Nyantri

admin17/06/2019
admin17/06/2019
Ilustrasi_ Nyantri

Oleh: Yohanes Nasution*

Anak kami ada tiga. Yang sulung laki-laki, Cahya panggilannya, sudah lulus dari Gontor Ponorogo dan saat ini masih kuliah di Fisipol UMY semester (mau masuk) tujuh. Anak kedua putri, Zika panggilannya, baru lulus dari Gontor Putri pada Ramadhan kemarin dan mau meneruskan kuliah di UNIDA (Universitas Islam Darussalam) Gontor. Anak ketiga putri juga, Alya panggilannya, baru lulus SD dan saat ini sedang berjuang agar bisa diterima nyantri di Gontor Putri mengikuti jejak kakaknya.

Aku dan istriku sering mendapat pertanyaan dari teman tentang anak-anak kami yang nyantri di Pondok Gontor. Macam-macam pertanyaannya, tapi yang paling sering seperti ini, “Bagaimana cara supaya anak mau mondok di Pesantren?” Atau, “Anaknya sudah hafal berapa juz?” Atau, “Kalau masukkan anak di pesantren, apa biar si anak jadi ahli agama, ustadz, atau kyai?”

Sungguh tidak mudah menjawab pertanyaan seperti itu karena itu soal mindset orang tua tentang pendidikan anak. Pada umumnya orang tua mencita-citakan anaknya setelah besar nanti menjadi dokter, insinyur, pegawai negeri, karyawan perusahaan dengan gaji besar, atau bahkan menjadi pejabat dan politisi kondang. Itulah makanya mereka memasukkan anaknya ke sekolah favorit sejak SD hingga SMA unggulan agar nanti bisa melanjutkan ke universitas terkenal. Bahkan ada juga ortu yang mencita-citakan anaknya menjadi artis terkenal, maka anak-anaknya diikutkan kursus musik, menyanyi, modelling, dsb, lalu si anak pun sering diikutkan lomba atau festival hingga menjadi juara dan bila beruntung bisa menjadi bintang/artis terkenal dan kaya raya.

Begitulah wajarnya orang tua menuntun anaknya agar kelak hidup sukses dengan profesi mentereng sesuai dengan konsepsi tentang sukses saat ini. Hal itu berbeda dengan wali santri yang memilih memasukkan anaknya ke Pondok Pesantren Gontor, misalnya. Kami, juga beberapa wali santri yang pernah ngobrol degan kami, pada umumnya hanya menginginkan anak-anaknya menjadi shalih dan shalihah. Tidak lebih. Tidak berani mencita-citakan anak akan menjadi ini menjadi itu seperti umumnya ortu. Kami hanya meyakini bahwa setelah lulus dari Gontor anak-anak mampu beradaptasi dengan dunia yang dihadapinya, entah dunia kampus/kuliah atau dunia kerja. Kami yakin hahwa anak-anak kami akan mampu istiqamah menghadapi dunia pergaulan yang penuh intrik, hoax dan fitnah rebutan hal-hal duniawi.

Kalau mindset atau konsepsi ortu tentang pendidikan anak masih standar alias konvensional, jangan masukkan anak ke Gontor. Berat, Bro. Anda pasti akan merasa kecele dan kecewa kalau tidak punya setelan layaknya seorang santri. Baru dalam proses pendaftaran saja Anda akan merasa kurang terhormat karena harus antri berhari-hari dan bermalam-malam tanpa fasilitas memadai. Ortu harus siap tidur klesetan di lantai bersama ribuan ortu dan calon santri lain, antri kamar mandi seperti jamaah haji sedang wukuf di Mina, antri makan di kantin yang dikelola santri klas 5-6 dengan menu seadanya, dsb. Bagi yang punya tenda agak lumayan bisa mendirikan tenda di teras gedung atau di halaman dan bawah pohon seperti orang camping sehingga agak punya privacy. Bagi yang datang duluan bisa menempati gazebo-gazebo yang dibangun di bawah pohon pinggir lapangan.

Begitulah, semua ortu calon santri harus bermental santri, sanggup hidup bersahaja setidaknya untuk beberapa hari sampai anaknya dapat kepastian diterima atau tidak. Bila anaknya diterima, ortu pun harus ikhlas anak diterima di Gontor Putri (GP)1, 2, 3 (ketiganya di Ngawi, Jatim), atau di GP 5 di Kediri. Harus manut. Tidak boleh protes. Kalau tidak manut, silahkan anak dibawa pulang seperti halnya anak-anak yang memang tidak diterima karena tidak lulus ujian seleksi masuk. Itulah ujian pertama bagi ortu santri Gontor.

Ujian berikutnya terjadi ketika harus berpisah dengan anak, meninggalkan anak hidup di pondok. Ini jelas berat, Bro, terutama ketika si anak nangis-nangis karena mungkin belum bisa enjoy di pondok. Namanya juga anak, harus berpisah dengan ortu tanpa fasilitas seperti di rumah yang serba komplit dan terpenuhi semua kebutuhannya. Maka tidak jarang ortu di rumah terus kepikiran anaknya sampai-sampai gak bisa makan enak karena membayangkan anaknya menderita di pondok. Padahal, pikiran dan kekhawatiran ortu semacam inilah yang justru membuat anaknya jadi gelisah dan tidak nyaman sehingga prosesnya menjadi santri terganggu. Di sinilah perlunya ortu harus TETEG dan TEGEL alias kuat hati dan tega mengikhlaskan anak berproses di pondok bersama ribuan teman barunya. Dan jangan lupa, sebenarnya anak-anak memiliki kemampuan lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan barunya dibandingkan ortu. Maka IKHLASKAN saja anak berproses di pondok. Percayalah bahwa pondok punya SOP pendidikan anak yang sudah teruji kedahsyatannya.

Pertanyaan berikutnya, “Anaknya di Gontor sudah hafal Al Quran berapa jus?” Perlu dipahami bahwa Gontor bukanlah Pondok Tahfidz sehingga tidak mewajibkan santrinya menghafalkan Al Quran. Ada banyak pilihan kegiatan santri di sana. Ada Pramuka, jurnalistik, sastra, bermacam-macam olah raga, qiro’ah/seni baca Al Quran, musik, pertamanan, kebersihan lingkungan, dan lain-lain, salah satunya adalah kegiatan tahfidz Al Quran. Biasanya anak akan mengambil kegiatan sesuai dengan minat dan bakatnya, meski ada juga yang sekadar ikut temannya. Boleh juga kalau ortu mengarahkan anaknya agar ikut kegiatan tahfidz, dan syukur bila si anak mau dan berminat. Kalau tidak berminat ya jangan dipaksakan.

Pertanyaan berikutnya, “Kalau masukkan anak ke pesantren, apa biar si anak jadi ahli agama, ustadz, atau kyai?” Sekali lagi, sejak awal kami tidak berani memproyeksikan anak akan jadi apa, kecuali jadi anak yang shalih-shalihah yang berbakti dan bisa mendoakan ortunya setelah meninggal nanti. Tidak lebih. Soal rejeki, pasti Allah SWT akan memberikan rejeki sesuai dengan kapasitas dan ikhtiarnya. Sudah ada ratusan ribu alumni Gontor. Mereka masuk ke berbagai sektor kehidupan. Ada yang jadi ulama seperti alm. K.H. Hasyim Muzadi (PBNU), Prof. Din Syamsuddin (Muammadiyah), alm. Dr. Nurcholis Madjid, dll. Ada juga yang jadi politisi ‘hebat’ seperti Hidayat Nur Wahid (PKS) dan Lukman Hakim Syaifuddin (PPP). Ada juga alumni/jebolan yang sulit diidentifikasi karena perannya yang menonjol/jenius di lintas sektoral dan istiqamah menemani umat seperti Cak Nun (Emha Ainun Nadjib). Ada juga yang dianggap ‘mbahnya teroris’ seperti Ustadz Abu Bakar Basyir yang hingga usianya yang sudah uzur pun masih dipaksa hidup di penjara. Ada juga yang jadi diplomat hebat seperti Aji Surya. Banyak juga alumni yang jadi udtadz dan pimpinan Ponpes di berbagai daerah. Bahkan, konon ada juga alumni yang jadi pimpinan/raja preman di satu kota besar.

Ah, jadi teringat puisi Kahlil Gibran, “Anakmu bukan anakmu. Dialah putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri….dst.”

#catatanwalisantrigontor
#sambilnemanianakdaftargontorputrimantingan