganda.

Seperti malam ini, dia datang selepas isya’ sesuai janjinya tadi pagi untuk ngopi-ngopi. Tapi bukan Sasa kalau obrolannya yang ngalor-ngidul tidak nyrempet-nyrempet situasi politik terkini, seputar Pemilu/Pilpres 2019 beberapa hari lalu, sejak masa kampanye yang berbulan-bulan hingga proses penghitungan suara yang terkesan tidak rofesional dan amburadul. Seperti biasa, aku pun lebih sering menjadi pendengar yang baik, yang hanya sesekali nyenggaki untuk sekedar menjaga agar omongannya tidak nggladrah ke mana-mana.

“Ibarat pertandingan sepakbola, Om, wasit kok tidak kunjung niup peluit panjang tanda permainan sudah usai, ya. Tim sukses, pemilik klub, para wasit, dan PSSI malah usreg sendiri. Rakyat yang jadi penonton ini jadi capek to, Om?”

“Ini politik kok, Sa. Bukan sepakbola.”

“Aku cuma khawatir kalau penonton jadi gak sabar lalu ngamuk.”

“Ngamuk piye?”

“Om, penonton juga tahu ada yang tidak beres dalam pertandingan ini? Kalau dalam sepakbola, para pemain dan pemilik klub bisa disogok supaya mau mengalah. Wasit juga disogok supaya mau kerjasama ngatur pertandingan agar pemenangnya sesuai maunya para mafioso sepakbola.”

“Ini bukan sepakbola kok, Sa.”

“Lha ya itulah masalahnya, Om. Ini memang bukan sepakbola yang penontonnya tidak terlibat. Tapi ini politik. Pemilu dan Pilpres. Semua rakyat dilibatkan dalam pertandingan untuk memilih penyelenggara negara. Kalau ada yang tidak beres, misalnya panitia Pemilu melakukan manipulasi suara, tentu rakyat bisa ngamuk karena diapusi.”

“Sa, bagaimana kalau kita mencoba bersabar dan percaya saja pada panitia yang tentu juga mumet menghitung suara sampai selesai?”

“Rakyat ini kurang sabar apa to, Om? Sudah berbulan-bulan diberondong kampanye para Caleg dan Capres-Cawapres. Sudah berbulan-bulan kita diiming-imingi, bahkan ada yang diancam-ancam supaya milih ini milih itu. Berulang-ulang rakyat ikut pemilihan-pemilihan, tapi ternyata cuma kapusan terus. Meski begitu, Om, rakyat masih berharap akan ada perubahan, berharap akan ada perbaikan pengelolaan negara.  Makanya kita kemarin mau ikut Pemilu-Pilpres.”

“Rakyat juga seneng disogok to, Sa? Ayo ngaku saja, kemarin kamu dapat amplop berapa, lalu milih siapa? Wkkk…..”

“Weelha malah diece.”

“Tentu Sasa ingin pemenangnya yang kemarin ngasih amplop, to? Hayo ngaku saja…..”

“Jindul ik…”

“Ngene lho, Sa. Siapapun Calegnya, siapapun Capres-Cawapresnya, yang kemarin sudah mengeluarkan duit banyak tentu ingin terpilih dan menjadi pemenang. Apalagi yang sedang berkuasa, tentu akan menggunakan kekuasaannya agar bisa menang dan kembali berkuasa.”

“Ya pasti, Om.”

“Yang belum berkuasa dan ingin berkuasa tentu juga berjuang keras mengerahkan segala daya agar bisa memenangkan pertandingan. Bener gak, Sa?”

“Iya ya, Om. Makanya usreg. Mbokya ada yang mau mengalah saja biar segera rampung masalahnya, ya.”

“Kalau mengalah dalam pertandingan, itu namanya tidak sportif, Sa. Ngapusi pendukung dan pemilihnya.”

“Iya ya, Om. Jadi biarkan saja mereka usreg terus, ya?”

“Lha kan sudah ada jadwalnya kapan penghitungan suara ini harus selesai dan diumumkan siapa pemenangnya. Sabar sik to, Sa.”

“Ah sudahlah, Om. Aku mau pulang dulu. Mudah-mudahan masalah tidak semakin ngombro-ombro sehingga rakyat bisa sabar dan tidak ngamuk. Kalau harus ngamuk, aku juga masih siap kok, Om. Sudah lama tidak ngantemi orang….hahahaa.”

Sasa pun langsung pulang, nggenjot sepeda jengki andalannya. Malam sudah cukup larut, saatnya menuju peraduan.

 

#serialsasa

 

*Penulis adalah anggota Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah