Susu Tetangga

admin26/05/2019

Susu Tetangga

admin26/05/2019
ilustrasi-01

Oleh: Yohanes Nasution*

Jinguk tenan Sasa. Kali ini guyonannya ekstrim banget. Radikal. Jorok. Guyonan semacam ini perlu diwaspadai, karena bisa dianggap mengancam persatuan dan kesatuan, tidak pro-NKRI. Bisa kena pasal menyebarkan kebencian. Wah gawat. Aku harus hati-hati ngobrol dengannya. Tidak boleh terpancing biar selamat.

“Jaman sekarang memang aneh ya, Om,” kata Sasa menyambutku di parkiran tadi pagi.

“Aneh bagaimana? Ayo kita duduk dulu di dalam. Sekali-sekali kita nyoto bareng, Sa,” Sasa pun nurut, mengikutiku masuk ke ruang dekat dapur yang lebih sepi. Dalam tempo singkat, dua mengkok soto dan dua gelas teh nasgithel telah tersaji di meja kami. Harus kuakui, meski warung ini tradisional, tapi pelayanannya cepat dan profesional. Sayang sekali, dalam kategori bisnis kuliner, istilah fast-food hanya untuk jenis makanan impor. Sasa menyebutnya ‘panganan Londo’. Soto Kartongali tidak termasuk.

Sambil menyantap soto, kuulangi lagi pertanyaanku tadi, “Sing aneh opo, Sa?”

“Begini, Om. Kita ini dari dulu kok cuma diiming-imingi, dipameri, disuguhi susu tetangga, ya.”

“Apa? Susu tetangga? Wahh…tenane, Sa? Asyik itu….”

“Asyik apanya? Lha wong cuma dipameri thok, je…..”

“Maksudnya?”

“Ya namanya susu tetangga, Om, meski tampaknya montok, ranum-ranum, empuk, menthul-menthul, tapi gak bisa kita pegang. Cuma bisa nyawang thok.”

“Gak boleh dipegang-pegang ya, Sa?”

“Jelas gak boleh, Om. Edan, po?”

“Ya sudah gak usah disawang, Sa. Biar saja dibuka-buka, digleh-glehke, diumbar-umbar di depan mata. Nanti dia juga capek sendiri kalau kita cuekin….”

“Eman-eman, Om. Lumayan masih bisa nyawang…”

“Nyawang sambil ngeleg ludah? Mesakke…..”

” Tapi masih mending susu tetangga daripada…..”

“Daripada apa?”

“Daripada janji-janji para politisi yang empuk-eyup setiap musim kampanye, yang akan nurunkan harga-harga sembako, akan nurunkan biaya pendidikan, pajak listrik, bbm, biaya kesehatan, dan sebagainya.”

“Sik to, Sa, kamu ini ngomong susu tetangga kok tekan janji politisi?”

“Lah apa bedanya, Om?”

“Ya beda….”

“Sama saja.”

“Kok sama?”

“Ya kan sama-sama gak bisa dipegang to, Om? Apa Sampeyan berani pegang susu tetangga? Tidak, kan? Takut kena pasal pelecehan seksual, kan?”

“Ya jelas, Sa. Ngapain lihat-lihat punyanya tetangga? Tiwas ngelu ndase, Sa. Makanya haram, Sa.”

“Janji politik juga begitu.”

“Begitu, piye?”

“Ada sekian banyak janji waktu kampanye dulu. Coba mana yang sudah dilaksanakan? Gak bisa dipegang, Om.”

“Aku juga gak hafal janji-janji kampanye, Sa. Sudah lupa semua. Jadi gak ngeh juga apa yang sudah dilaksanakan dan yang belum.”

“Ya itu masalahnya.”

“Maksudmu?”

“Karena orang gampang lupa, makanya negara gak maju-maju. Dipameri susu tetangga saja wis dho mbanyaki, kesenengen. Apalagi ditambahi amplop nyeket ewu, langsung semrinthil, klepek-klepek. Terus lupa segalannya. Diapusi terus kok dho seneng. Jiaannn…..”

Soto di mangkok sudah tandas. Teh nasgithel juga sudah habis. Rokok sebatang pun hampir tuntas. Saatnya Sasa harus kembali ke tepi jalan melaksanakan kewajibannya sebagai warga negara Soto Karto Ngali. Tak perlu lagi kulayani omongannya yang mulai ngkantur seperti orang ngomyang.

“Wis yho, Sa, kapan-kapan dilanjut ngobrolnya. Aku mau pulang dulu.”

“Nggih, Om. Matur nuwun sudah ditraktir sarapan….”

“Aku sing matur nuwun, kali ini Sasa mau nemani makan. Sudah sana kerja lagi.”

“Siap, Ndan,” jawab Sasa dan langsung berlari sambil masang sempritan di bibirnya.

Aku pun menuju kasir, antri. Lagi-lagi kunikmati cara hitung quick-count ala Kang Panut dan respon pembeli yang beda-beda.

#serialsasa

 

Penulis: Anggota Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah.