Beras Fitrah

admin02/06/2019

Beras Fitrah

admin02/06/2019

Oleh: Yohanes Nasution*

Aku lagi asyik melihat-lihat desain kemasan beras di google ketika sahabatku Sasa mak-bedunduk sudah berada di depanku.

“Assalaamu’alaikum…..,” ucapnya sambil menyodorkan tangan ngajak salaman. Langsung kujawab salamnya dan kuraih tangannya yang kekar. Kami bersalaman.

“Lagi sibuk apa, Om?”

“Ini lagi cari-cari inspirasi desain kemasan beras, Sa. Mau kopi?”

“Siap, Om. Memang ke sini aku mau ngopi….hahahaa.”

Anakku lanang yang kebetulan lagi di rumah sudah tahu tugasnya. Tak berapa lama, dua gelas kopi pun sudah dibuatnya dan diantar ke meja tempat kami biasa ngobrol.

“Monggo diunjuk, Pakdhe,” anakku mempersilkan.

“Yho, Cah bagus. Ini lagi libur to, Le?”

“Njih, Pakdhe. Mulai libur awal Ramadhan. Monggo disekecakke, Pakdhe,” kata anakku lalu pamit undur diri.

Seperti biasanya, kami minum kopi yang masih panas dengan manfaatkan piring kecil yang disebut lepek. Kopi dituang ke lepek sedikit-sedikit, ditunggu beberapa detik, lalu dimimun dengan penuh penghayatan. “Maka kenikmatan mana lagi yang kau dustakan?,” begitu pertanyaan Gusti Allah kepada kita dengan gaya repetitif.

“Mau bikin kemasan beras lagi to, Om? Buat apa?,” Sasa mulai membuka obrolan.

“Tadi aku dihubungi Pengurus Lazismu Pusat supaya nyiapkan beras fitrah untuk para muzakki, Sa.”

“Berapa ton, Om?”

“Ya belum tahu. Mestinya banyak. Kalau ngirim ke Jakarta kan minimal 1 truk, bisa muat 7,5 ton. Kalau kurang dari itu jadi mahal di ongkos kirim.”

“Sudah mulai nyiapkan berasnya, Om?”

“Belum, Sa. Perlu buat desain kemasannya dulu untuk ditawarkan ke para muzakki dan masyarakat umum.”

“Beras dari mana itu nanti?”

“Ya dari petani-petani dampingan kita. Kalau masih kurang bisa kita minta tambahan dari dampingan teman-teman di Sragen atau Karanganyar.”

“Berarti bukan hanya beras Rojolele, Om?”

“Beras C4 super, Sa. Tapi yang Rojolele juga kita siapkan.”

“Harusnya memang begitu.”

“Maksudnya?”

“Beras untuk fitrah kan mesti sama dengan yang dimakan sehari-hari. Yang biasa makan beras medium, zakat fitrahnya cukup dengan beras medium seperti C4. Kalau orang biasa makan beras premium seperti Rojolele, zakat fitrahnya juga beras Rojolele. Jangan C4. Malu sama Gusti Allah, kan?”

“Iya ya, Sa. Harusnya malu, ya?

“Tapi, Om, kita kan baru besok lusa akan mulai puasa. Kok Sampeyan ini sudah mikir zakat fitrah? Lha kok jadi seperti bakul beras, to?”

“Hahaha…..iya ya, Sa?  Aku kadang juga bertanya seperti itu.”

“Lha iya, saat-saat seperti ini Sampeyan kan lagi prepegan. Pasti Bunda Collection lagi banyak pesanan menjelang Ramadhan dan Idul Fitri.  Iya, kan? Lha kok malah suntuk ngutusi beras. Legan golek momongan….”

Mak-jleb rasanya mendengar omongan Sasa. Bukan salah. Masuk akal banget. Memang sejak dulu di mana-mana semua pelaku usaha konveksi pasti sibuk tiap menjelang Ramadhan. Kami pun begitu.

“Alhamdulillah bisa jalan semua kok, Sa. Usaha kami kan sudah berjalan bertahun-tahun, jadi sudah bisa menemukan irama kerjanya. Gak masalah kusambil ngurusi petani dan  beras fitrah ini. Kalau mau, kusambi mancing atau jalan-jalan pun tidak masalah. Usaha di rumah jalan terus…”

“Nah itu, aku gumun dengan Sampeyan ini.”

“Gumun apa? Jangan gumunan, to.”

“Lha kok mau-maunya Sampeyan ngurusi petani? Mestinya kan bisa jalan-jalan sambil ngembangkan bisnisnya sendiri, cari pelanggan sebanyak-banyaknya.”

“Iya ya, Sa.”

“Seharusnya yang ngurusi petani itu Pemerintah, Om. Mereka digaji negara untuk ngurusi kepentingan rakyat. Lah Sampeyan ini pejabat bukan, politisi juga bukan. Nuwun sewu, lho, Sampeyan ini hanya rakyat biasa seperti saya. Lha mbok sudah, urusan pertanian dan perberasan biar diurusi Pemerintah dan orang-orang politik yang suka umbar janji itu.”

“Seharusnya juga begitu, Sa. Wislah, gak usah ngomong politik. Bikin mumet dhewe.”

“Ya memang, Om. Rakyat jadi mumet melihat Pemerintah nyambi jadi makelar.”

“Makelar piye, maksudmu?”

“Kalau ngurusi petani kan gak dapat apa-apa, Om. Ora bathi. Mending impor beras saja biar dapat persenan.”

“Persenan dari mana?”

“Ya dari pelaku impornya to, Om. Mosok dari Sasa….hahahaa…”

“Wislah, Sa. Kita ini rakyat biasa yang butuh sesrawungan, butuh kekancan, butuh berbuat baik, butuh tolong-menolong. Makanya kita mau srawung dengan siapa saja, termasuk dengan para petani. Biarkan saja kalau ada orang masih kadonyan, hanya ngejar urusan dunia. Kita doakan mereka segera bertobat sehingga husnul-khotimah.”

“Aamiin…. Ya sudah, Om. Aku pamit dulu, ya. Mau mampir mandi di umbul Gedaren biar seger,” Sasa pun pamit pulang, nyengklak sepeda jengki tua yang suaranya krengket-krengket tampak jarang dirawat.

 

#serialsasa

 

__________________________________________

 

*Penulis adalah anggota Majelis Pemberdayaan PP Muhammadiyah.