Lebaran: Beberapa Fenomena Sosial yang Tumbuh

admin09/06/2019

Lebaran: Beberapa Fenomena Sosial yang Tumbuh

admin09/06/2019
Ilustrasi lebaran

Oleh: Syahrullah,SH, MH*

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!

Dengan kalimat yang begitu mulia, jutaan bahkan miliaran orang setiap datangnya hari Lebaran mengucapkannya. Seruan ini disambut oleh ribuan, oleh jutaan umat manusia dari segenap penjuru bumi, menyemarakkanya dengan shalat Ied menyambut kesucian jiwa kita kembali seperti baru saja kita dilahirkan oleh ibunda kita. Suci, bersih dari segala noda dan dosa yang selama ini hinggap di tubuh kita.

Idul fitri bagi umat Islam di seluruh dunia, dilaksanakan serentak setiap 1 Syawal setiap tahunnya. Di awali dengan pelaksanaan shalat di lapangan terbuka atau di masjid-masjid, bermaaf-maafan atas semua kesalahan yang dilakukan dengan sesama manusia, baik kepada orang tua, sanak saudara, keluarga jiran tetangga. Idul Fitri di kalangan masyarakat  dikenal dengan istilah “lebaran”.

 

Syahrullah,SH, MH.

Lebaran, waktu yang ditunggu-tunggu oleh segenap umat Islam tanah air. Ada beberapa fenomena sosial yang hidup hampir merata di seluruh nusantara. Fenomena ini dilakukan secara berulang-ulang dan banyak masyarakat  yang menganggap ini menjadi tradisi. Apa saja fenomena itu?

Berbagai fenomena

Pertama,Mudik. Merupakan satu fenomena sosial yang telah berurat berakar bagi orang-orang Indonesia.Berbagai alasan rasional seolah tidak mampu menjelaskan fenomena yangteranyam rapat dalam nilai kultural bangsa Indonesia itu. Seakan ada sebuah peraturan yang mengharuskan bahwa setiap lebaran tiba para perantau harus pulang ke kampung halaman.

Pulang mudik sekali setahun tidak hanya sekedar melepas kerinduan pada kampung halaman,  tetapi sepertinya mengandung makna yang jauh lebih dalam dari itu.Mudik adalah tradisi baik,yang menjadi pertanda kasih sayang sesorang kepada keluarganya, orang tuanya, tetangga maupun teman dima sa kecilnya. Mudik adalah wahana silaturahim tahunan yang layak dipelihara.

Sementara menurut Umar Kayam (2002), mudik awal mulanya merupakan tradisi primordial masyarakat petani Jawa. Keberadaannya jauh sebelum kerajaan Majapahit. Awalnya kegiatan ini digunakan untuk membersihkan pekuburan atau makam leluhur, dengan disertai doa bersama kepada dewadewa di Khayangan. Tradisi ini bertujuan agar para perantau diberi keselamatan dalam mencari rezeki dan keluarga yang ditinggalkan tidak diselimuti masalah. Namun, sejalan masuknya pengaruh ajaran Islam ke tanah Jawa membuat tradisi ini lama-kelamaan terkikis,karena dianggap perbuatan syirik terutama bagi mereka yang menyalahgunakan dengan meminta kepada leluhur yang telah meninggal dunia.

Setiap menjelang hari raya Idul Fitri, hampir seluruh media massa baik cetak dan eletronik mulai menyoroti aktivitas mudik, bahkan pemerintah khususnya kementrian perhubungan dan kepolisian dikerahkan untuk mensukseskan kegitan ini, sebab setiap tahun jumlah pemudik terus saja membanjiri terminal, stasiun, pelabuhan, hingga bandara. Kemacetan dan penundaan waktu keberangkatan angkutan transportasi merupakan hal yang umum terjadi. Ini disebabkan  sebanyak 18,28 juta (perkiraan kemenhub) masyarakat bakal melakukan kegiatan mudik Lebaran 2019.

Kedua Menabuh Bedug. Kumandang takbir  Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.   bagi sebagian masyarakat  selalu diiringi dengan tabuhan bedug yang menggema di mesjid-mesjid , surau-surau, langgar-langgar dan mushalla, bahkan di jalan-jalan. Tabuhan bedug akan menambah suasana haru dan gembira. Suara takbir akan terdengar mulai dari malam takbiran hingga pagi di hari Lebaran, tanda hari kemenangan telah tiba. Oleh karena itu, bedug sudah menjadi simbol dari hari raya Idul Fitri selain dari ketupat.

Ketiga Pawai Takbir. Lebaran akan selalu disambut dengan kumandang takbir sebagai tanda kemenangan setelah melakukan puasa selama sebulan penuh. Pada momen ini akan terlihat bagaimana kebersamaan masyarakat tetap terjaga dengan baik, mereka akan turun ke jalan melakukan pawai keliling Kota, baik itu menggunakan kendaraan ataupun sekedar berjalan kaki beramai-ramai.Ini akan sangat menyenangkan dan menjadi salah satu hal yang paling ditunggu-tunggu selama masa Lebaran, sebab inilah agenda yang paling awal dalam perayaan Lebaran itu sendiri.

Keempat Ketupat. Lebaran dan ketupat tentu telah menjadi dua hal yang tidak terpisahkan. Penganan khas lebaran ini biasanya akan disajikan bersama opor, rendang, semur, kerupuk udang dan beberapa jenis tambahan lainnya. Meski terbilang memiliki cara penyajian yang berbeda-beda pada tiap daerah di Indonesia, namun ketupat telah menjadi sebuah penganan wajib yang selalu disajikan ketika perayaan Lebaran.

Ketupat Lebaran akan menjadi sebuah sajian yang sangat istimewa, sebab hampir semua keluarga akan menyantapnya dengan bahagia, di mana seluruh atau sebagian besar anggota keluarga bisa berkumpul dan menikmatinya bersama-sama. Tak lengkap rasanya melewati Lebaran tanpa sajian ketupat, karena ketupat adalah sajian khas yang wajib disantap di momen yang indah itu.

Kelima THR. THR (tunjangan hari raya) merupakan tradisi masyarakat memberikan sejumlah uang terutama kepada anak-anak, keluarga dekat yang tidak mampu. Yang memberikan biasanya orang dewasa yang sudah bekerja.

Tradisi ini meniru pemberian THR oleh perusahaan kepada karyawannya. Dan di masa Pemerintahan Joko Widodo pemberian THR mulai dikenal yang diberikan kepada para ASN, TNI, Polri dan para pensiunan.

Keenam Halal bi halal.Tradisihal bi halal  telah dipraktekkan  sejak lama.  di mana orang akan saling, bermaaf-maafan,saling  mengunjungi dan merayakan Lebaran bersama keluarga besar, teman-teman, kerabat, tetangga, atau bahkan mereka yang lainnya yang kita anggap penting untuk kita kunjungi.

Halal Bi Halal bahkan masih akan dirayakan setelah momen Lebaran berlalu dan kita kembali bekerja seperti biasa,di Kantor-kantor, sekolah maupun perusahaan.

Ketujuh Ziarah kubur.Ziarah kubur, menjadi kebiasaan bagi sebagian masyarakat Indonesia di Hari Lebaran. Biasanya hal ini dilakukan sore hari menjelang lebaran; setelah shalat Idul Fitri. Mereka dating ke pemakaman dengan membawa berbagai bunga, daun pandan harum untuk ditaburi di atas pemakaman setelah ada yang membacakan yasin, memanjatkan doa bagi keluarga, kerabat  yang telah pergi meninggalkan dunia.

Kedelapan  Rekreasi. Rekreasi merupakan fenomena yang menarik di tengah masyarakat saat lebaran. Terutama bagi mereka yang pulang mudik. Momen ini menjadi kesempatan yang baik untuk berekreasi bersama anggota keluarga, karib, teman sejawat lainnya.

Namun, yang lebih penting memaknai lebaran setelah sebulan penuh kita berhasil mengendalikan hawa nafsu dan menuruti panggilan ilahi, maka Allah menghadiahkan kepada kita kesucian jiwa. Kita kembali seperti bayi yang baru lahir, suci, bersih dari noda dan dosa. Maka inilah lebaran, hari yang menjadi momen tepat untuk saling bermaaf-maafan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

 

* Dosen STIH Muhammadiyah Bima, pemerhati masalah sosial, ekonomi, hukum dan Lingkungan