Inovasi dari Jamu Rebusan Jadi Jamu Teh Celup PJ Sutisehati

Inovasi dari Jamu Rebusan Jadi Jamu Teh Celup PJ Sutisehati

Jamu celup

Reporter: Rosita Maya Purnamasari
MENTARI.NEWS, SUKOHARJO – Berawal dari memproduksi wedang lungkrah dan beberapa produk jamu rebusan atau jamu godok serta VCO sejak sekitar tahun 1990an, kini Sutiyem menginovasi produknya menjadi jamu teh celup. Inovasi produk tersebut dilakukan sejak tahun 2006.

Jamu dengan kemasan teh celup yang diproduksi Sutiyem itu tetap mengunggulkan keaslian rasa, warna maupun aroma tanpa tambahan bahan kimia.

Sutiyem memproduksi inovasi jamunya itu di rumah produksinya yang menjadi tempat usaha Perusahaan Jamu uti Sehati di Jalan Jatipuro-Pengkol KM 03, Dukuh Ngemplak RT 02 RW 01 , Pengkol, Nguter, Sukoharjo.

Cukup banyak jenis produk jamu teh celup ang diproduksi oleh Sutiyem di rumah produksinya tersebut. Seperti teh celup SIRMA (Sirsat Manis), teh celup Jati Cina, teh celup Rosella, teh celup wedang lungkrah serta beberapa racikan untuk herbal rebusan atau wedang godokan.

 

Pekerja PJ Sutisehati mempersiapkan produk jamu celup di rumah produksi Nguter. (mentari.news)

Untuk bahan baku, Sutiyem mengaku menggunakan bahan hasil tanam sendiri. Sementara untuk beberapa bahan lain yang tidak dipunyai Sutiyem akan dibeli di pasar seperti kayu manis dan beberapa bahan lainnya.

“Untuk produksi disini sekali giling sekitar 29 kg bahan baku jamu dan nantinya akan jadi sekitar 80 sampai 100 kantung jamu teh celup,” ujar Sutiyem.

Sutiyem juga menambahkan jika dalam satu box teh celup berisikan sekitar 20 sachet jamu. Dan tiap boxnya di bandrol dengan harga mulai dari Rp 25.000 sampai dengan Rp 35.000.

Sementara untuk pemasarannya, Sutiyem mengatakan sudah sampai di area Solo Raya, Bogor , Papya, Sumatra.

Omset turun 50%

Namun dalam 3 bulan terakhir ini, Sutiyem mengaku mengalami penurunan omset hingga 50%.

Hal ini disebabkan selain karena faktor produksi yang sudah tidak seperti dulu, juga karena pemindahan kepemilikan dari milik pribadi menjadi milik perusahaan.

“Sejak 7 bulan yang lalu kita pindah kepemilikan, kita menjadi tidak seproduktif dulu. Dan kemarin itu sempat ada rumor akan dikembalikan atas nama pribadi lagi dan semoga saja hal ini segera terlaksana,” ungkap Sutiyem. (*)