Tragedi Ayam Potong

admin27/06/2019

Tragedi Ayam Potong

admin27/06/2019
bagi-bagi ayam gratis

Oleh : Khafid Sirotudin*

Seminggu terakhir ini banyak viral di medsos & media mainstream terkait aksi bagi-bagi ayam gratis baik ayam potong/ayam pedaging/ayam broiler, baik yang masih hidup atau sudah disembelih. Para peternak yang melakukan aksi/demo ayam berasal dan tergabung dari berbagai Asosiasi/Himpunan/Perkumpulan Peternak ayam yang skala usahanya  UMKM.

Pada era menjelang reformasi th 98-an harga ayam potong juga pernah anjlok. Maka pada saat itu banyak ayam potong yang dibagi-bagikan dalam kondisi hidup. Barangkali–waktu itu– banyak rakyat maklum serta kurang ngeh akibat situasi kondisi negara terkena resesi ekonomi yg menggila sejak 1997..

Sekarang kejadian tersebut terulang. Saat harga ayam anjlok, tentu yang paling terkena imbas pertama adalah produsen/peternak. Harga jual produk ayam potong dibawah Biaya Pokok Produksi (BPP). Tinggal menghitung kerugian yang ditanggung sebesar dan selaras dengan jumlah ayam yang dibudidayakan.

Menariknya justru pemerintah cq Kementrian Perdagangan menghimbau agar peternak membagikan secara gratis ayam-ayam ternaknya kepada rakyat, panti asuhan, lembaga sosial, dst.

Saat ini produksi ayam potong memang lagi melimpah ruah/over supply/produksi berlebihan. Tidak seimbang antara supply and demand. Dua indikator utama untuk menjaga keseimbangan harga barang di pasar.

 

Khafid Sirotudin. (dok.pribadi)

Yang menjadi pertanyaan kami:

Pertama mengapa solusi dr pemerintah bukan dengan cara meminta/memaksa pengusaha-pengusaha Besar untuk menahan over supply daging ayam ke pasar? Bukankah daging ayam potong bisa dibuat frozen/beku untuk jangka waktu relatif cukup lama.

Kedua mengapa pemerintah tidak meminta Bulog dan perusahaan-perusahaan besar membeli ayam milik peternak dengan sedikit keuntungan diatas HPP? Bukankah COD/Bibit Ayam, sapronak dan pakan ternak juga berasal dari Perusahaan-perusahaan itu.

Ketiga Mengapa pemerintah justru menyuruh peternak ayam rakyat (UMKM) untuk membagi-bagikan ayam produksinya yang jelas-jelas kondisinya saat ini gharim (merugi bahkan sebagian bangkrut)? Bukankah seharusnya pengusaha besar/penguasa pasar ayam yang disuruh untuk berbagi daging ayam. Keempat Bukankah pemerintah cq Kementrian Pertanian sudah 2-3 tahun ini berupaya untuk meningkatkan produksi ayam kampung/buras dengan cara memberi gratis bibit ayam dan sapronak kepada rakyat melalui ribuan KUB peternak ayam buras di desa-desa?

Kelima Mungkinkah ada sebuah politik ekonomi yang sedang dimainkan para kapitalis-kapitalis besar per-ayaman di Indonesia.?

Sebagaimana info grafis yang kami terima, konon di Indonesia ada 2 PMA yang menguasai hulu hingga hilir industri ayam potong, dengan market share hingga 80%. Yang lebih mengagetkan lagi, ketika Rabu (26/6/2019), kami silaturahmi ke FEB Undip, ada informasi dari salah satu dosen kami, bahwa saat ini ke-2 penguasa industri Ayam itu sudah melakukan MoU dan kerjasama dengan beberapa PTN untuk pengembangan riset, peningkatan iptek dan rekrutmen tenaga kerja terdidik/Sarjana lulusan PTN yg menjadi partnernya.

Padahal perusahaan-perusahaan itu menguasai pasar ayam potong mulai dari COD/bibit ayam, pakan ternak, distribusi sampai industri pasca panen/industri pengolahannya.

Kami menjadi su’udzan jangan-jangan kebijakan pemerintah cq Kementrian Perdagangan itu justru semakin mendukung usaha-usaha mematikan UMKM, khususnya peternak kecil, dan semakin mengokohkan kartel ayam di Indonesia. Dan usaha untuk menjalankan imperialisme ekonomi sektor daging ayam menjadi sempurna dengan dukungan para akademisi kampus dari berbagai lembaga perguruan tinggi negeri.

Masih adakah sedikit nurani kita untuk berpihak kepada UMKM dan peternak rakyat?

Ada pepatah Jawa: wong bodho dadi pangane wong pinter (Orang bodoh menjadi makanan/sumber penghidupan orang pandai)

Wallahu’alam..

 

*Penulis adalah  Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik -PWM Jateng