Haedar Nashir: Sudah Berapa Puluh Kali Kita Berpuasa, Bekasnya Hanya Itu-Itu Saja

Haedar Nashir: Sudah Berapa Puluh Kali Kita Berpuasa, Bekasnya Hanya Itu-Itu Saja

admin30/05/2019
admin30/05/2019
Haedar Nashir

Reporter: Pujoko
MENTARI.NEWS, SUKOHARJO – Ketua Umum PP Muhammadiyah Dr.H. Haedar Nashir, M.Si  menjadi pembicara dalam Pengajian Ramadhan 1440 H Pimpinan Pusat Muhammadiyah & Universitas Muhammadiyah Surakarta, Sabtu (25/5/2019) di Auditorium Djazman kampus I UMS.

 

Sebelum Ketua Umum PP Muhammadiyah menyampaikan tausiahnya, terlebih dahulu disampaikan pemaparan mengenai perkembangan UMS dalam dua tahun terakhir oleh Rektor UMS, Dr. Sofyan Anif, M.Si.

Setelah Rektor UMS menyampaikan pemaparan, dilanjutkan penjelasan perkembangan pembangunan Edutorium UMS yang berada di kawasan Edupark oleh arsitek Edutorium, M.S Priyono Nugroho, ST., M.T.

Dalam awal tausiahnya Haedar Nashir mengatakan senang dan bangga dengan telah dimulainya pembangunan Edutorium UMS yang akan digunakan untuk Muktamar Muhammadiyah 2020 sekaligus juga menjadi gedung milik UMS.

Berikut isi tausiah Haedar Nashir dalam Pengajian Ramadhan 1444 H Pimpinan Pusat Muhammadiyah & Universitas Muhammadiyah Surakarta tersebut:

Gedung megah, ramah lingkungan, modern dan berkemajuan. Baru melihat saja kita senang, bangga dan saya suka warnanya. Indah. (disambut tepuk tangan peserta pengajian)

Warga Muhammadiyah harus bersyukur bahwa ada banyak Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) memiliki kemajuan luar biasa baik fisik maupun akademik. Kemajuan yang didapat PTM-PTM tersebut merupakan proses perjalanan Muhammadiyah yang terus membangun dan kita merasa kurang terus. Tetapi insya Allah bahwa PTM dan AUM dan berbagai gerak langkah kita sesungguhnya merupakan manifestasi  dakwah amal ma’ruf nahi mungkar kita yang berjalan dalam durasi panjang lewat pergumulan jatuh bangun penuh dinamika. Dan untuk itulah sudah selayaknya warga Muhammadiyah  bersyukur kepada Allah SWT.

Atas nama PP Muhammadiyah saya berterima kasih kepada seluruh penggerak dari majelis, lembaga sampai pimpinan dan warga amal usaha termasuk UMS ini karena atas pengkhidmatan, kerja keras dari mereka itulah Muhammadiyah meraih jejak-jejak  kemajuan yang membanggakan.

Perjalanan kita masih panjang dan perjuangan kita panjang. Khusus membina umat kita, membangun akhlak, dalam makna yang luas membangun peradaban itu masih panjang, masih banyak tantangan, masih perlu terus kita bermujahadah.

Tidak usah jauh-jauh, kalau kita mau merefleksi secara ringan, kita hari ini berpuasa sudah masuk hari ke 20. Dan kalau Allah masih memberi kita usia sampai akhir Ramadhan nanti di Idul Fitri pada 5 Juli, kita bisa menghitung perjalanan usia kita, masing-masing sesuai dengan durasi usia kita, itu sudah berapa puluh kali kita berpuasa Ramadhan dalam perjalanan hidup kita. Tapi rasanya bekas puasa itu hanya itu-itu saja.  Saya juga sering berfikir seperti itu.

Dalam pendekatan sufistik bagi orang yang senang makan, puasa itu siksaaan, Bagi orang yang berilmu, puasa sering juga tidak mudah menghindar dari merasa diri paling pandai, paling diperlukan banyak orang, dst.

Banyak uraian bagaimana kita bermurokabah kepada Allah SWT, muhasabah, mujahadah, sampai pada puncaknya, maqobah Ilaallah, dimana masing-masing ada wushulnya dalam teori sufi, ada jalannya.

Kalau baca kitab Zainudin bin Ali tentang Hidayatul azkiya bagaimana kalau kita ingin wushul ilaallah, kita memperbanyak wirid, dzikir dll yang dalam syair Sunan Bonang yang jadi Tombok Ati itu ada lima hal: baca Alquran dengan artinya, sholat malam dirikanlah, berpuasa, bertemu dengan orang-orang sholeh, dzikir malam sampai lama.

Hal-hal yang kaya gini internalisasinya kaya apa? Sampai-sampai saya merefleksi diri ketika saya marah, rasanya tiap tahun volume marahnya sama saja ketika harus marah, ketika terpancing marah. Tidak mengubah tensi marah jadi dosis kecil. Betapa tidak mudah mengubah temperamen diri atau sering orang sebut sebagai karakter diri. Ya gitu-gitu aja.Tetap.

Imam Al Ghazali sampai mengkategorikan puasa dalam tiga tingkatan. Puasa yang awam, mereka yang hanya bisa puasa dari makan dan pemenuhan biologis saja selebihnya tidak. 2, Puasa yang khusus yang mereka yang puasa panca indera dari berbagai dosa. Nah, jadi puasa hati, bagaimana puasa hati dari perbuatan-perbuatan yang rendahan, kemudian memikirkan dunia secara berlebihan, yang ketiga, memikirkan sesuatu yang selain Allah. Jadi internalisasi tidak gampang. Paling aplikatif bagi kita Muhammadiyah, termasuk para mubalig Muhammadiyah, bagaimana sekarang menebarkan nilai-nilai imsak di tengah dunia medsos yang penuh aura simulakra. Dalam teorinya Jean Baudrillard, jadi simulakra adalah banyak realitas maya yang dikonstruksi yang kita anggap jadi kebenaran. Disitulah respon setiap orang jadi luar biasa di tengah dunia medsos. Lha ini tugas kita.

Kita punya proyeksi, Muhammadiyah itu ingin mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Seperti apa masyarakat islam yng sebenar-benarnya itu?

Saya sempat mengumpulkan naskah Muktamar Muhammadiyah tahun 37. Ada 10 syfat masyarakat Islam sebenar-benarnya. 1 masyarakat yang bertuhan dan beragama. Ini cerdasnya rumusan ini. Masyarakat yang bertuhan dan beragama. Ada banyak yang ingin spiritualis tanpa tuhan dan tanpa agama. Di Barat seperti itu. Seperti yang ditulis John Naismith dalam Megatrend 2000. Berpersaudaraan. Kemudian berakhlak dan beradab. Ada Akhlak dan keadaban, keadaban adalah pantulan dari  akhlak dalam bentuk etika publik. Kemudian berhukum syari, ada nilai-nilai syari yang jadi patokan kita. Berkesejahteraan, masyarakat Islam harus berkesejahteraan, tidak boleh mustadh’afin. Bermusyawarah, Muhammadiyah selalu mempraktikkannya. Lalu berikhsan, ikhsan itu kebajikan yang melampaui. Ke 8, berkemajuan, kemudian 9 berkepimpinan, 10, berketertiban, ada sosial order. Ini bagus tulisan ini. Mungkin UMS bisa mengelaborasi jadi naskah akademik pak Dahlan. Sehingga nanti ketika ditanya masyarakat Islam seperti apa? Saya coba membuka naskah itu ternyata ada walau berbentuk stensilan waktu itu.

Ini jadi amat penting ada banyak rujukan lain  yang kita pakai di Alquran Ali Imron 110, yang kebetulan masuk dalam kumpulan ayat-ayat Al Quran yang banyak dibahas oleh Kyai  Ahmad Dahlan. QS. Ali Imron ayat 114 juga dihubungkan dengan ayat 110. Khaira ummah.

Yang oleh Ibnu Katsir disebut begini, ayat ini berbicara tentang umat Muhammadiyah, umat Nabi Muhammad. Jadi ia sudah tahu kelak akan ada Muhammadiyah. Sesungguhnya mereka adalah umat terbaik. Menurut ibnu Abbas, yang dimaksud disitu, adalah manusia yang paling bermanfaat untuk orang lain. Lalu Ibnu Abbas mengaitkan ini dengan Al Baqarah 143: umat tengahan, yang juga umat adil tetapi dia punya fungsi tugas dan peran yakni menjadi saksi sejarah selalu menggoreskan tinta kebajikan dan kebaikan.