Ramadhan dan Evaluasi Kepasrahan

06/05/2019

Ramadhan dan Evaluasi Kepasrahan

06/05/2019
Ilustrasi Puasa

By : Arief Budiman

Seperti halnya menunaikan rukun Islam lainya, beberapa teman saya menunaikan ibadah puasa ada yang tekun, ada yang puasa kendang ( hanya puasa di awal ramadhan dan tanggal akhir menjelang Iedul Fitri).
Bahkan ada yang sama sekali tidak berpuasa. Alasanya macam-macam. Ada yang mengaku tak kuat menahan haus, ada yang mengaku sakit maagh. Padahal teman ini shalatnya rajin. Lima waktu tak pernah ketinggalan. Tapi giliran wajib berpuasa di bulan Ramadhan, ia mengaku angkat tangan. Jam 4 pagi ia ikut sahur bersama keluarga. Siang makan di warung. Saat bedug magrib ia ikut berbuka.

Sebaliknya, ada teman yang tinggal di Banjarmasin, ia menjalani puasa Ramadhan full 1 bulan penuh, namun shalatnya tidak lengkap alias sering lalai, kecuali hari jumat.

Di Kota Sampit, ada teman yang sudah 6 tahun menjalankan puasa di bulan Ramadhan. Masih disambung puasa 6 hari di bulan syawal. Di luar Ramadhan ia rutin puasa Senin-Kamis. Namun teman saya ini sama sekali belum bersedia menjalankan shalat, termasuk shalat jumat.

Berpuasa dan ibadah wajib lainya, adalah rukun Islam yang telah ditetapkan serta diwajibkan bagi pemeluknya. Berat-ringan suatu ibadah tergantung keimanan masing-masing.
Ada yang sebenarnya mendapat ruhsoh ( keringanan, boleh tidak berpuasa) namun tetap menjalankanya meskipun ia sebagai pekerja bangunan. Kerja keras bukan halangan untuk berpuasa, begitu alasanya.

Namun disisi lain, ada yang membatalkan puasa karena mengaku sebagai musafir. Ia bepergian meskipun jarak yang ditempuh tidak jauh serta menggunakan mobil ber ac. Agar ada alasan untuk tidak berpuasa, maka ia mengaku sebagai musafir.

Di Indonesia durasi berpuasa sekitar 15 jam. Sementara saudara kita yang tinggal di belahan dunia lainya, mereka bisa menjalani puasa hingga 20 jam lebih. Mereka tetap taat menjalankanya tanpa mengeluh atau merasa menjadi beban.

Ibadah puasa adalah ibadah yang sangat istimewa. Hanya diri sendiri dan Allah yang tau apakah ia berpuasa secara benar dan sesuai tuntunan atau tidak. Atau apakah ia hanya mendapat lapar dan dahaga saja. Atau memang ia puasa lahir batin. Hanya diri sendiri dan Allah yang mengetahui.
Karena ibadah puasa ini sangat istimewa, maka hadiahnya pun istimewa. Itu akan diberikan kepada mereka yang menunaikan ibadah puasa secara sungguh-sungguh, yaitu bertambahnya ketaqwaan kepada Allah SWT.

Jika kita pelajari, sebenarnya berat atau ringan seseorang dalam menjalankan perintah Allah dan Rasul terletak pada tingkat kepasrahan. Disinilah sebenarnya kita bisa membaca berapa persen jiwa raga kita, diserahkan kepada Nya. Kita bisa mengukur itu.

Karena itu perlu kiranya kita meluangkan waktu untuk mengevaluasi tingkat kepasrahan tersebut. Perlu menyisihkan waktu di tengah kesibukan yang kadang memperbudak.
Dan pada bulan Ramadhan ini adalah waktu yang tepat untuk mengevaluasi menuju tingkat pasrah yang lebih total kepada Nya.