Badan

admin09/06/2019

Badan

admin09/06/2019
salaman

Oleh: Yohanes Nasution*

“Om, atur sungkem taklim, sugeng riyaya Idul Fitri, sedaya lepat kula nyuwun pangapunten,” kata Sasa sambil menyalamiku dengan takzim tadi sore.

“Hiyo podho-podho, Sa. Salahku akeh banget neng awakmu. Aku yho njaluk pangapuramu. Mugo-mugo dosa awake dhewe dingapura dening Gusti Allah. Aamiin….,” jawabku dengan susunan kata sebisaku.

Sebenarnya sangat tidak enak menerima kunjungan dan badan atau ucapan lebaran dari sahabatku tadi. Usia Sasa lebih tua dariku, maka mestinya aku yang sowan ke rumahnya untuk menghaturkan permohonan maaf kepadanya. Syukur-syukur bisa membawakan buah tangan untuk keluarganya. Beda soal kalau, misalnya, Sasa masih terhitung kerabatku dan awu atau garis nasabnya lebih muda dariku. Maka dia yang harus sowan, sebagaimana banyak ponakan-ponakanku yang datang berlebaran ke rumahku meski usianya lebih tua. Begitulah budaya kami, budaya wong Jowo di pedesaan yang masih setia dengan tradisi.  Sasa sama sekali tidak ada kaitan kerabat denganku. Kami hanya sahabat, teman glenak-glenik dan rerasan tentang berbagai hal. Itu pun aku lebih banyak berposisi sebagai ember penampung limbah dari kegelisahannya yang sering menggumpal. Lha kok dia yang datang ke rumahku. Sungguh tidak enak rasanya.

“Sa, mestinya aku yang ke rumahmu, tapi betul-betul memang belum sempat karena masih banyak tamu,” kataku sambil mempersilakan Sasa minum kopi dan mencicipi kue di depannya.

“Gak apa-apa, Om. Ndelalah waktuku memang longgar, maka aku yang sowan ke sini,” jawabnya sambil tangannya bersiap menyulut rokok.

Sambil menikmati kopi sore, kami mulai ngobrol ngalor-ngidul tentang berbagai hal yang ringan-ringan. Sasa bercerita tentang puasanya yang tahun ini bisa full 30 hari tanpa bolong, tentang sholat tarawih di mesjid kampungnya yang tetap ramai sejak awal hingga akhir Ramadhan, tentang anak-anak yang rajin tadarus setiap bakda tarawih, tentang sholat Ied di lapangan yang bacaan imamnya sangat bagus dan khotibnya tidak nyinggung politik sama-sekali, tentang jalan Boyolali-Jatinom-Klaten yang padat merayap sejak 3 hari sebelum lebaran, dan sebagainya.

Kami sedang asyik ngobrol, tiba-tiba datang ponakanku yang biasa dipanggil ustadz Wildan karena sering ngisi pengajian di kampung-kampung, pintar qiroah dan muazin utama di Mesjid Agung.

“Assalaamu’alaikum….,” Wildan mengucap salam dan kami jawab “Wa’alaukumasalam.”

“Dari mana, Wil?,” tanyaku.

“Dari rumah, Om. Tadi kulihat Pak Sasa lewat depan rumah, kupikir pasti mau ke sini. Makanya aku ke sini pengin ikut ngobrol, Om,” jawab Wildan.

“Wah kebetulan ada ustaz ini. Nderek tepang, saya Sasa tukang parkir Soto Kartongali,” Sasa mencoba memperkenalkan diri.

“Njih, Pak Sasa. Siap. Saya sudah kenal Njenengan kok, si juru parkir teladan Nasional dari Jolotundo. Ngaturaken Sugeng Riyadi, sedaya lepat nyuwun pangapunten.”

“Njih sami-sami….tapi Ustadz mbok jangan ngece, to.”

“Bukan ngece, Pak Sasa. Memang Njenengan pantas mendapatkan gelar itu. Saya ini sudah biasa bepergian ke berbagai kota, sudah ketemu banyak sekali juru parkir, tapi belum ada yang profesional seperti Sampeyan. Iya to, Om?,” Wildan minta persetujuanku.

“Profesional bagaimana, Ustadz? Lha wong saya ini ya cuma bekerja, ngibadah, melakukan yang seharusnya saya lakukan sebagai tukang parkir, memberi aba-aba supaya orang bisa markir kendaraan dengan rapi dan nyaman.”

“Lha ya itu kelebihan Pak Sasa.”

“Kok kelebihan?”

“Pak Sasa bekerja dengan hati yang tulus dan total membantu orang mau parkir atau keluar dari parkiran. Profesional. Bahkan orang-orang bilang Pak Sasa tidak mata-duitan, tidak butuh duit, karena kadang menolak dikasih uang parkir.”

“Wah mbok jangan gitu to, Ustaz. Saya masih butuh duit, kok. Makanya bekerja tiap hari.”

“Pak Sasa, semua orang memang butuh duit. Tapi banyak orang yang bekerjanya tidak sungguh-sungguh dan tidak jujur. Tidak profesional. Banyak orang hanya mencari duit, tapi tidak serius kerjanya. Tidak tulus dan terkesan tidak ikhlas. Bahkan karena sedemikian penginnya cepat kaya, pengin cepat punya harta banyak, dia berani mengambil yang bukan haknya.”

“Berani mencuri ya, Ustaz?”

“Ya mencuri, merampok, atau korupsi. Karena apa, Pak Sasa? Karena orang tidak punya lagi sifat jujur dan ikhlas. Puasa Ramadhan kita sebenarnya untuk melatih jujur dan ikhlas itu. Coba kalau kita tidak jujur dan tidak ikhlas, bisa saja kita sembunyi di kamar agar tidak ada orang melihat kita makan minum atau merokok. Iya to, Pak Sasa? Tapi sayangnya setelah Ramadhan kita tidak kuat untuk istiqamah.”

“Iya bener itu, Ustaz. Jan-jane puasa itu memang berat kok, ya.”

“Memang berat, Pak Sasa. Makanya setelah Lebaran orang jadi merasa sudah bebas lagi melakukan apa saja, bahkan berani melakukan sesuatu yang jelas dilarang.”

“Wah alhamdulillaah, Om, beruntung sekali sowanku ke sini sore ini bisa dapat ilmu dari Ustadz Wildan. Matur nuwun ya, Ustaz. Kapan-kapan kalau Njenengan pas nyoto, saya mau ngaji lagi.”

Obrolan sore pun kami akhiri karena Wildan mau adzan maghrib. Sasa pamit pulang juga karena harus bertugas menjadi imam maghrib di masjid kampungnya. Donga-dinonga yho, Sa….

 

#serialsasa

______________________________________________________

 

*Penuils adalah Anggota Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah