Tas Handmade Karya Difabel Weru Diterima Pasar Jawa dan Luar Jawa

Tas Handmade Karya Difabel Weru Diterima Pasar Jawa dan Luar Jawa

Amor Ethnic

Reporter: Rosita Maya Purnamasari
MENTARI.NEWS, SUKOHARJO –Sebagai bentuk dukungan terhadap para difabel yang ada di Desa Grogol, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo, komunitas Self Help Group menyelenggarakan pelatihan khusus bagi para anggotanya. Pelatihan yang dilakukan mengenai pembuatan tas handmade bernuansa etnik dengan brand Amor Ethnic.

Komunitas Self Help Group merupakan salah satu kelompok kerja dari lembaga Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM) Kecamatan Weru. Selain komunitas Self Help Group, RBM juga memiliki kelompok kerja sanggar inklusi. Komunitas Self Help Group yang muncul tahun 2013 itu, fokus pada pengembangan ekonomi dan pemberdayaan orang tua dari difabel.

Relawan komunitas Self Help Group, Darmayanti, mengatakan, dalam pengembangan ekonomi, pihaknya memilih fokus pada produksi tas handmade bernuansa etnik yang diberi nama brand Amor Ethnic.

“Pada awalnya Self Help Group ini fokus pada pelatihan banyak usaha seperti membuat bros handmade, sabun cuci piring, gantungan kunci dari kain fanel. Namun upaya itu hanya bertahan 1 tahun, setelah itu redup dikarenakan persaingan yang sangat ketat dari beberapa produsen lainnya. Dan pada April 2018 lalu kita memberanikan diri untuk launching brand Amor Ethnic,” terang Darmayanti.

Darmayanti menerangkan penjualan tas etnis dengan brand Amor Ethnic sudah menjangkau pasar pulau Jawa dan Kalimantan. Pasar pulau Jawa yang dimasuki adalah di Boyolali dan Magelang di Jawa Tengah, Bandung (Jawa Barat, serta Jakarta. Sedang diluar Jawa, sudah memasuki Bontang Kalimantan Timur.

Asih Mulyani (kanan) dan Hartini (kir) sedang membuat kerajian tas dan juga sarung bantal. (mentari.news)

Penjualan tas etnik Amor Ethnic menggunakan system pesan (by order) oleh konsumen. Harga tas etnik Amor Ethnic berada pada kisaran Rp 75 ribu sampai Rp 600 ribu untuk tiap tas.

Kisaran harga tersebut sudah memperhitungkan tingkat kerumitan pekerjaan, besar kecilnya tas pesanan serta lamanya pengerjaan.

“Untuk pengerjaanya paling cepat membutuhkan waktu 1 minggu dan paling lama 1 bulan. Untuk omset kita belum bisa memperkirakan karena ini juga uang modal yanh masih berputar dan juga masih belum terbukukan,” ujar Darmayanti.

Untuk kedepannya,  Darmayanti mengatakan pihaknya ingin membuat produk baru berupa eco-batik. Pengerjaannya akan menggandeng siswa sekolah luar biasa. Pihak SHG sebagai penyedia pelatihan dan sebagai distributor.

Saat ini, diungkapkan Darmayanti, jumlah difabel di Desa Karangasem ada sekitar 100 orang. Jumlah difabel produktif dan aktif dalam pelatihan ada sekitar 8 orang.(*)