Legawa

admin12/07/2019
admin12/07/2019
Image003

Oleh: Wahyudi Nasution*

“Wah baru kali ini aku kalah Pilpilan, Om,” Sasa mengawali obrolannya sore ini. “Ternyata sangat tidak enak, ya.” lanjutnya.

“Nyeseg ya, Sa?” tanyaku.

“Banget, Om. Sampeyan kan tahu, sejak pertama ikut Pemilu dulu, aku selalu di pihak yang menang. Setelah reformasi pun aku juga selalu menang baik di Pemilu, Pilpres, maupun Pilgub, Pilkada, dan Pilkades. Baru kali ini pilihanku kalah.”

Istriku datang menyajikan dua gelas kopi semendo dan gorengan pisang kepok yang baru kupanen kemarin pagi. Dia paham betul setiap sahabatku satu ini datang pasti ingin ngobrol sambil ngopi, dan biasanya cukup betah ngobrolnya.

“Mbok sudah, Sa. Gak usah digagas, gak usah baper. Pertandingan sudah selesai kok. Slow waelah.”

“Penginku juga begitu, Om. Tapi ini kalahnya bukan karena benar-benar kalah je, Om, tapi kalah karena dibuat kalah. Diakali….”

“Lha kok gitu, Sa?”

“Lha iya, to? Sudah jelas-jelas banyak kecurangan di sana-sini, lha kok sidang MK kemarin tidak dimasalahkan sama-sekali, dianggap tidak ada bukti tidak ada saksi,” kata Sasa menampakkan kekesalannya. “Harusnya wasit bisa adil, Om. Seperti dalam permainan sepak bola, kalau ada pemain yang ngawur dan main gasak hingga mencederai pemain lawan, dia pasti diganjar kartu merah dan harus keluar lapangan,” lanjutnya.

“Itu kan sepak bola di luar negeri, Sa, seperti Liga Premier, Liga Champions atau Piala Dunia. Sepakbola di sini kan beda.”

“Beda pripun, Om?”

“Loh, Sasa pasti masih ingat beberapa bulan lalu petinggi PSSI kita, juga beberapa pemilik klub dan pemain ditangkap polisi karena kasus kongkalingkong, kan? Pertandingan sepakbola yang melibatkan dana besar dari negara dan para sponsor, juga ditonton oleh jutaan orang baik langsung maupun melalui tivi, ternyata bisa diatur oleh para botoh alias penjudi dengan cara menyuap para wasit, pamain, petinggi klub dan pengurus PSSI. Pemenang pertandingan dan skornya bisa diatur sesuai keinginan botoh. Ingat to, Sa?”

“Iya masih ingat. Jinguk tenan. Tapi kan mestinya itu tidak terjadi pada Pemilu dan Pilpres yang katanya pesta demokrasi, Om?”

“Walah, Sa, kamu ini kok lupa dengan kata-katamu sendiri.”

“Yang mana?”

“Ojo gumunan, ojo kagetan. Itu kata-kata yang sering kamu ingatkan ke aku, lho.”

“Wah, tapi kali ini aku benar-benar heran kok, Om. Orang sudah kalah karena dicurangi, eeh lha kok masih dioyak-oyak diajak rekonsiliasi, disuruh ngucapkan selamat, dan diiming-imingi satu-dua jabatan menteri. Kalau tidak mau dibilang tidak legawa, tidak kesatria, tidak mengakui kekalahan  Lha wong jelas diuriki disuruh legawa. Puluhan juta pendukungnya jelas tidak mau, Om.”

“Termasuk Sasa, kan?”

“Ya termasuk Sampeyan ini….wkwkwk.”

“Aku justru heran sama kamu lho, Sa.”

“Pripun, Om?”

“Omongan politisi kok tok gagas, tok rasakke. Mbok nganti modyar kamu pasti akan kecele. Begini lho, Sa, kalau mereka bilang A, itu belum tentu A. Bisa jadi yang dimaksud B, C, D, atau bahkan X dan Z. ”

“Lha kalau polisi, jaksa, dan hakim kan bukan politisi, Om? Mereka penegak hukum. Jadi kalau bilang A tentu saja memang A, bilang B ya B.”

“Itu rak karepmu, Sa? Kamu juga harus ingat jer basuki mawa bea, lho.”

“Maksudnya?”

“Sa, jaman sekarang ini, untuk jadi pejabat atau tokoh yang bisa sering tampil di tivi,  semua pakai biaya. Tidak ada makan siang gratis, begitu istilahnya. Masuk jadi ASN atau anggota polisi mesti pakai biaya yang tidak sedikit. Mau naik pangkat harus pakai biaya juga. Begitu juga jaksa dan hakim, Sa. Sama saja dengan politisi, sama-sama pakai biaya. Untuk daftar jadi caleg harus bayar ke parpol. Untuk bisa maju jadi cabup, cagub, dan capres harus mendapat dukungan dari parpol. Itu pakai mahar cukup besar, Sa. Cuma bedanya kalau di politik calon-calon itu dipilih oleh rakyat. Makanya setiap menjelang pemilu para politisi sibuk nyiapkan amplop untuk membeli suara rakyat, alias nyogok rakyat. Iya, to? Kalau pejabat mau naik pangkat dan mendapat posisi bagus, yang penting dia harus pinter-pinter ndlosori atasan. Dan itu semua pakai biaya, Sa. Pakai mahar juga. Makanya orang kalau lagi menjabat harus pinter-pinter bermain, Jangan salah menempatkan diri, harus pinter bermain mata. Kalau tidak bisa jadi kere, gak cepat balik modalnya, Sa. Rugi sendiri.”

“Wah jiaan….nasib…nasib. Rakyat ingin ada perubahan agar hidup menjadi lebih baik kok dihalang-halangi, digagalkan. Jindul tenan…..”

“Sasa jangan lupa, disamping rakyat yang ingin ada perubahan, juga banyak pejabat dan penikmat kue kekuasaan yang ingin bertahan, lho. Mereka punya modal besar untuk mengamankan posisinya. Rakyat punya apa coba? Ora gablek opo-opo selain keinginan, niat baik, dan akal sehat. Jangan lupa juga bahwa masih banyak rakyat yang nyatanya masih gampang kesengsem amplop dan rayuan gombal. Iya to, Sa?”

“Terus bagaimana ini baiknya, Om?”

“Ikhlaskan apa yang sudah terjadi. Ingat, Sa, Gusti Allah tidak akan membebani seseorang di luar kemampuannya.”

“Maksudnya?”

“Rakyat seperti kita tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas kacau dan rusaknya pengelolaan negara ini. Yang harus bertanggungjawab terutama adalah para politisi, para pejabat dan penegak hukum.”

“Lha kalau para ulama, wong-wong pinter dan cendikiawan, Om? Mereka juga harus bertanggungjawab, kan?”

“Ya pasti harus bertanggungjawab, Sa, tapi sebatas apakah dengan ilmunya itu mereka sudah melaksanakan tugas mengingatkan semua orang mana-mana perilaku yang baik dan mana yang tidak baik, mana yang sesuai dengan tuntunan Tuhan dan mana yang dilarang. Bila sudah diingatkan tapi orang tetap melanggar dan mendustakan, ya serahkan saja pada Tuhan Yang Maha Hakim dan Maha Adil.”

“Om, lha kalau ulama dan cendikiawan malah ikut rebutan kekuasaan, njur pripun?”

“Wah ya bisa repot, Sa. Kebaikan dan kebenaran jadi samar, lamat-lamat, bruwet, kabur.”

“Bisa rusak-rusakan ya, Om.

Ah sudahlah, aku mau mikir keluargaku sendiri saja. Gak usah melu mumet mikir negara. Bekerja sebaik-baiknya sebagai tukang parkir sajalah. Dapat rejeki banyak disyukuri, dapat sedikit ya alhamdulillah. Gitu aja to, Om?”

“Betul itu, Sa. Kata kunci agar hidup ini bahagia ya cuma satu itu, bersyukur. Apapun yang terjadi disyukuri, tidak usah nggrundhel, tidak usah nggresula.”

“Njih, Om. Matur nuwun. Saya pamit dulu, ya.”

Sasa pun pulang mengayuh sepeda jengkinya. Sebentar lagi waktu maghrib. Anak-anak yang sedari tadi wira-wiri main sepeda sudah tak tampak lagi. Tentu mereka sudah di masjid dan siap-siap berebut speaker azan. Biarkan saja. Namanya juga anak-anak. Meski suara dan nadanya masih lugu dan kurang bagus, tapi merekalah yang akan memakmurkan masjid di masa-masa yang akan datang. Maka berilah kesempatan anak-anak berlatih mencintai masjid. Begitu pesan guru ngajiku dulu.

 

#serialsasa

 

 

__________________________________________________________

*Penulis adalah anggota Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah.