Ekstrak Terung Sebagai Obat Anti Kejang, Riset Terbaru Mahasiswa Kedokteran UMS

Pujoko26/06/2019

Ekstrak Terung Sebagai Obat Anti Kejang, Riset Terbaru Mahasiswa Kedokteran UMS

Pujoko26/06/2019
Muhammad Maksum

Reporter: Pujoko
MENTARI.NEWS, SUKOHARJO – Siapa yang tidak mengenal terung? Di negara-negara Barat, terung lebih dikenal sebagai aubergine. Tanaman satu ini jadi naik daun sebagai bahan pangan pilihan seiring dengan makin popluernya gaya hidup vegetarian di masyarakat luas.

Berbagai penelitian ilmiah telah membuktikan manfaat tanaman terung bagi kesehatan. Beberapa bagian tanaman terung terbukti efektif sebagai antiinflamasi, antipiretik, analgesic pada pengobatan penyakit seperti bronchitis, asma, ulkus, neuralgia, hingga kolera.

Kandungan-kandungan aktif dalam buah terung antara lain flavonoid, alkaloid, tannin, dan steroid. Flavonoid merupakan zat yang berfungsi sebagai antioksidan terhadap radikal bebas penyebab stres oksidatif. Menurunnya mekanisme pertahanan antioksidan pada otak dapat memicu terjadinya kejang atau konvulsi, salah satunya pada penyakit epilepsi.

Dari latar belakang pengetahuan itu, tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran  (FK) Universitas Muhammadiyah Surakarta  ((UMS) yaitu Muhammad Maksum, Selly Ayustine, dan Ferika Dian dengan dibimbing oleh dosen FK UMS, dr. Listiana Masyita Dewi, M.Sc, melakukan penelitian ekstrak etanol buah terung sebagai anti kejang, dengan fokus pada zat aktif flavonoid.

Proposal penelitian tersebut sebelumnya telah lolos seleksi Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) Kemenristekdikti melaluu Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Ditjen Belmawa) dan memperoleh dana hibah untuk dilaksanakan penelitiannya.

Selain itu, bila penelitian PKM dari Muhammad Maksum dkk ini lolos monetoring dan evaluasi (monev) Kemeristekdikti, maka bisa lolos untuk berkompetisi di Pekan Ilmiah Nasional (PIMNAS) 2019 di Universitas Udayana, Bali, pada Agustus mendatang.

Muhammad Maksum sebagai ketua tim penelitian menerangkan awal mula ide ini muncul. “Saat sedang makan terung, saya menyadari bahwa tanaman ini tersebar sangat banyak di negara tropis seperti Indonesia.  Namun kebanyakan pemanfaatannya masih terbatas untuk dikonsumsi saja. Kami ingin mengetahui manfaat lain dari buah terung, khususnya untuk pengobatan tradisional,” ungkap Muhammad Maksum kepada mentari.news, Rabu (26/6/2019).

Epilepsi

Epilepsi bisa menyerang segala usia, ras, dan sosial,  terbanyak pada kelompok usia anak anak dan remaja. Penyakit ini merupakan salah satu kelainan saraf yang paling banyak ditemukan dan dapat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya. Epilepsi menyerang 1-2% dari populasi dunia dan kejadian terbesar terjadi di  negara berkembang. Angkanya mendekati 100 dari 100.000 penduduk.

Keberadaan epilepsi yang paling dikenal masyarakat adalah saat terjadi renjatan atau kejang. Kejang pada status epilepsi tikus merupakan kondisi yang mengancam jiwa berupa kejang menahun dengan durasi sekitar 30 menit setiap kambuh. Atau bisa juga berlangsung lebih dari dua kali secara berurutan disertai ketidak sadaran di antara serangan kejang.

 

Muhammad Maksum tengah bekerja memproses penelitian bersama obyek penelitian berupa mencit. (dok.pribadi)

Menurut Maksum, obat anti kerjang harganya mahal serta memiliki efek samping merugikan. Nah, penggunaan flavanoid dalam buah terong mampu memodulasi kompleks GABA A-Cl guna menekan efek epilepsi

“Sementara karakteristik strukturnya menyerupai benzodiazepine (obat saraf). Dilihat dari temuan penelitian sebelumnya, kami harap ekstrak buah terung mempunyai efek samping yang lebih minim dengan hasil pengobatan hampir sama dengan obat yang beredar di pasaran,” tambah Maksum.

Tahap penelitian

Untuk membuat ekstrak terung, buah terung yang didapatkan dari perkebunan di Jawa Tengah dikeringkan dan dihaluskan, kemudian direndam dengan etanol 96%. Selanjutnya, campuran tersebut disaring dan hasilnya diekstraksi dengan rotatory evaporator serta waterbath.

Ekstrak murni akan dilarutkan dan dibagi dalam tiga tingkatan dosis berbeda untuk menemukan takaran paling efektif. Ekstrak akan diberikan kepada subjek penelitian (mencit) yang sebelumnya telah diinduksi kejang dengan PTZ (Pentylenetetrazolen). Subjek akan diteliti ada tidaknya efek ekstrak buah terung dilihat dari berakhirnya efek kejang akibat PTZ.

Penelitian ini diharapkan mampu menambah referensi ilmiah untuk mengembangkan buah terung sebagai alternative pengobatan kejang dan bahan alami antioksidan, serta nantinya dapat mengaplikasikan ilmu terapan di masyarakat. (*)