Ustadz Arifin Ilham dan Kenangan Pagi itu

admin23/05/2019

Ustadz Arifin Ilham dan Kenangan Pagi itu

admin23/05/2019
Arifin Ilham

By Arief Budiman

 

Innalillahi wa inna ilahi roojiuun. Semua yang dari Allah SWT pasti akan kembali jua kepada Nya. Tanggal 23 Mei ini bertepatan dengan 17 Ramadhan 1440 Hijriah, Ustad yang lembut, sejuk, dan kharismatik, Muhammad Arifin Ilham, menghadap Ilahi robbi. Rakyat Indonesia berduka cita mendalam. Salah satu ulama muda keturunan syeh Banjar, kelahiran Banjarmasin 49 tahun lalu,  telah dipanggil menghadap dzat yang menghidupkan dan yang mematikan untuk mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatan selama di dunia. Semoga beliau Khusnul khotimah.

 

Suatu waktu, pertengahan Nopember 2018, pukul 03.00 dinihari, sampailah saya di masjid Az Zikra yang megah di Bogor. Di tengah rerimbunan pohon halaman belakang masjid, seorang ibu bermukena putih berjalan gesit sendirian dari rumah tidak jauh masjid. Kami mencegat langkahnya. Kemudian saling memperkenalkan diri. Beliau menyebut nama Hajjah Nurhayati, ibunda Ustadz Arifin Ilham. Tinggalnya di Banjarmasin namun sudah beberapa hari ini berada di Bogor. “Ustadz lagi sakit, maka saya datang menunggui sampai beliau sembuh,” kata ibu Hajah Nuriyati sambil membimbing saya dan istri menuju lift untuk naik ke lantai 2.

 

Sampai di ruang atas saya berjalan ke arah kanan menuju tempat shalat untuk laki-laki. Sementara istri  bersama Hj. Nurhayati memasuki ruang jamaah putri yang bersekat.

 

Adzan Subuh berkumandang. Beberapa santri Az Zikra mulai berdatangan dari tempat asrama tidak jauh dari masjid. Saya lihat beberapa santri kecil kelas SMP yang tidur di sudut masjid berselimut sarung,  juga mulai menggeliat kemudian bangun menuju tempat berwudhu.

 

Setelah shalat Tahiyatul Masjid dan Sunnah Fajar saya bergeser duduk di shaf depan di atas karpet tebal dibalut sejuknya udara pagi. Tak beberapa lama, lelaki tengah baya memakai surban dan gamis putih berjalan menuju tempat imam. Saya sempat mencuri pandang. Wajahnya saya tidak kenal. Yang jelas bukan Ustadz Arifin Ilham. Saya semakin yakin, beliau dalam kondisi fisik yang kurang sehat.

 

Sesaat kemudian Iqomah dilantunkan. Jamaah merapatkan barisan. Shalat subuhpun dimulai. Setelah membaca Al Fatehah, Imam melantunkan ayat-ayat suci Al Quran dengan begitu merdu. Suaranya menggema memenuhi ruang masjid yang luas melalui sound system yang sangat bersih, sehingga detail mahrojnya juga terdengar fasih.

 

Setelah selesai shalat, tak beberapa lama, saya mundur ke shaf belakang. Wajah yang tak asing sedang duduk sambil berdoa. Berkopyah putih bergamis bersih. Saya mendekatinya. Beliau memandang dengan senyum hangat. Biarpun dalam kondisi sakit namun Ustadz Arifin Ilham tetap mengutamakan shalat subuh berjamaah.  Saya memperkenalkan diri kemudian mencium tangan kanannya.

 

Tanggal 10 januari 2019, Ustadz Arifin Ilham diterbangkan ke Penang Malaysia untuk menjalani perawatan karena kanker kelenjar getah bening. Saat dirawat beliau sempat dijenguk tokoh-tokoh penting Indonesia. Beliau sempat menulis puisi tentang perpisahan yang menghebohkan media massa. Semua muslimin berdoa untuk kesembuhannya. Namun takdir telah memilihkan jalannya.

 

Sekarang beliau sudah bertemu dengan dzat yang ia rindukan,  Allah Ajja Wajjalla dengan membawa bekal dan amal saleh yang sudah dipersiapkan selama beliau hidup.

 

Keranda warna hijau bertuliskan syahadatain membawa jenazah beliau ke alam barzah. Gema dzikir bersahutan memadati jalanan menuju pusara.

 

Di ruang saya mengetik ini, sebuah ayat suci terdengar : “ Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepda Tuhanmu dengan hati puas lagi diridhai.” QS : Al Fajr 27 : 28.

 

Apabila orang saleh mati, ia akan dikenang dengan kebaikanya dan didoakan sepanjang masa. Sebaliknya, apabila orang jahat mati, akan diingat keburukanya serta dicemooh oleh semua makhluk baik di dunia maupun di akherat.