Daun Lamtoro Alternatif Penyembuh Luka Kotor Diteliti Mahasiswa Kedokteran UMS

Pujoko23/06/2019

Daun Lamtoro Alternatif Penyembuh Luka Kotor Diteliti Mahasiswa Kedokteran UMS

Pujoko23/06/2019
Mella Anggraeni

Reporter: Pujoko
MENTARI.NEWS, SUKOHARJO – Fakultas Kedokteran menyumbang 4 proposal penelitian yang lolos seleksi dan memperoleh dana hibah Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) Kemenristekdikti bagi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Nah, salah satu proposal penelitian tersebut berjudul Efektifitas Daun Petai Cina dalam Penyembuhan Luka Terkontaminasi atau UNTAI CINTA.

UNTAI CINTA ini diteliti tiga mahasiswa yaitu Mela Anggraeni sebagai ketua tim dan dua anggota Septiana Maulidya Fajrin serta Mada Sukma Dytho. Latar belakang penelitian UNTAI CINTA terkait dengan realitas luka kotor atau terkontaminasi menjadi hal buruk bagi dunia kesehatan karena bisa dibilang susah disembuhkan.

Tim PKM Fakultas Kedokteran UMS ini menilai, apabila salah melakukan penanganan terhadap luka kotor ini berakibat pada munculnya infeksi yang lebih berat.

“Hal ini perlu mendapat perhatian khusus. Untuk itulah tim PKM kami membut obat dari bahan alam (daun petai cina atau lamtoro) dan bisa dengan mudah ditemukan sebagai obat yang digunakan menangani luka terkontaminasi,” kata Mela Anggraeni dalam keterangan tertulis kepada mentari.news, Sabtu (22/6/2019).

Dalam keterangan tersebut, dijelaskan masyarakat masih memiliki stigma bahwa hanya bagian buahnya saja dari lamtoro yang bisa digunakan, yaitu untuk bahan makanan, dan tidak dengan daunnya.

Karena stigma yang ada di masyarakat inilah, Mela dkk mencoba melihat kandungan daun lamtoro yang menyimpan unsur flavonoid didalamnya. Flavonoid memiliki banyak sekali manfaat, salah satunya mempercepat penyembuhan luka.

“Kami mencoba efektifitas kandungan flavonoid pada daun lamtoro untuk menyembuhkan luka yang terkontaminasi,” ujar Mela.

Tahap penelitian

Oleh Mela dkk, daun lamtoro tersebut dibuat ekstrak. Namun perlu kesabaran ekstra untuk memisahkan daun satu persatu dari tangkainya serta dalam pemisahan ekstrak dengan pelarutnya. Tim  peneliti memerlukan waktu 12 hari untuk membuat daun lamtoro menjadi ekstrak yang siap digunakan.

Pada tahap pertama, tim peneliti melakukan pemisahan daun lamtoro yang harus dilakukan sesegera mungkin agar tidak layu dan mudah dipisahkan dari tangkainya. Selanjutnya daun tersebut dikeringkan dalam mesin oven selama 3 hari 2 malam sampai tidak ada sisa air yang terkandung dalam daunnya.

Setelah kering, daun lamtoro dihaluskan dengan menggunakan blender menjadi serbuk. Tujuan tindakan ini adalah mempermudah proses pengeluaran ekstrak yang terkandung dalam daun.

Daun yang telah menjadi serbuk tersebut, oleh tim PKM direndam dalam etanol selama 3 hari agar ekstrak yang terkandung dalam daun dapat keluar dan bercampur dengan etanol. Proses ini mereka lakukan sebanyak 2 kali.

Setelah proses ini selesai dikerjakan, pekerjaan berikutnya adalah menyaring campuran daun dengan etanol agar terpisah antara ekstrak yang terkandung dalam etanol dengan serbuk daun, dimana nantinya hanya larutan etanol dengan ekstrak yang akan kita gunakan.

Proses pemisahan ekstrak dengan etanol menggunakan 2 tahap yaitu dengan evaporasi dan penghangatan menggunakan water bath. Proses evaporasi dilakukan untuk memisahkan sebagian besar etanol. dan proses penghangatan untuk memisahkan sisa-sisa etanol yang ada. Hal ini memakan waktu agak lama.

Disamping menyiapkan ekstrak, tim peneliti juga menyiapkan larutan pencampur dengan terbuat dari  CNC dicampur dengan aquades kemudian dihangatkan dimana nanti dapat dibuat ekstrak dengan kandungan 25%,50%, dan 75%. Hal ini dilakukan tim peneliti untuk mencari ekstrak mana yang dapat bekerja secara efektif dalam mengobati luka terkontaminasi.

Untuk proses pengujiannya, tim peneliti menggunakan 30 ekor tikus yang terbagi 5 kelompok dengan setiap kelompok akan mendapat perlakuan yang berbeda, yaitu dengan ekstrak yang terbagi menjadi dosis 25%, 50% , dan 75% serta menggunakan aquades dan povidone iodin yang digunakan sebagai pengontrol.

Untuk persiapan sebelum perlakuan, tikus yang telah kami bersihkan lalu kami cukur bulunya sebesar 3×2 cm dengan luka insisi sepanjang 2 cm.

Luka tersebut diberi pasir sebagai agen kontaminan yang selanjutnya oleh tim peneliti didiamkan selama 8 jam. Setelah tikus terkontaminasi dengan pasir kemudian dilakukan pembersihan pasir yang menempel dengan cairan infus NaCl.

Tikus yang terluka telah siap untuk dilakukan pemberian ekstrak  selama 14 hari berturut turut untuk melihat kandungan konsentrasi yang paling efektif. Guna melihat kandungan mana yang paling efektif dalam penyembuhan luka yang terkontaminasi, dilakukan dengan cara memotong jaringan kulit yang dilukai  pada hari ke-14, yang mana nantinya dapat dilihat dengan mikroskop jumlah sel penyembuh pada tiap tikus perlakuan.

“Penelitian daun lamtoro untuk mengobati luka terkontaminasi ini kami lakukan mulai April sampai Mei 2019,” ungkap Mela. Penelitian inovatif ini, diharapkan Mela dkk mampu lolos Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 2019 yang akan diselenggarakan di Bali pada Agustus mendatang. (*)