Desa dalam Perspektif Islam

admin26/06/2019

Desa dalam Perspektif Islam

admin26/06/2019
Desa dalam perspektif Islam

Oleh: Adhitya Yoga Pratama*

Setiap kaum Muslim di seluruh dunia pasti mempunyai kehendak menginjakkan kakinya di Mekkah sebagai perwujudan rukun Islam yang kelima. Bahkan panggilan Allah SWT dalam bentuk menunaikan ibadah haji ini dengan prasyarat mampu, mereka akan berangkat ke tanah suci tanpa dibeda-bedakan golongan, suku, bangsa, kelas, dan jenis kelamin apapun yang membebani.

Sungguh, yang demikianlah orang dikumpulkan menjadi satu secara bersama-sama melakukan ihram, wukuf di Padang Arafah, tawaf ifadah, sa’i, tahallul, dan tertib haji. Keberadaan kaum muslim di Kota Mekkah inilah menandakan sebuah wilayah yang penuh historisitas dan spiritualitas dari aspek religius menunaikan ibadah suci dengan khusyu’.

Pada bulan Dzulhijjah diketahui tanda-tanda Mekkah sebagai kota sudah terbukti dengan berbondong-bondongnya umat Islam dari berbagai negeri mengerjakan ibadah haji. Terlebih tanda-tanda keramaian kota yang hiruk-pikuk namun penuh khidmat berserah diri kepada Allah Swt bagi hamba-Nya itu dapat terlihat jelas ketika kaum muslim mengelilingi Ka’bah.

Berangkat dari rumah Allah SWT inilah suasana damai, tentram, tenang, dan sungguh-sungguh menyelimuti bathin manusia yang mengharap ridha Illahi dari keselamatan dunia dan akhirat, yang kenyataannya berbanding terbalik dengan letak geografis yang padang pasir serta pusat ekonomi-politik di Jazirah Arab yang sangat kompetitif pada masa jahiliyah.

Pertemuan antara ajaran langit dan kontradiksi di bumi ini merupakan titik konfrontatif dimana Islam, dan umat Islam secara konsekuen, tidak dapat lagi diam dan mesti menyikapi persoalan imajinasi sosiologis masyarakat pada konteks perebutan ruang kehidupan.

 

Adhitya Yoga Pratama. (dok.pribadi)

Sabda Nabi Muhammad Saw dalam memandang Kota Mekkah sebagai kota yang mulia di antara kota-kota yang lainnya (sekalipun Madinah) sangat termaktub jelas melalui hadits yang berbunyi; “Demi Allah, Engkau adalah sebaik-baik bumi, dan bumi Allah yang paling dicintai-Nya. Seandainya aku tidak terusir darimu, aku tidak akan keluar (meninggalkanmu) (HR. At-Tirmidzi).

Nada penyesalan Rasulullah SAW terbukti nyata ketika beliau memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk segera hijrah ke Kota Madinah, sementara Nabi dan Ali Bin Abi Thalib menyusul hari berikutnya kala rumah dikepung oleh para musuh. Atas pertolongan Allah Swt, Rasul dan keponakannya berhasil keluar dari Kota Mekkah dalam keadaan selamat tanpa suatu halangan sekalipun.

Membaca sunnah dan kisah Rasul saat hijrah pertama kali ke Kota Madinah diatas, bukan berarti membuat kita begitu saja menafsirkan Mekkah sebagai entitas politik sarat metropolitan dan kosmopolitan semata.

Tetapi dari sinilah kita akan memandang Kota Mekkah sebagai ruang publik yang diperebutkan wacana politiknya oleh kelompok kepentingan yang berada di sekitar Ka’bah. Terutama sistem nilai dan struktur kebudayaan yang terkandung di dalamnya, sejak dibangun oleh Ibrahim dan Ismail pada masa kenabian.

Mengingat kajian Islam mengalami perkembangan yang sangat pesat di antara para ilmuwan, fokus desa dalam perspektif Islam sesungguhnya berusaha menggali jejak-jejak pra-Islam memandang dinamika sosial yang ada di dalam kebudayaan Islam itu sendiri.

Mengutip pendapat Woodward (1989) bahwa Islam adalah unsur dominan dalam kepercayaan dan upacara keagamaan orang Jawa, yang membentuk karakter interaksi sosial dan kehidupan keseharian di seluruh segmen masyarakat Jawa. Maka Ka’bah adalah unsur dominan dalam kepercayaan dan upacara keagamaan umat Islam, yang membentuk karakter interaksi sosial dan keseharian di seluruh segmen masyarakat Islam di seluruh dunia.

 

Nilai-Nilai Keislaman

Sebelum Muhammad diangkat menjadi Nabi dan Rasul ternyata ia sudah terlibat dalam peristiwa pembentukan suatu komunitas yang aman, tentram, damai, dan toleran. Menurut Syed Ameer Ali dalam karya terkenalnya The Spirit of Islam (2008), keterlibatan Muhammad dalam peristiwa pembentukan komunitas itu terjadi karena adanya kesewenang-wenangan berupa perampokan di jalanan Kota Mekkah.

Atas permintaannya, keluarga Hasyim, Muthalib, Zuhra, dan Taym mengikatkan diri. Keluarga-keluarga tersebut mengangkat sumpah untuk membela setiap orang, baik mereka itu orang Mekkah atau orang asing, orang merdeka atau budak, dari segala bentuk kesewenang-wenangan di wilayah Mekkah. Mereka juga bertekad untuk menuntut balas atau meminta ganti rugi dari orang yang telah berbuat jahat terhadap mereka.

Selain itu ketika tengah memperbaiki Ka’bah terjadi perselisihan di antara keluarga-keluarga bangsawan Arab yang andil dalam pembangunan, yang mana konflik itu sangat mungkin menimbulkan pertumpahan darah. Namun, berkat Muhammad perselisihan itu dapat diselesaikan dengan cara damai. Sehingga kita tahu setelah itu ia mendapat julukan Al-Amin (Yang Terpercaya) membuat iri musuh-musuhnya, pertanda bahwa anak bangsa Arab kelak akan menjadi Nabi dan Rasul.

Hanya hal-hal di ataslah yang kita ketahui tentang perbuatan dan keterlibatan Muhammad di depan umum selama lima belas tahun. Sifatnya yang lembut, tegas, kekerasannya dalam menjaga kesucian hidup, kehalusan budinya, kesiap-sediaannya membantu si miskin dan lemah, rasa kehormatannya, kesetiannya yang besar, dan rasa kewajibannya yang begitu besar. Kesemua itu pada waktunya ia akan memiliki watak sosial yang tabligh, amanah, fathonah, dan sidiq.

Pada titik inilah Muhammad sebagai manusia yang memiliki tubuh membawa kabar gembira dan memberi teladan baik bagi semesta alam melalui tutur kata dan tindakan. Manusia bangsa Arab ini dapat dipastikan dalam kesehariannya tidak mampu melakukan kecerobohan yang merugikan orang lain. Penggembala kambing itu selalu waspada dan penuh perhatian terhadap kaum lemah.

Meski di depannya terbentang sebuah negeri berlumuran darah yang tercabik-cabik oleh perang saudara dan pertikaian antar suku. Mereka kecanduan ritual takhayul dan mesum, sekaligus kejam dan sewenang-wenang.

Pengalaman-pengalaman sebelum kerasulan inilah yang membentuk daur hidup manusia untuk menciptakan suatu ruang yang tenang, tentram, damai, dan toleran. Siapa sangka keberadaan agama dan kepercayaan masyarakat Arab yang saling bertengkar dan menghancurkan di hadapan Rumah Allah Swt itu didekonstruksi oleh Muhammad dengan nilai-nilai kemanusiaan yang beradab setelah kenabian.

Alhasil, Mekkah menjadi suatu tempat yang paling banyak dikunjungi orang untuk sekedar berumrah atau menunaikan ibadah haji,yang membawa suasana kejiwaan manusia resah menjadi satu dalam nuansa persaudaraan menghadap Ka’bah. Nilai-nilai keislaman inilah yang sesungguhnya membawa situasi desa dalam perspektif Islam dibentuk. Sebab Muhammad dengan Ka’bah merupakan komitmen keharmonisan meningkatkan keimanan kita untuk berbagi pengalaman spiritual dengan para pengikutnya. Demikian.

 

*Penulis adalah peminat kajian sejarah kebudayaan Islam  & pegiat gerakan ekologi dan politik pedesaan dalam perspektif Islam