UKM Biji Wijen Jagan Sukoharjo Mati Suri

admin15/06/2019

Reporter : Rosita Maya Purnamasari
MENTARI.NEWS, SUKOHARJO – Hidup segan mati tak mau. Ungkapan itu tepat menggambarkan kondisi UKM usaha pengolahan biji wijen jadi minyak wijen dan kecap wijen di Dukuh Jurangsari RT 01 RW 02, Desa Jagan, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo.

Mati surinya usaha pengolahan biji wijen tersebut dikonfirmasi Tutik Sugiyarti, Ketua Kelompok Wanita Tani Putri Mandiri Desa Jagan, Bendosari.

“Usaha pengolahan biji wijen yang sudah berproduksi sejak tahun 2003, saat ini telah mengalami pengurangan omset sangat besar sekitar 90%,” ungkap Tutik Sugiyarti kepada mentari.news, Jumat (14/6/2019).

Dampaknya menurut Tutik Sugiyarti, kondisi usaha biji wijen jadi stagnan, tidak ada perkembangan yang berarti. Ironisnya, situasi sulit tersebut sudah berlangsung selama dua tahun terakhir.

Usaha biji wijen yang dilakukan KWT muncul sebagai program binaan UNS  pada tahun 2003 lalu.  Waktu itu pihak UNS  membuat 2 KWT di Desa Jagan dan Desa Mertan. KWT Putri Mandiri di Desa Jagan beranggotakan 36 orang yang sebagian besar merupakan petani wijen.

 

Produk hasil pengolahan biji wijen berupa minyak wijen dan kecap produksi KWT Putri Mandiri. (mentari.news)

 

Menurut Tutik Sugiyarti, kondisi stagnan selama dua tahun yang dialami pelaku usaha biji wijen terjadi karena tidak berhasilnya kerjasama mereka dengan swalayan seperti mitra, mall besar seperti Goro Assalam, dan hypermart dengan sistem konsinyasi.

Sistem konsinyasi ini mensyaratkan pembayaran kepada pelaku usaha biji wijen setelah produk dari biji wijen mereka bisa terjual.

Hal itu menyebabkan waktu perputaran modal, keuntungan dan produksi yang dimiliki pelaku usaha biji wijen semakin lambat.

Padahal modal untuk berproduksi tersebut berasal dari pinjaman bank. Akibatnya saat harus membayar pinjaman bank uang dari hasil penjualan belum ada.

“Ketika sistem pembayarannya menggunakan konsinyasi perputaran uang modal dan laba jadi melambat. Saat tagihan bank sudah masuk waktu angsuran,  hasil penjualan belum tersetorkan pada kami,” kata Tutik.

Untuk  itulah, menurut Tutik, penjualan produk Biji wijen menggunakan sistem jual putus (by order). Meskipun hanya memperoleh laba sedikit tetapi hasil perputaran uangnya bisa langsung dirasakan.

Ke depan, Tutik berharap mampu meningkatkan penjualan minyak dan kecap wijen dari KWT Putri  Mandiri Desa Jagan. Sementara dari sisi modal, bisa bekerjasama dengan pemodal tanpa menggunakan sistem riba.

“Sehingga tidak terkejar setoran pinjaman serta bisa menjalankan sistem bagi hasil, karena yang paling utama tujuannya agar tidak mematikan UMKM,” kata Tutik. (*)