Ingin Bisnis Sukses, Gunakan Konsep Habibienomics

admin09/07/2019

Ingin Bisnis Sukses, Gunakan Konsep Habibienomics

admin09/07/2019
Ilustrasi_habibienomic

Oleh: Pranyata, SE.*

Indonesia pernah memiliki konsep pembangunan yang berorientasi keunggulan teknologi dan SDM yang terkenal dengan Habibienomics. Karena langkah ini sangat revolusioner maka memunculkan polemik. Program ini dihentikan lebih karena faktor politis. Tetapi konsep pembangunan yang didasarkan keunggulan teknologi dan SDM yang menjadi inti dari konsep Habibienomis merupakan konsep manjur ‘sang jawara bisnis’ dan telah terbukti di banyak negara, seperti China, Jepang, Korea Selatan serta negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.

Memang tidak mudah mewujudkan konsep Habibienomics untuk skala nasional. Perlu dikembangkan teknologi dan SDM untuk mengolah sumber daya alam Indonesia menjadi bernilai jual yang tinggi. Langkah yang perlu dilakukan di antaranya memperbaiki sistem pendidikan, investasi dengan padat teknologi dan keseriusan dalam membidik produk yang marketable untuk mencapai kemenangan.

Indonesia telah merintis  alih teknologi dan pengembangan SDM dengan mengirimkan anak bangsa untuk belajar ke luar negeri. Selanjutnya dibentuk DPIS (Dewan Pembina Industri Strategis) pada tahun 1983 yang membawahi 8 BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Ini kemudian berlanjut dengan terbitnya Keputusan Presiden No. 44 tahun 1989 yang melahirkan BPIS (Badan Pengelola Industri Strategis). BPIS ini mengayomi sejumlah industri strategis seperti IPTN, PT. PAL, Perum Dahana, PT. Krakatau Steel, PT. Inti, PT. Inka, PT. Boma Bisma, PT. Barata Indonesia, dan Unit Produksi Lembaga Elektronika Nasional (UP-LIPI).

Perencanaan pengelolaan perusahaan strategis tersebut sudah begitu matang, termasuk pengembangan kompetensi SDM. Untuk pengembangan SDM dengan pendidikan di dalam negeri telah ditunjang universitas bergengsi seperti ITB Bandung dan ITS Surabaya sebagai pusat keunggulan pendidikan dan penelitian teknologi bidang dirgantara dan perkapalan.

IPTN telah memproduksi CN-235, CN-250 pesawat udara turboprop bermesin dua untuk 50 penumpang dengan SDM anak bangsa. Sementara PT. PAL produknya meliputi kapal container, semi container, bulk carier dan tanker Carakajaya (3000-5000 ton) serta jenis Palewobowo (20.000-40.000 ton) sudah mulai dirancang bangun dalam industri transportasi. Ini menunjukkan kepada dunia bahwa teknologi canggih bukan monopoli milik negara maju, Indonesia pun mampu.

Rencana pengembangan teknologi Indonesia tersebut berusaha untuk melakukan difersifikasi produk yang berhubungan dengan kebutuhan langsung proses kerja teknologi serta industri. Setiap industri wahana transformasi mencakup berbagai sub industri: industri pembuatan baling-baling pesawat, kerangka roda pesawat terbang,  industri pembuatan gerbong kereta api, industri pembuatan mobilmencakup industri ban mobil, accu, peredam kejut, pegas daun, chasis, mesin bensin dan solar, sistem kemudi, transmisi, gander serta industri poros penggerak (dikutip dari: Renungan Bacharuddin Jusuf Habibie, membangun peradaban Indonesia, 2009, hal. 162).

Kemungkinan masalah yang muncul  dari dampak Habibienomics adalah tergesernya peran perusahaan-perusahaan manufaktur di Indonesia yang bersifat perakitan dan perusahaan (menurut istilah Kwik Kian Gie) manufaktur “tukang jahit”. Sebelumnya perusahaan tersebut telah menikmati laba atas keberadaannya sebagai “kaki tangan” perusahaan induk (dari negara lain), yang tentu saja berasal dari negara maju dan memiliki jaringan bisnis dan politik yang kuat.

Dengan rencana Indonesia untuk mengembangkan teknologi dan SDM tentu membuat perusahaan induk tidak tinggal diam. Karena jika perusahaan perakitan dan ‘tukang jahit’ tersebut mengalami kelesuan usaha, akan mempengaruhi perusahaan induknya.  Kalau perusahaan induk ini mendapatkan ancaman karena eksistensi perkembangan teknologi Indonesia, tentu akan berpengaruh terhadap negara dimana perusahaan induk itu berada. Sehingga langkah Habibienomics ini yang semula masalah bisnis, bergeser politis karena tercampur dengan masalah politik.

Petaka sering datang tiba-tiba dan tak dapat dihindari. Saat perkembangan Habibienomics tersebut masih tahab embrio, tahun 1997 ekonomi Indonesia mengalami krisis.Dampaknya di antara perusahaan industri strategis tersebut mengalami kebangkrutan. Atas kasus ini, BJ. Habibie punya alasan, menurutnya, “Saat krisis moneter, perusahaan itu malah ditikam, tidak diberi kesempatan untuk bertahan.”Alasan ini masuk akal. Karena saat itu Dana Moneter  Internasional (IMF) yang sedang membantu menyehatkan ekonomi Indonesia mengharamkan suntikan modal baru untuk perusahaan dirgantara.

 

Pranyata.SE.(dok.pribadi)

Relevan

Konsep Habibienomics sangat relevan diterapkan dalam perdagangan bebas seperti saat ini. Namun kita tidak bisa berharap banyak kepada pemerintah untuk mengaplikasikannya, karena pada saat kampanye Pilpres kemarin tidak ada janji untuk itu.

Tak perlu khawatir,  tanpa inisiator pemerintah tak berarti tidak bisa dijalankan. Penerapan konsep Habibienomics yang berintikan Keunggulan kompetitif yang berbasis teknologi dan SDM sangat fleksibel, Tidak hanya diterapkan pada perusahaan besar saja tapi konsep tersebut bisa diterapkan dalam bisnis perorangan, usaha rumahan,  koperasi, perusahaan kecil maupun perusahaan  menengah.

Dapat dicontohkan saat ini banyak anak-anak muda yang inovatif. Dengan ilmu yang dimiliki mereka mampu meningkatkan mutu suatu produk dan produk tersebut laku keras ketika dijual secara online. Model bisnis ini telah memberikan inspirasi banyak pemuda yang menggarap berbagai jenis produk. Cindera mata, pakaian, tas, kosmetik, oleh-oleh, hasil bumi, makanan dan masih banyak lagi, saat ini bisa dijual dari rumah ke seluruh pelosok negeri, bahkan ke luar negeri dengan sistem penjualan online. Inilah pebisnis pendatang baru dengan berbekal ilmu pengetahuan. Walaupun modal mereka kecil, tetapi bisa menjelajah pasar yang sangat luas, sehingga memiliki ketangguhan bisnis.

Inovasi bisnis online ini telah menjadi ancaman serius bagi bisnis retail yang telah mapan. Dampaknya tidak sedikit  supermarket yang menutup gerainya dan juga membuat banyak pusat perdagangan yang mulai sepi pembeli.

Diakui memang anak muda yang bisnis secara online tersebut ada juga yang jatuh bangun. Namun kalau mereka konsisten menggunakan konsep Habibienomics, yaitu bersaing dengan mengandalkan teknologi dan kualitas SDM, Insya Allah mereka pada akhirnya akan menang dan sukses. Karena dengan cara seperti itu mereka pada prinsipnya telah memegang konsep ‘Jawara Bisnis Sejati’.

 

*Penulis adalah Sekretaris Majelis Wakaf PDM Kab. Cilacap dan Pemerhati Ekonomi-Sosial