Penelitian Mahasiswa UMS: PPDB SD di Kota Solo Banyak Masalah

Pujoko14/06/2019

Penelitian Mahasiswa UMS: PPDB SD di Kota Solo Banyak Masalah

Pujoko14/06/2019
Tim PKM PGSD FKIP UMS

Reporter: Pujoko
MENTARI.NEWS, SUKOHARJO – Tiga mahasiswa Program Studi PGSD FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta melakukan penelitian mengenai pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SD di Kota Surakarta. Ketiga mahasiswa tersebut adalah Irfan Arifuddin, Novita Wulan Sari dan Sadani Haryo Susanto. Lalu apa hasil penelitian mereka?

Pemerintah melalui Permendikbud Nomor 17 Tahun 2017 berharap sistem zonasi mampu menjadi aspek pentingnya terwujudnya pemerataan pendidikan.

Sayangnya, banyak masalah muncul pada saat Pelaksanaan Peserta Didik Baru SD yang menggunakan sistem zonasi yang baru dilaksanakan di beberapa kota besar di Indonesia, termasuk di Kota Surakarta. Pelaksanaan PPDB Zonasi SD di Kota Surakarta melibatkan 162 Sekolah Dasar Negeri dan 17 Sekolah Dasar Swasta .

Berdasarkan penelitian tiga mahasiswa PGSD FKIP UMS tersebut, pelaksanaan PPDB sistem zonasi SD di Kota Surakarta masih menghadapi beberapa masalah. Irfan Arifuddin mengungkapkan bahwa salah satu permasalahan adalah pembagian zona yang kurang akurat.

“Contohnya masalah yang kami temukan di SDN 1 Karangasem dimana ada salah seorang calon peserta didik yang domisilinya kurang dari 100 meter ke SDN 1 Karangasem tetapi sudah berbeda kelurahan. Otomatis siswa yang sebenarnya rumahnya dekat dengan sekolah tersebut tidak diterima karena pembagian zona yang tertera di  Juknis PPDB Kota Surakarta,” terang Irfan.

Sementara itu, Novita Wulan Sari memunculkan masalah lain terkait PPDB dengan sistem zonasi tingkat SD ini, yaitu ada beberapa sekolah yang tidak memenuhi kuota rombongan belajar (romber) yang sudah ditetapkan dinas pendidikan. Padahal tahun tahun sebelumnya selalu memenuhi rombel. Realitas ini muncul di SD N 2 Kleco dan SD N 3 Pajang.

Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah SD N 2 Kleco, menurut Novia, hal ini terjadi karena letak sekolah yang berbatasan dengan zona lain didekatnya.

SD N 2 Kleco pada masa PPDB online hanya mendapatkan 35 peserta didik sedangkan rombel yang ditetapkan adalah 2 rombel atau 56 peserta didik.

Selain letak sekolah yang saling berdekatan namun beda zonasi, penyebab kekurangan rombel yang lain adalah usia masuk sekolah dasar yang relatif sedikit sedangkan daya tampung yang disediakan hanya 2 kelas.

“Letak sekolah yang berdekatan dan berbatasan langsung dengan kelurahan lain menjadikan calon peserta didik tidak bisa memilih SD N 2 Kleco sebagai sekolah pilihan pertama karena sudah berbeda kelurahan,” kata Novia

Hal yang terjadi di SD N 2 Kleco, juga terjadi di SD N 3 Pajang. Letaknya yang berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo menyebabkan pada saat pelaksanaan PPDB Online, SD N 3 Pajang hanya mendapat 5 calon peserta didik yang berdomisili sesuai dengan zonanya.

“Untuk mengatasi permasalahan yang terjadi di beberapa sekolah yang hampir sama dengan SD N 3 Pajang, maka Dinas Pendidikan Kota Surakarta mengeluarkan kebijakan bagi sekolah untuk membuka pendaftaran secara offline demi memenuhi jumlah rombel yang masih belum terpenuhi,” kata Sadani Haryo Susanto, salah satu anggota tim peneliti.

Diharapkan, meski harus bersaing dengan banyak sekali tim penelitian dari UMS maupun non UMS, proposal penelitian Irfan Arifudin, Novita Wulan Sari dan Sadani Haryo Susanto mampu lolos PIMNAS 2019, sebagai ajang tertinggi kompetisi penelitian tingkat mahasiswa nasional yang akan dilangsungkan di Bali pada Agustus mendatang. (*)