Quick Count

03/05/2019

Quick Count

03/05/2019
Quick Count

Oleh: Wahyudi Nasution*

Jam 6.30 pagi, warung masih sepi, baru ada dua mobil plat H dan AB di parkiran. Sasa pun belum tampak bertugas. Aku langsung duduk di meja favoritku, meja yang berada tepat di depan meja tempat Kang Panut meracik soto sekaligus sebagai kasir pelayanan pembayaran. Memang dari dulu aku suka duduk di sana karena sangat strategis bisa melihat semua pengunjung. Mana tahu ada tetangga, teman, atau kenalan yang bisa kutraktir, atau bila sedang beruntung justru aku yang ditraktir. Dari tempat itu juga, aku suka memperhatikan cara Kang Panut menghitung pembayaran tanpa memggunakan kalkulator, alias mencongak, teknik hitung cepat yang diajarkan waktu SD. Kadang Kang Panut tampak pakai menulis di buku tulis, seolah-olah menulis angka-angka dan menjumlahnya, tapi sesungguhnya cuma akting. Lha wong belum menjumlah kok sudah bisa menyebut angka yang harus dibayar konsumen. Pasti hanya kasir cerdas yang melakukannya.

“Soto dua, teh dua, kepala satu, dada-menthok satu, perkedel dua, tempe empat,” kata pembeli sambil membuka dompetnya.

“Seket, Mas.”

“Eh, tambah karak 6, Pak ” kata pembeli lagi.

“Nggih, Mas, seket mawon,” jawab Kang Panut tanpa memandang pelanggannya sambil tangannya tetap asyik mengisi mangkok-mangkok di depannya.

Di waktu yang lain, salah satu dari rombongan gowes menuju kasir, “Sampun, Pak.”

“Nggih, Mas. Tambah apa saja?” tanya Kang Panut.

” Soto enam belas, teh panas enam, es-teh sepuluh, tahu sepuluh, tempe dua belas, karak tiga puluh lima,” kata pegowes mewakili teman-temannya.

“Nggih, Mas, dua ratus mawon.”

Sering kulihat orang senyum-senyum setelah mambayar makanan, mungkin merasa murah sekali. Kadang juga ada ibu-ibu yang cemberut, mungkin merasa kemahalan dan menganggap mencongak Kang Panut asal-asalan.

Aku jadi teringat, Sasa pernah cerita tentang Kang Panut yang dalam bisnisnya menganut prinsip tuna sathak bathi sanak. Laba sedikit atau bahkan rugi pun gak masalah, yang penting teman dan pelanggannya banyak. “Jangan sampai ada pelanggan kapok makan di sini,” begitu pesan Kang Panut pada semua karyawannya, termasuk Sasa yang bertugas mengatur parkir. Logika Kang Panut sederhana, tetapi cukup jitu sebagai kiat bisnis. Bila pelanggannya banyak, orang jualan apapun pasti tidak akan rugi. “Dan jangan pelit pada pelanggan agar pelanggan tidak pelit pada kita,” pesan Kang Panut di waktu lain.

Dengan naluri dan prinsip bisnis yang diterapkannya itulah soto Kartongali bisa berkembang pesat dan banyak pelanggannya hingga kini. Mereka tuman karena memang sotonya bukan hanya enak di lidah dan nyaman di perut, tapi juga bikin gobyos dan gedhek-gedhek karena murah harganya.

“Tapi itu kan cuma urusan jualan soto, Om. Punya Kang Panut sendiri. Kalau salah hitungan, yang rugi juga cuma Kang Panut atau hanya satu-dua pembeli yang merasa dirugikan,” kata Sasa.

“Maksudmu?,” tanyaku.

“Lha kalau hitungan ratusan juta suara hasil Pilpres dan Pemilu, lha kok cuma ngandalkan mencongak, ya pasti awur-awuran to, Om? Beresiko tinggi. Bisa kacau, bisa bikin rakyat protes, atau malah gegeran.”

Jindul tenan. Ternyata Sasa menghubungkan mencongak ala Kang Panut tadi dengan    quick-count lembaga-lembaga survey Pemilu/Pilpres yang konon sangat ilmiah. “Tapi benar juga Sasa,” pikirku, “Nyatanya memang hasil QC justru meresahkan masyarakat sehingga dilarang tayang di tivi.”

“Menurut Sampeyan, kenapa lembaga-lembaga ahlul-mencongak itu seperti berlomba mengumumkan hasil hitungannya?”

“Apa ya, Sa? Gak tahu aku.”

“Menggiring hati dan pikiran rakyat, Om.”

“Maksudmu?”

“Inilah politik, bukan jualan soto.”

“Lha iya. Tapi apa maksudmu menggiring hati dan pikiran rakyat tadi?”

“Ya ini cuma dugaanku lho, Om. Mungkin salah.”

“Iya, tolong jelaskan apa maksudmu.”

“Ada orang pintar, baik, dan jujur. Ada orang pintar, tapi tidak baik dan tidak jujur.”

 “Iya tahu….”

“Ada orang pintar yang menggunakan kepintarannya untuk berbuat kebaikan bagi masyarakat dan lingkungannya. Tapi juga banyak orang pintar yang menjual kepintarannya justru untuk membantu kejahatan.”

“Wah kok jadi mbulet omonganmu, Sa.”

“Makanya jangan mudah percaya pada orang yang kelihatan pintar, Om. Wah kalau omong di tivi koyo yak-yako, seakan-akan paling pintar agar penonton percaya. Padahal sesungguhnya hanya tukang sihir, Om.”

“Tukang sihir piye?”

“Ya menyihir rakyat agar percaya siapa pemenangnya. Namanya juga sihir, Om, maunya pemenang sesuai maunya si tukang sihir atau para botoh pengguna jasanya.”

Tak terasa pagi sudah beranjak siang, hampir pukul 8.00. Aku harus pulang membuka pintu rumah. Pasti karyawan Bunda Collection sudah pada datang dan belum bisa masuk ke workshop.

“Bali sik yho, Sa,” aku pun beegegas pamit ke sahabatku. Tanpa menunggu jawaban Sasa, langsung kutancap gas supaya cepat sampai di rumah.

#serialsasa

 

 

*Penulis adalah anggota Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah