Membangun SDM (Perspektif China, Jepang, Korsel dan Indonesia)

admin28/06/2019

Membangun SDM (Perspektif China, Jepang, Korsel dan Indonesia)

admin28/06/2019
ilustrasi SDM

Oleh: Pranyata, SE.*

Dalam media akhir-akhir ini kerap terdengar ketidak puasan terhadap meningkatnya kekuatan ekonomi negara China di Indonesia. Ada  rasa khawatir hal ini akan menjadikan Indonesia terkooptasi. Apalagi kalau Indonesia selalu meningkatkan hutang ke China, kalau tak pandai mengelolanya, semua itu bisa menjebak Indonesia.

Dari fakta yang ada, Indonesia tidak mudah melepaskan diri dari negara China. Hubungan ekonomi kedua negara saat ini meningkat, termasuk perdagangan bilateral, walaupun Indonesia mengalami defisit. Namun jangankan negara kita,  Amerika Serikat pun kewalahan menghadapi China. Sehingga negeri adi daya ini mengalami defisit perdagangan  cukup besar yang memicu perang dagang. Kalau diteliti, hampir semua negara di dunia mengalami defisit perdagangan terhadap China. Kata defisit berarti‘kalah’ dalam persaingan dagang.Ini bukti kalau China saat ini memang perkasa.

Pertanyaannya, kenapa China bisa menang dagang dengan banyak negara? Hal ini karena SDM (Sumber Daya Manusia) China mampu menciptakan produk yang relatif lebih murah dibanding dengan produk negara lain dengan mutu yang setara.  Banyak pihak mengakui kalau dalam dua dasa warsa terakhir ini industri China mengalami kemajuan yang pesat.

Kemampuan SDM tersebut bukan kebetulan, tetapi semua direncanakan. Program pengembangan SDM mulai menjadi prioritas sejak pidato Presiden China Deng Xiaoping pada tanggal 8 Juli 1983, yang terkenal dengan judul ‘Introducing Foreigh Intelligence and Extending Opening-Up’.Pemerintah menekankan perlunya  memperkenalkan teknologi asing dan mengimpor tenaga–tenaga ahli asing  dan juga gencar mengirimkan warganya belajar ke luar negeri. Inilah yang membuat China maju seperti yang dicapai  saat ini.

Langkah keberhasilan China hampir sama dengan apa yang dilakukan Jepang, Eropa barat, Amerika Utara dan Korea Selatan. Negara-negara modern tersebut pada umumnya melakukan pengembangan SDM agar memiliki nilai tambah yang tinggi dalam melakukan industrialisasi. Motor penggerak pengembangan SDM adalah pemerintah, namun ada juga yang dilakukan oleh masyarakat, terutama kaum agamawan.

Kemajuan Jepang dicapai melalui restorasi Meiji (kekuasaan pencerahan)  atau disebut juga dengan Revolusi Meiji. Semula diawali dengan peristiwa Jepang tersinggung atas kedatangan Komodor Amerika Serikat Matthew C. Perry yang datang ke Jepang pada tahun 1853 dengan kapal super besar dengan persenjataan lengkap dan teknologi tinggi yang memaksa Jepang membuka pelabuhan-pelabuhan untuk kapal-kapal asing yang ingin berdagang.  Saat itu Jepang menyadari ketertinggalannya, Namun Jepang tidak bisa  berbuat banyak. Jepang pun terdiam.

Diamnya Jepang bukan berarti pasrah. Mereka menyusun strategi. Mereka melakukan restorasi Meiji yang bertujuan menggabungkan kemajuan barat dengan nilai-nilai ‘Timur’. Nilai-nilai timur inilah, menurut  para pengamat mengartikan sebagai nilai Kofusionisme. Para pemimpin Jepang saat itu menyadari pentingnya perang kecerdasan. Bangsa yang lebih cerdas akan bisa menciptakan ekonomi yang menang. Para samuraipun menyimpan pedangnya dan mengajarkan ilmu ke masyarakat. Kebijakan yang diambil saat itu menterjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan, mengirim pemuda untuk belajar ke luar negeri, mendatangkan guru dari luar negeri dan membangun pusat-pusat pendidikan. Akhirnya Jepang tumbuh sebagai pelopor teknologi.

Sementara kemajuan  di Eropa Barat dan Amerika Utara karena di dorong oleh Etika Protestan. Hal ini ditulis oleh Max Weber (1864-1920) dalam bukunya ‘Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme’ yakni bekerja keras dan bersungguh-sungguh, lepas dari imbalan materialnya. Dalam referensi lain disebutkan bahwa etika dalam agama Protestan tersebut  awalnya dikembangkan oleh Calvin, yang menekankan bahwa seseorang sudah ditakdirkan sebelumnya masuk ke surga atau neraka. Hal tersebut ditentukan melalui apakah manusia tersebut berhasil atau tidak dalam pekerjaannya di dunia.  Adanya keyakinan ini membuat penganut agama Protestan Calvin selalu bekerja keras untuk meraih sukses. Motivasi inilah yang membuat mereka betul-betul sukses, bahkan menjadi penggerak kapitalisme.

Lain lagi dengan kemajuan Korea Selatan. Dampak perang Korea, dimana kondisi Korea Selatan sama seperti Korea Utara, benar-benar hancur. Kondisi   Korea Selatan betul-betul memprihatinkan.  Saat itu negara ini lebih miskin dari Irak, Liberia dan Zimbabwe. Parahnya lagi Korea selatan tidak memiliki sumber daya alam yang dapat diandalkan.

 

Pranyata SE. (dok.pribadi)

Perang sangat menghantui Korea selatan. Untuk memperkuat negara dari ancaman, Presiden Park yang seorang Jenderal menekankan bahwa rakyat Korea Selatan harus bekerja dengan amat keras, bahkan lebih keras dari rakyat negara lain,  berdisiplin ala militer dan semangat pali-pali alias bekerja cepat. Setelah 40 tahun, hasilnya bisa dilihat bahwa Korea Selatan saat ini menjadi negara maju.

 

Indonesia

Dahulu BJ.Habibie sudah memulai program pengembangan SDM untuk memajukan Indonesia. Beliau ingin mengalihkan konsep pembangunan dari mengandalkan keunggulan komparatif ke keunggulan kompetitif. Dalam keunggulan komparatif, mendasarkan pada keunggulan yang telah dimiliki oleh suatu negara, misalnya di Indonesia mendasarkan diri pada sumber daya alam dan tenaga kerja murah. Sedangkan keunggulan kompetitif itu mendasarkan pada keunggulan teknologi dan SDM  yang bisa menghasilkan nilai tambah tinggi. Saat itu Indonesia mulai bergairah untuk mengembangkan SDM dan teknologi.

Namun dalam kancah perbedaan politik, terjadi kritik dan perdebatan dalam pelaksanaan program tersebut. Selanjutnya dalam perjalanan waktu konsep keunggulan kompetitif yang mendapat julukan Habibienomics  tenggelam bersama krisis ekonomi tahun 1997. Di sisi lain, karena ada pihak yang mengkritisi konsep tersebut, sehingga di periode pemerintahan berikutnya konsep tersebut tidak diteruskan. Akibatnya SDM Indonesia tetap tertinggal.

Sampai saat ini belum ada greget untuk meningkatkan SDM. Bahkan pendidikan Indonesia masih jauh tertinggal dibanding pendidikan di negara lain.Hal ini terjadi di antaranya karena banyak sekolah-sekolah yang kekurangan sarpras dan kekurangan guru. Untuk menutupi kekurangan guru, banyak diangkat guru honorer dengan gaji jauh di bawah UMR.Tentu hal ini berpengaruh pada kompetensinya. Sistem pendidikan yang demikian merupakan kelemahan mendasar untuk meningkatkan SDM kita.

Seandainya problem pendidikan tidak segera diatasi pemerintah, seharusnya ada lapisan masyarakat yang tergerak. Diharapkan kaum agamawan bisa memotivasi umatnya untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan mutu SDM. Langkah-langkah Calvin  dan konfusionisme dapat diadopsi  untuk meningkatkan SDM sehingga ekonomi umat kokoh. Langkah ini memang berat, namun kalau tak ada yang memulai, siapa yang akan menguatkan perekonomian Indonesia ditengah persaingan global yang semakin terbuka.Retorika yang dibangun kalau ingin Indonesia tidak terkoptasi oleh negara adalah ‘meningkatkan kualitas SDM agar dapat memenangkan persaingan dagang dunia’.

 

*Penulis adalah pengamat ekonomi sosial, Sekretaris Majelis Wakaf PDM Cilacap.