Bawang Putih Fermentasi sebagai Tablet Black Garlic dari Tim PKM Farmasi UMS

Pujoko22/06/2019

Bawang Putih Fermentasi sebagai Tablet Black Garlic dari Tim PKM Farmasi UMS

Pujoko22/06/2019
Tim PKM Fakultas Farmasi UMS.

Reporter: Pujoko
MENTARI.NEWS, SOLO – Dewasa ini, semakin banyak masyarakat di Indonesia yang mengalami penyakit tekanan darah tinggi, kolesterol, dan maag. Penyakit tersebut terjadi dengan penyebab dan gejala tertentu, tergantung dari kondisi masing-masing orang.

Sudah banyak obat yang beredar untuk mengobati sejumlah penyakit itu. Tetapi, obat tersebut banyak mengandung bahan kimia yang dapat memberikan efek samping tidak baik jika digunakan dalam waktu lama. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan obat alternatif dari bahan alami.

Salah satu kelompok Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) dari Universitas Muhammadiyah Surakarta yang tengah berusaha lolos PIMNAS 2019 di Bali melakukan penelitian berjudul “Optimasi Formula Sediaan Tablet Black Garlic Kombinasi Zat Pengisi Laktosa Dan Manitol Dengan Simplex Lattice Design.”

Mereka adalah tiga mahasiswa Fakultas Farmasi UMS yaitu Aida Widyastuti sebagai ketua tim, dan Syifa Salsabila dan Muhamad Rifky Firdaus sebagai anggota serta dibimbing oleh dosen Suprapto, S.Si., M.Sc. Penelitian mengenai Tablet Black Garlic ini merupakan salah satu PKM bidang penelitian dari UMS yang telah lolos seleksi dan mendapatkan pendanaan dari Kemenristekdikti.

Dalam keterangan tertulis yang diberikan kepada redaksi mentari.news oleh tim peneliti Tablet Black Garlic ini diterangkan, bawang putih mempunyai efek biologis dan farmakologis seperti antitumorigenesis, antiantheroscleriosis, modulasi gula darah dan antibiosis penghambat pertumbuhan kanker (Wong et al, 2011).

Bawang hitam diperoleh dari bawang putih segar (Allium sativum L.) yang telah difermentasi selama periode waktu tertentu pada suhu tinggi terkendali (60-90 ° C) di bawah kelembaban tinggi terkontrol (80-90%). Jika dibandingkan dengan bawang putih segar, bawang hitam tidak melepaskan rasa ofensif yang kuat karena berkurangnya kandungan allicin (Kimura, shinsuka, et al, 2017).

 

Produk tablet Black Garlic hasil dari fermentasia bawang putih menjadi bawang hitam. (dok.peneliti)

Selain itu hasil ekstraksi jangka panjang dari Black Garlic juga tidak menimbulkan efek samping dan telah dikonfirmasi aman dalam uji praklinis (Wong et al, 2011). Senyawa bioaktif yang ada di dalam Black Garlic adalah alicin, SAC (S-allyl cysteine), phenol, dan dalam flavonoids.

Choi et all (2008) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa senyawa thiosulfinates yang terkandung dalam Black Garlic sampai lima kali lebih besarnya bila dibanding dengan sediaan bawang putih segar. kdanya Kandungan bioaktif dalam Black Garlic tersebut memungkinkan dapat digunakan untuk pengobatan penyakit infeksi.

Salah satu bentuk sediaan farmasi yang sering dijumpai adalah sediaan tablet. Hal ini disebabkan karena tablet memiliki banyak kelebihan yaitu penggunaan tablet mudah, memiliki ketepatan dosis tiap tablet atau tiap unit tablet, dapat diproduksi dalam berbagai profil pelepasan, memiliki stabilitas dan kompaktibilitas yang baik.

Berdasarkan alasan diatas, Aida Widyastuti dkk melakukan penelitian terkait Black Garlic yang sangat banyak manfaatnya dan berpotensi sebagai obat herbal terbaru dengan dikombinasikan sediaan tablet yang juga memiliki banyak kemudahan dalam penggunaan maupun pembuatannya. Pada sediaan tablet dibutuhkan eksipien seperti zat pengisi, pemanis, dan zat eksipien yang sesuai.

Pada penelitian ini digunakan kombinasi laktosa dan manitol sebagai zat pengisi sekaligus pemanis. Laktosa bersifat larut dalam air. Selain itu, laktosa memiliki harga murah dan paling banyak digunakan sebagai zat pengisi. Sementara manitol merupakan gula berharga mahal. Oleh karena itu, perlu dikombinasi dengan laktosa yang mempunyai harga  lebih murah sehingga dapat mengurangi biaya produksi. Sehingga diperlukan kombinasi yang optimal antara manitol dan laktosa..

Tahap-tahap penelitian

Langkah-langkah penelitian yang dilakukan Aida Widyastuti dkk dimulai dengan pembuatan tablet Black Garlic itu sendiri dengan metode granulasi basah. Setelah didapatkan tablet, dilakukan uji sifat fisik tablet. Kemudian data di analisa untuk mendapatkan nilai perbandingan zat pengisi antara laktosa dan manitol yang optimal.

“Penelitian kami sudah 90% terlaksana, sekarang kami sedang melakukan olah data untuk mendapatkan hasil yang optimum dalam penggunaan kombinasi zat pengisi laktosa dan manitol dalam tablet Black Garlic,” ujar Aida Widyastuti, Sabtu (22/6/2019).

Harapan dari penelitian ini, akan ada penelitian lanjutan terkait tablet Black Garlic yang telah dibuat ini, misalnya soal penentuan kadar zat aktif dalam tablet serta dilakukan uji klinis sehingga dapat dipasarkan ke masyarakat sebagai obat herbal. (*)