Ketua PKK Desa Karangasem Berdayakan Ibu-Ibu Desa Jadi Pelaku UMKM

Ketua PKK Desa Karangasem Berdayakan Ibu-Ibu Desa Jadi Pelaku UMKM

Sri Wahyuni

Reporter: Rosita Maya Purnamasari
MENTARI.NEWS, SUKOHARJO – Dengan tujuan utama agar ibu –ibu khususnya ibu-ibu muda yang ada di Desa Karangasem tidak pergi merantau, Sri Wahyuni,  Ketua Penggerak PKK Desa Karangasem, Kecamatan. Bulu, Kabupaten Sukoharjo menyelenggarakan pelatihan pemberdayaan kader. Hasilnya, Sri Wahyuni mampu melahirkan iibu-ibu Desa Karangasem menjadi pelaku UMKM.

Kegiatan pelatihan pemberdayaan kader PKK bagi ibu-ibu muda ini dibagi dalam tiga kegiatan yaitu pelatihan menjahit, memasak dan kerajian tangan (handmade).

“Pelatihan untuk para kader ini sudah dilakukan sejak dari tahun 2008, satu tahun setelah saya dilantik dan mulai berkembang pesat pada tahun 2012,” ungkap Sri Wahyuni kepada Mentari.news, Senin (10/6/2019).

Produk makanan olahan yang hasilkan ibu-ibu Desa Karangasem seperti Burger Karangasem Sehat (Berkat), kripik singkong, emping jagung, kacang telur, wingko babat, Pizza Karangasem Sehat (Pizka hat), coklat, kripik pare, kripik usus, intip lansia. Sementara produk handmade yang diproduksi antara lain berupa tas dari bungkus Kopi, hiasan bunga buatan dan masih banyak lagi.

Sri Wahyuni menjelaskan, walaupun dibawah kelompok PKK, namun dalam pembuatan produknya dilakukan masing-masing kader karena sebagian dari mereka sudah memiliki brand sendiri dan memiliki agen-agen yang tersebar di Sukoharjo, Wonogiri dan sekitarnya.

 

Salah satu produk UMKM Desa Karangasem. (mentari.news)

“Di sini kan juga banyak kader yang memiliki usaha, brand serta segmentasi pasarnya sendiri jadi mereka tetap memakai nama brand miliknya. Sedangkan yang masih taraf berkembang kita mewajibkan untuk memakai nama sekar dalam brandnya,” ujar Sri Wahyuni yang juga berprofesi sebagai seorang guru itu.

Secara organisasi, ibu-ibu pelaku UMKM ini memang masih bernaung dalam PKK Desa Karangasem.  Walaupun menurut pengakuan Sri Wahyuni, tidak ada jadwal khusus untuk pelatihan, karena  akan dibarengkan dengan pertemuan PKK. Namun begitu, hal berbeda diterapkan pada pelatihan menjahit yang memang secara rutin dilakukan pelatihan satu bulan sekali

Lalu soal pendapatan usaha ibu-ibu tersebut,  PKK sebagai organisasi tidak turut mengambil, jadi soal pendapatan itu tetap untuk mereka.

“Ada sebagian kecil yang diberikan untuk PKK, kita terima tapi kita berikan lagi untuk pengembangan posyandu. Karena PKK sudah ada anggran tersendiri dari pemeritah,” kata Sri Wahyuni.

Sri Wahyuni menambahkan untuk pemasaran dari produk yang dihasilkan ibu-ibu pelaku UMKM di Desa Karangasem tidak hanya di wilayah Desa Karangasem saja namun sudah sampai Wonogiri, Jakarta, Riau (Dumai).