Penjelasan Rektor UMS Soal Tema Milenial dalam Gema Kampus Ramadhan 2019

admin20/05/2019

Penjelasan Rektor UMS Soal Tema Milenial dalam Gema Kampus Ramadhan 2019

admin20/05/2019
Rektor UMS.

Reporter: Pujoko
MENTARI.NEWS, SOLO – Gema Kampus Ramadhan UMS 2019 menghadirkan tema Implementasi Nilai Keislaman di Era Milenial Menuju Kampus Berkemajuan. Mengapa persoalan milenial menjadi tema GKR UMS 2019? Berikut penjelasan Rektor UMS, Dr. Sofyan Anif, M.Si.

Kita ambil tema milenial sebab berdasarkan perkembangan sejarah, termasuk perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara, kita tahu sebelum puasa ada Pilpres, ternasuk peristwa-peristwa sebelumnya, yang lebih ditekankan adalah pembentukan karakter,” kata Rektor saat ditemu mentari.news, Senin (20/5/2019).

Menurut Sofyan Anif, jika dikaji, karakter merupakan salah satu indikator orang bertaqwa. Tujuan puasa adalah taqwa, taqwa itu manifestasi dari perilaku karakter baik.

“Itu kita justifikasi karakter yang sesuai konsep taqwa, puasa membangun karakter disiplin, jujur, etos kerja, kerjasama, mandiri. Itu yang akan dibangun kalangan milenial. Kebetulan yang banyak jamaah di masjid-masjid kita itu kalangan anak muda dalam rangka usaha mereka membangun karakter berkemajuan,” kata Sofyan Anif.

Hal itu diharapkan Sofyan Anif bisa diwujudkan dalam beragam kegiatan dalam Gema Kampus Ramadhan UMS 2019 ini.

“Mulai dari I’tikaf, Sholat Taraweh dan kultus, Sahur Bersama dan Cinta Subuh dll. Termasuk melibatkan nara sumber dari luar UMS disamping dosen-dosen dari kita sendiri,” kata Rektor UMS.

Nah, Harapannya setelah selesai GKR UMS 2019 nanti, menurut Rektor bisa dilihat  perubahan perilaku generasi milenial, meskipun tidak bisa dilihat secara jangka pendek.

“Paling tidak ada generasi milenial yang sudah kita ajak untuk memiliki karakter taqwa dengan berpuasa. Jujur saja, kita tidak menutup fenomena internal UMS ada sebagian mendukung 01  sebagian mendukung 02. Tapi didalam proses perbedaan dukungan itu tidak baik. Satu sama lain saling mengejek, menjatuhkan. Itu yang harus dihindari. Karena bisa menimbulkan perpecahan internal. Setelah ramadhan ini semua dipersatukan,” ujar Rektor UMS.

Ramadhan ini menjadi momentum menyatukan pertentangan ide, perilaku yang berbeda dari antar pendukung.

“Kalau saya lihat di WA itu saya sampai wedi dewe. Kok bisa seperti itu,“ kata Rektor. (*)