Dibalik Antusiasme Pelaku Usaha Pariwisata Terhadap Rencana Penerbangan Kunming-Solo

Pujoko13/07/2019

Dibalik Antusiasme Pelaku Usaha Pariwisata Terhadap Rencana Penerbangan Kunming-Solo

Pujoko13/07/2019
Turis China

Reporter: Pujoko
MENTARI.NEWS, SOLO – “Hari ini ada penerbangan perdana Kunming-Solo. Sudah sampai tadi di bandara Solo,” kata Ketua Kadin Solo, Gareng Sri Haryanto usai diwawancarai mentari.news di lokasi Solo Investment Forum 2019 di Atrium Solo Paragon Mall, Kamis (11/7/2019).

“Hari ini ada penerbangan wisatawan Tiongkok yang menggunakan pesawat reguler Citilink Cun Ming-Denpasar yang digunakan untuk mengunjungi Solo,” ujar Wakil  Ketua ASITA Kota Solo, Daryono kepada mentari.news, di lokasi dan kesempatan yang sama dengan Ketua Kadin Surakarta.

Antusiasme  terlihat dari sejumlah organisasi pelaku usaha di Kota Solo  dengan penerbangan perdana secara sewa (charter flight) Kunming-Solo yang dilakukan pada Kamis (11/7/2019).

Bahkan Daryono ikut serta melakukan penyambutan kedatangan 176 wisatawan Tiongkok yang datang di Bandara Adi Soemarmo pada Kamis (11/7/2019).

Diterangkan Daryono, penerbangan reguler pesawat Citilink Kunming-Denpasar yang kemudian menjadi charter flight (penerbangan sewaan) menuju Solo ini dinilai sebagai soft opening penerbangan langsung Kunming Tiongkok ke Solo.

“Nanti akan ada penerbangan charter flight lagi setelah hari ini. Grand opening penerbangan Kunming-Solo dilaksanakan 1 Agustus mendatang. Rencananya, kemungkinan besar tanggal 1 Agustus ya. Karena sekarang kan slot penerbangan belum turun,” terang Daryono.

Dalam charter flight perdana tersebut, dikatakan Daryono, pesawat Citilink membawa 176 wisatawan Tiongkok yang terdiri dari anak-anak dan orang tua.

“Basicnya mereka (wisatawan Tiongkok) adalah familiy. Ada anak-anak, orang tua. Nanti mereka akan tinggal di Solo tiga malam dan Jogja tiga malam,” ungkap Daryono.

Apa arti pentingnya penerbangan Kunming-Solo ini? Daryono menjelaskan penduduk China saat ini mencapai 1,4 miliar orang. 200 juta orang diantaranya berpotensi melakukan traveling. Ini peluang bagi Solo dan Jogja yang sudah ditetapkan sebagai single destination untuk juga bisa China sebagai pasar wisata bagi kedua daerah ini.

“Over views-nya, penduduk China 1,4 miliar. Sebanyak 20%nya, atau 200 juta warganya berpotensi melakukan traveling. Kalau dulu diperebutkan beberapa negara saja, sekarang Pasar Tiongkok diperebutkan ratusan negara. Basic pasarnya family, anak-anak, orang tua,” ujar Daryono.

Wakil Ketua ASITA Jawa Tengah ini berpandangan, banyaknya warga Tiongkok yang melakukan traveling itu disebabkan perekonomian di negara tersebut yang  mapan, asuransi sudah bagus, pemerintah China memberi motivasi masyarakat untuk traveling keluar negeri diantaranya termasuk Indonesia.

“Selama ini (warga) Tiongkok lebih mengenal bali, ternyata setelah diperkenalkan Solo, Solo dipasarkan di tiongkok ternyata dia belum tahu Solo, Borobudur dan Jawa. Nah disana (promosi di China)  sudah Solo-Solo,” kata Daryono.

Diteangkan Daryono, wisatawan Tiongkok mencari tempat-tempat budaya dan pantai untuk dikunjungi. Kalau di Solo, cukup banyak tempat-tempat dengan nuansa budaya yang bisa dikunjungi. Seperti kraton, museum keris, pasar triwindu. Hal ini mengingat orang China yang sangat menghargai budaya lelulur.

“Di Solo, kami berharap yang travel agent yang arrange kedatangan wisatawan Tiongkok ini,  atas saran pak Wali kota juga, bisa berkunjung ke pusat-pusat kebudayaan seperti kraton, museum keris, triwindu. Nanti juga akan menaiki kereta Jaladara. Mereka akan naik nanti tanggal 15 Juli,” ujar Daryono.

Ditambahkan Daryono, ada 1,5 juta wisatawan China yang datang ke Bali. “Ini peluang bagi kita untuk bisa memanfaatkan peluang ini,” ujar Daryono. (*)