Merajut Kembali Merah Putih

admin06/06/2019

Merajut Kembali Merah Putih

admin06/06/2019
Achmad Rosyid

Oleh: Achimad Rosyidi*

Masyarakat Indonesia pada tanggal 17 April 2019 telah melampaui agenda pesta demokrasi yakni pemilihan umum secara langsung. Hiruk-Pikuk Pilpres dan Pileg yang dilaksanakan secara bersama-sama, ternyata membawa dampak sosial dan politik yang hampir merenggut nilai persatuan Indonesia.

Perbedaan Pilihan dalam Pilpres yang terbagi menjadi pendukung pasangan calon 01 dan 02 secara tidak langsung membuat “sekat pemisah” yang cukup jauh diantara sesama warga bangsa. Ditambah lagi dengan Periodesasi Kampanye yang cukup lama, menghasilkan sebuah proses dinamika yang sangat serius bagi nilai-nilai persatuan yang tumbuh subur di negara kita. Narasi kampanye yang sarat akan unsur “SARA” menghiasi media massa kita beberapa waktu lalu. Isu-Isu agama, ideologi dan radikalisme menjadi salah satu warna utama yang tersuguhkan secara massif. Hal ini terasa semakin parah, ketika pasca Pilpres kedua pendukung fanatiknya membuat narasi yang memperjelas kesenjangan (sekat pemisah) diantara kedua kelompok masyarakat pendukung pasangan calon Tersebut.

Fenomena ini seharusnya menjadi pelajaran bagi negara berkembang seperti Indonesia Dalam menjalankan demokrasi yang ideal dengan mengedepankan pendidikan politik yang dewasa. yakni apabila konflik itu terjadi maka segera melakukan konsensus untuk menjawab masalah yang terjadi.

Hal ini persis tertuang di poin” Pancasila bahwa “Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan”.

Untuk Itu, di dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2019. Tulisan saya ini mencoba untuk memotret fenomena tersebut menjadi frame kebangsaan berlandaskan Pancasila yang nilai-nilai nya menjadi suguhan utama bagi bangsa kita ketika menghadapi keretakan pada pondasinya sebagai sebuah bangsa yang berdaulat di atas keaneragaman masyarakatnya dan Pancasila mempertegasnya dengan nilai “Persatuan Indonesia”.

Muhammadiyah dan Pancasila

Pada Muktamar Muhammadiyah ke 47 di Makassar. Draft jihad kebangsaan Muhammadiyah disusun dan salah satu poinnya adalah Pancasila sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah, yakni sebuah hasil Konsensus Nasional. Hari ini dan Kedepan narasi itu menjadi jihad kebangsaan warga Muhammadiyah untuk mengisi bangsa ini dan membawanya menjadi negara maju, adil dan bermartabat.

Selanjutnya tugas outama ktivis Pemuda Muhammadiyah adalah melaksanakan amalan pikiran jihad kebangsaan Muhammadiyah ini untuk kita syiarkan kepada seluruh elemen warga bangsa Indonesia. Khususnya pasca Pemilu ini sebagai bentuk perwujudan dari kesetiaan muhammadiyah pada NKRI dan sumbangsih pikiran kebangsaan muhammadiyah bagi Indonesia.

Menjahit kembali Merah Putih

Memahami dan mengamalkan nilai” Pancasila sebagai ide dasar bangsa Indonesia dan menjadi “benang persatuan” untuk merajut kembali Merah Putih (Identitas Persatuan Rakyat Indonesia) yang sempat terbelah. Penting bagi kita aktivits pemuda muhammadiyah untuk berperan aktif untuk menyerukan kepada seluruh masyarkat Indonesia melalui porsi dakwahnya masing-masing. Kita tidak boleh menjadi bagian dari narasi pendidikan politik pecah belah. kita harus berada pada barisan narasi persatuan yang lama telah diperjuangkan oleh para pendiri bangsa Indonesia dengan darah dan air mata.

“Teruslah berkibar Merah Putihku, tak boleh ada siapapun yang ingin berniat merobekmu. Karena dibawah “Merah dan Putih” ada beraneka ragam suku, budaya, agama dan bahasa menjadi satu berdiri bersama di wilayah dan tanah air yang sama yakni Indonesia”

Selamat Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2019

___________________________________________________

* Achmad Rosyidi adalah aktifis Pemuda Muhammadiyah