Congklak Bilangan, Media Pembelajaran Matematika Karya 5 Mahasiswa FKIP UMS

admin03/06/2019

Congklak Bilangan, Media Pembelajaran Matematika Karya 5 Mahasiswa FKIP UMS

admin03/06/2019
Cogan

Reporter: Pujoko
MENTARI.NEWS, SUKOHARJO – Seiring kemajuan teknologi yang berkembang pesat, memudahkan anak mengakses berbagai informasi menggunakan gadget canggih mereka dimanapun dan kapanpun mau. Sayangnya, Hal ini secara tidak sadar akan menyebabkan pengaruh negatif terhadap anak.

Salah satunya adalah anak jadi kurang berinteraksi dengan orang lain, karena mereka lebih memilih berada di rumah untuk memainkan game pada gadget mereka.  Sehingga tidak heran apabila saat ini anak-anak tidak mengenal permaianan tradisional yang dimiliki Indonesia. Padahal banyak sekali permainan tradisional bisa berfungsi sebagai media pembelajaran yang bagus,  contohnya congklak.

Hal  ini menginspirasi Ana Muslihatun, Lutfianisa Cahyanintyas, Rangga Narandra La Hasaleh K, Ridhy Nizar Firjatullah, dan Erfin Uswatun Nisa, lima mahasiswa UMS untuk membuat media pembelajaran matematika berbasis permainan tradisional.

Media pembelajaran tersebut mereka namakan COGAN atau Congklak Bilangan. Ana Muslihatun, menjelaskan, media pembelajaran yang dibuat bersama teman-temannya ini ditujukan kepada siswa kelas IV SD yang mengikuti materi pelajaran Faktor Persekutuan terbesar (FPB) serta Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK).

“Dengan media pembelajaran COGAN, siswa tidak hanya belajar matematika tetapi mereka juga bermain permainan tradisional”, kata Ana Muslihatun, Senin (3/6/2019)

Ana Muslihatun dkk membuat media pembelajaran COGAN dengan memanfaatkan congklak yang dimodifikasi dari sisi aturan main maupun dari sisi bentuknya. Permainan COGAN ini dapat dimainkan oleh dua orang. Cara memainkan permainan ini cukup sederhana yaitu kedua pemain secara bergiliran mencari faktor-faktor dari kartu bilangan menggunakan biji COGAN.

Kemudian biji-biji COGAN dimasukkan ke lubang congklak yang telah diberi tanda dengan menggunakan angka mainan. Setelah itu mereka mengambil kartu untuk menentukan apakah harus mencari KPK atau FPB. Barulah biji-biji COGAN yang mewakili KPK atau FPB dimasukkan ke rumah masing-masing kedua pemain.

Media pembelajaran yang mereka buat  diimplementasikan kepada siswa kelas IV SDN Karangasem 3 dalam kegiatan pengabdian. Kegiatan pengabdian ini mereka wujudkan dalam lima pelatihan pembuatan dan penggunaan congklak bilangan.

Terkait hal ini,  Lutfianisa Cahyaningtyas menambahkan, kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya pelestarian permainan tradisional melalui proses pembelajaran matematika. Pelaksanaan kegiatan pengabdian dilakukan pada sela-sela kegiatan belajarn mengajar berlangsung.

Adanya kegiatan ini, bertujuan untuk memaksimalkan penggunaan media pembelajaran matematika pada materi FPB dan KPK,” kata Lutfianisa.

Harapannya, setelah dilakukan kegiatan pengabdian bagi siswa dapat memahami konsep matematika dengan media pembelajaran yang menyenangkan. Sedangkan bagi guru harapannya mampu menggunakan COGAN sebagai media pembelajaran matematika dalam materi FPB dan KPK.

Saat ini, lima mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika FKIP UMS tersebut tengah berproses untuk menghadapi monitoring dan evaluasi pihak Kemenristekdikti pada akhir Juni ini.

Penelitian mengenai COGAN atau Congklak Bilangan yang dilakukan Umi Muslihatun dkk memang telah berhasil lolos seleksi dan memperoleh dana hibat dari Kemenristekdikti dalam Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) yang mereka ikui.

Umi Muslihatun dkk berharap penemuan mereka tentang COGAN yang masuk dalam PKM bidang Pengabdian Masyarakat tersebut mampu lolos kompetisi PIMNAS 2019 sebagai ajang tertinggi penelitian mahasiswa di Indonesia yang akan digelar di Bali pada Agustus mendatang. (*)