Prinsip Produksi dalam Perspektif Islam

admin17/05/2019

Prinsip Produksi dalam Perspektif Islam

admin17/05/2019
Ilustrrasi

Oleh: Lukman Hakim, SE., M.Si.*

 

A. Pendahuluan

Islam merupakan agama yang sempurna yang mengatur dalam segala hal. Salah satu kesempurnaan syariat Islam ini adalah dengan mengharuskan kepada umatnya agar bekerja dan berusaha dengan jalan yang benar dan menjauhi segala hal yang dilarang oleh Allah dan rasul-Nya. Banyak usaha atau bekerja yang dapat dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup didunia dan dalam rangka beribadah kepada Allah Subhanahuwataála.

 

Islam mendorong pemeluknya untuk berusaha/ berproduksi dan menekuni aktivitas ekonomi dalam segala bentuknya seperti pertanian, peternakan, perburuan, industri, perdagangan, dan sebagainya. Islam memandang setiap amal perbuatan yang menghasilkan benda atau pelayanan yang bermanfaat bagi mausia atau yang memperindah kehidupan mereka dan menjadikannya lebih makmur dan sejahtera.

 

Bahkan Islam memberkati perbuatan duniawi ini dan memberi nilai tambah sebagai amal ibadah kepada Allah Swt..  Dan perjuangan di jalan-Nya. Dengan bekerja setiap individu dapat memenuhi hajat hidup dirinya, hajat hidup kelarganya, berbuat baik kepada kerabatnya, bahkan dapat memberikan pertolongan kepada kaum disekitarnya. Hal ini merupakan keutamaan-keutamaan yang di hargai oleh agama dan tidak bisa dilaksanakan kecuali dengan harta. Sementara itu tidak ada jalan untuk mendapatkan harta secara syariah kecuali dengan berproduksi atau bekerja. Oleh karena itu tidaklah mengherankan Al Qur’an terdapat dalam nash-nash yang mengajak berproduksi dan bekerja.

 

Pemahaman produksi dalam Islam memiliki arti sebagai bentuk usaha keras dalam pengembangan faktor-faktor sumber yang diperbolehkan secara syariah dan melipatgandakan pendapatan dengan tujuan kesejahteraan masyarakat, menopang eksistensi serta ketinggian derajat manusia (At Tariqi, 2004). Di dalam pemahaman ini juga berkait efisiensi produksi, namun tidaklah sebagaimana dalam konsep konvensional yang berkait minimalisasi input biaya termasuk input tenaga kerja. Efisiensi dalam produksi Islam lebih dikaitkan penggunaan prinsip produksi yang dibenarkan syariah.

B. Motivasi Produksi Dalam Islam

  1. Produksi merupakan pelaksanaan fungsi manusia sebagai khalifah

Seorang muslim harus menyadari bahwa diciptakan manusia termasuk dirinya adalah sebagai khalifah fil ardhi (pemimpin dibumi) yang harus mampu mengarahkan amal perbuatan manusia yang mampu menciptakan kebaikan dan kemaslahatan dimuka bumi ini. Seorang muslim meyakini apapun yang diciptakan Allah dibumi untuk kebaikan, dan apapun yang Allah berikan kepada manusia sebagai sarana untuk menyadarkan atas fungsinya sebagai pengelola bumi (khalifah). Sebagaimana firman Allah Swt. dalam surat Al Baqarah ayat 30 : “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Maka dalam rangka fungsi sebagai khalifah fil ardhi (pemimpin dibumi) dan  membawa rahmat  untuk seluruh alam salah satu usahanya  adalah mengelola bumi ini untuk memenuhi keperluan hidupnya. Demikian juga seorang muslim menyadari bahwa berbagai macam sumber daya merupakan pemberian Allah Swt.. Pemberian tersebut merupakan kepercayaan Allah terhadap umatnya, agar mereka dapat memanfaatkan secara efisien  dalam rangka memenuhi kesejahteraannya. Sebagaimana firman Allah Swt.. dalam surat  al Jatsiyah : 13 : “Dan dia menundukan untukmu apa yang ada dilangit dan apa yang ada dibumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Seungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir”.

  1. Berproduksi merupakan ibadah

Berangkat dari fungsi umat Islam sebagai khalifah fil ardhi dimuka bumi, dan pembawa rahmatan lil ‘alamiin inilah maka perlulah seorang muslim bertanggung jawab terhadap pengelolaan isi bumi dan segala isinya. Oleh karena itu proses mengelola isi bumi menjadi penting bagi seorang muslim demi tercukupi keperluan hidupnya. Berproduksi merupakan ibadah, karena suatu aktivitas seorang muslim ketika ada perintah dari Allah Swt. dan ada contoh atau persetujuan dari Rasulullah Saw. maka aktivitas tersebut termasuk kategori “ibadah”. Sebagai seorang muslim berproduksi sama artinya dengan mengaktualisasikan salah satu ilmunya Allah yang telah diberikan kepada manusia (Sudarsono, 2004 :190). Sebagaimana firman Allah Swt. Dalam surat An Naba ayat 11 : “Dan kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.” Dalam surat Al A’raf ayat 10 : “Sesungguhnya kami Telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. amat sedikitlah kamu bersyukur.”

Dasar hukum dari al Hadits, Rasulullah Saw. Bersabda : “Tidaklah sekali-kali seseorang makan makanan yang lebih baik daripada makan dari kerja tangannya sendiri, dan sesungguhnya Nabi Allah Daud juga makan dari kerja tangannya sendiri.”(H.R. Bukhari) Dalam hadits yang lain, Rasulullah Saw. Bersabda : “Sesungguhnya Zakaria alaihissalam adalah seorang tukang kayu.” (H.R. Muslim)  Dalam hadits lain juga diriwayatkan :“Dari Abu Hurairah ra. bahwa kaum Muhajirin selalu disibukan oleh pekerjaan untuk memperoleh harta mereka”.(H.R. Bukhari)

Dengan gambaran ini, kaum muslimin akan memperbaiki jiwanya dan merasa cukup dengan rizki yang diperolehnya.  Kaum Muslim merasa bahwa produksi yang dilaksanakan ini adalah ibadah kepada Allah. Dengan mediasi produksi, manusia akan berusaha membuat pakaian yang dapat meyembunyikan kejelekannya, sarana transportasi air dan media yang dapat mempermudah pelaksanaan haji dan segala jenis makanan dan minuman yang memungkinkan ia untuk melakukan ibadah dengan cara yang telah ditentukan. Oleh karena itu para ahli fikih seperti Imam As Syafi’i, Ahmad bin Hambal, Al Ghazali menganggap bahwa produksi segala jenis barang yang dibutuhkan merupakan bagian fardhu kifayah mengingat kemaslahatan manusia hanya dapat dicapai dengan peran produksi tersebut.

  1. Produksi sebagai sarana pencapaian akherat

Allah Swt.. Telah menundukan bumi untuk kesejahteraan manusia. Dia melengkapi manusia dengan potensi penglihatan, pendengaran dan kemampuan berpikir yang membantu mereka untuk mengambil kemanfaatan didunia ini. Sebagainan firman Allah Swt. dalam surat Luqman ayat 20 : “Tidakkah kamu perhatikan Sesungguhnya Allah Telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.”

Allah Swt. Telah menundukan segala yang ada dilangit dan dibumi, semua yang ada didarat dan semua yang terdapat di laut untuk keperluan manusia. Demikian juga Allah Swt.. Menurunkan hujan, menundukan matahari, bulan, awan yang membawa titik-titik air dan mengisi samudra dan sungai untuk membantu manusia. Proses ini ditujukan untuk membantu manusia dalam berproduksi. Firman Allah Swt.. Dalam surat Nuh ayat 10-11 : “Maka Aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya dia adalah Maha Pengampun-, Niscaya dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat”. Penundukan ini merupakan ekses dari karakter berbeda yang ada dalam diri manusia. Ada manusia yang kuat dan ada yang lemah, yang pandai dan ada juga yang bodoh, serta berwajah cantik atau buruk. Setiap diri mereka dibekali potensi ciptaan Allah. Allah juga telah membekali manusia dengan insting berusaha dan semangat memakmurkan bumi. Insting ini menjadi petunjuk bagi penjelejahan ke penjuru dunia untuk membuka tabir dan menukna rahasia-rahasia ciptaan Allah dan kermudian memanfaatkannya. Output yang dihasikan oleh tiga esensi tersebut mendorong manusia untuk bekerja, berproduksi dan membelanjakan harta.

 

C. Prinsip Produksi Dalam Islam

Ada beberapa prinsip yang bisa diterapkan dalam berproduksi menurut Islam, antara lain:

  1. Berdasar Keimanan

Aktivitas produksi yang dijalankan seorang pengusaha muslim terikat dengan motivasi keimanan atau keyakinan positif, yaitu  semata mata untuk mendapatkan ridha Allah Swt., dan balasan dinegeri akherat. Sehingga dengan motivasi atau keyakinan positif tersebut  maka prinsip kejujuran, amanah, kebersamaan dijunjung tinggi. Prinsip-prinsip tersebut menolak prinsip individualis (mementingkan diri sendiri), curang, khianat yang sering dipakai oleh pengusaha yang tidak memiliki motivasi atau keyakinan positif.  Sebagaimana firman Allah Swt. dalam surat Az Zukhruf ayat 32 : “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? kami Telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami Telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

Hal ini menunjukan bahwa tujuan seorang pengusaha muslim tidak semata-mata mencari keuntungan maksimum, tetapi puas terhadap pencapaian tingkat keuntungan yang wajar (layak). Karena tingkat keuntungan dalam berproduksi bukan lahir dari aktivitas yang curang, menipu tetapi keuntungan tersebut suah merupakan ketentuan dari Allah Swt. Sehingga keuntungan seorang pengusaha muslim di dalam berproduksi dicapai dengan menggunakan atau mengamalkan prinsip-prinsip Islam sehingga Allah Swt. ridha terhadap aktivitasnya.

 

  1. Berdasarkan azas maslahat

Seorang muslim dalam menjalankan proses produksinya tidak semata mencari keuntungan maksimum untuk menumpuk aset kekayaan. Berproduksi bukan semata-mata karena profit ekonomis yang diperolehnya, tetapi juga seberapa penting manfaat keuntungan tersebut atau kemaslahatan masyarakat. Sebagaimana firman Allah dalam surat Az Zariyat : 19: “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian”. Juga terdapat dalam surat Al Ma’arij ayat 24-25 : “ Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu Bagi orang miskin yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)”. Pemilik dan manajer perusahaan Islami juga menjadikan obyek utama proses produksi sebagai ”memperbesar sedekah”. Tentang obyek ini tidak perlu harus punya arti ekonomi seperti dalam sistem ekonomi pasar bebas. Dalam masyarakat yang percaya bahwa pengeluaran untuk sedekah merupakan sarana untuk memuaskan keinginan Tuhan, dan akan mendatangkan keberuntungan terhadap perusahaan, seperti meningkatnya permintaan atas produksinya.

 

  1. Wujud usaha optimal kemampuan akalnya

Seorang muslim harus menggunakan kemampuan akal fikirannya (kecerdasannya), profesionalitas didalam mengelola sumber daya. Oleh karena faktor produksi yang digunakan untuk menyelenggarakan proses produksi sifatnya tidak terbatas, manusia perlu berusaha mengoptimalkan kemampuan yang telah Allah berikan. Sebagaiman firman Allah Swt. dalam Al Qur’an surat Ar-Rahman : 33, yaitu : “Hai Jin dan manusia jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintaslah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan”. Beberapa ahli tafsir menafsirkan “kekuatan” dengan akal fikiran. Demikian pula ketika berproduksi seorang pengusaha muslim tidak perlu pesimis, bahwa Allah Swt. tidak akan memberikan rizki kepadanya, karena bagi orang yang beriman maka Allah-lah penjamin rizkinya.

 

  1. Adanya sikap tawazun (keberimbangan)

Produksi dalam Islam juga mensyaratkan adanya sikap tawazun (keberimbangan) antara dua kepentingan, yakni kepentingan umum dan kepentingan khusus (Abdullah Abdul Husein, 2004). Produksi dapat menjadi haram jika barang yang dihasilkan ternyata hanya akan mendatangkan dampak membahayakan masyarakat mengingat adanya pihak-pihak yang dirugikan dari kehadiran produk, baik berupa barang ataupun jasa. Produk-produk dalam kategori ini hanya memberikan dampak ketidak seimbangan dan kegoncangan bagi aktivitas ekonomi secara umum. Akibatnya, misi rahmatan lil ‘alamiin ekonomi Islam tidak tercapai.

 

  1. Harus optimis

Seorang produsen muslim yakin bahwa apapun yang diusahakannya sesuai dengan ajaran Islam tidak membuat hidupnya menjadi kesulitan. Allah Swt.telah menjamin rizkinya dan telah menyediakan keperluan hidup seluruh mahlukNya termasuk manusia. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Mulk ayat 15 : “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah disegala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”. Demikian juga firman Allah Swt.. Dalam surat Al Hijr  ayat 19-20 : “Dan kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) mahluk-mahluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezkei kepadanya”. Juga dalam surat Huud ayat  6 : “Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfudz)”.

 

  1. Menghindari praktek produksi yang haram

Seorang produsen muslim menghindari praktek produksi yang mengandung unsur haram atau riba, pasar gelap dan spekulasi sebagaimana firman Allah dalam surat Al Maidah : 90 : “Hai orang-orang beriman sesungguhnya khamr, judi, berkorban untuk berhala dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keuntungan”. Dalam surat Ali Imron 130, Allah Swt.. Berfirman tentang larangan riba :“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu makan riba yang berlipat ganda, Dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu berbahagia”.

D. Penutup

Demikian sekilas prinsip produksi dalam perspektif Ekonomi Islam. Mengenai teknologi produksi sebagaimana disabdakan oleh Rasululloh SAW, maka diserahkan kepada ahlinya. Sedangkan prinsip-prinsip produksi semestinya sesuai dengan ketentuan Allah SWT yang maha menciptakan alam semesta dan yang akan memintai pertanggungjawaban kita di akhirat kelak. Produksi di bidang makanan dan minuman tentunya harus halal dan thayyib. Halal dalam arti tidak haram dimakan manusia, dan thayyib dapat diartikan berkualitas, bergizi, dan higienis serta tidak menimbulkan efek negatif bagi tubuh manusia dan lingkungan.  Adapun produksi di bidang bahan-bahan peralatan perang dan industry strategis, semestinya dikuasi oleh Negara dan digunakan untuk keamanan dan kemakmuran rakyatnya.

Jika negeri ini menerapkan konsep produksi yang sesuai dengan tuntunan Islam, insya Allah negeri ini akan menjadi negeri yang disegani karena mandiri, aman dan makmur. [ ]

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Abdul Husein at Tariqi (2004), Ekonomi Islam, prisip Dasar, dan Tujuan, Magistra Insania Press, Jakarta

Abdullah Al Mushlih & Shalah as Shawi (2004), Fikih Ekonomi Keuangan Islam, Darul Haq, Jakarta

Ibnu Qudamah Al Maqdhisi, Abdurrahman bin Muhammad (1995), Minhajul Qashidin, Jalan Orang-orang yang Mendapat Petunjuk, terjemah Kathur Suhardi, Pustaka Al kautsar, Jakarta

Ibnu Taimiyah (2005), Majmuatul fatawa, terjemah Ahmad Syaikhu, Daarul haq, Jakarta

Imam Al Mawardi (2006), Al Ahkam as Sulthaniyyah, terjemah Fadhli Bahri, PT Darul Falah, Jakarta

Jaribah Bin Ahmad Al Harits (2008), Fikih Ekonomi Umar Bin Al Khattab, Pustaka Kahlifa (Al Kautsar Group) Jakarta

Muhammad Abdul Azis Al Halawi (1999), Fatwa dan Ijtihad Umar bin Khattab, terjemahah Wasmukan, Zubeir Suryadi Abdullah, Penerbit Risalah Gusti, Surabaya

Muhammad Umer Chapra (1997), Al Qur’an Menuju Sistem Moneter yang Adil, (terjemahan), Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Prima Yasa,.

Muhammad Zakariyya al Kandhalawi (2005), Himpunan Fadhilah Sedekah, As Shaff, Yogyakarta

Quraish Shihab (1995), Membumikan Al Qur’an, Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat, Penerbit Mizan, Bandung

Raghib As Sirjani ( 2009), Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia, Penerbit Al Kautsar, Jakarta

Sa’id Sa’ad Marthon (2007), Ekonomi Islam, Di Tengah Krisis Ekonomi Global, Penerbit Zikrul Hakim, Jakarta Timur

 

 

*Penulis adalah anggota Pusat Studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta.