Libatkan Kopassus dalam Diklat Ketarunaan, Ini Alasan SMK Muhammadiyah I Sukoharjo

Pujoko28/07/2019

Libatkan Kopassus dalam Diklat Ketarunaan, Ini Alasan SMK Muhammadiyah I Sukoharjo

Pujoko28/07/2019
Diklatsar ketarunaan

Reporter: Pujoko

MENTARI.NEWS, SOLO – Selama hampir satu pekan penuh, sejak Senin-Sabtu (22-27 Juli/2019), dari jam 06.00 pagi sampai 16.00 WIB, siswa kelas X SMK Muhammadiyah I Sukoharjo mengikuti Pendidikan Latihan Dasar Ketarunaan bersama pendamping dari Grup 2 Kopassus Kandang Menjangan.

Diklatsar Ketarunaan dengan menggandeng Kopassus yang dilakukan SMK Muhammadiyah I Sukoharjo sedikit banyak menghadirkan pertanyaan apa alasan pihak sekolah menghadirkan “wajah militer” dalam mendidikan siswa mereka.

Apalagi ditengah pandangan umum yang belum selesai mengenai “militerisme dan dunia pendidikan” yang cukup kuat terhubung dengan nuansa “keras”.

Pihak sekolah menerangkan ada alasan hukum negara, pembinaan karakter anak didik serta tuntutan dunia kerja dibalik dilaksanakannya Diklatsar ketarunaan kepada siswa kelas X dengan menggandeng Kopassus  yang dikenal luas sebagai salah satu kelompok pasukan elit militer dunia.

Dalam konteks hukum, menurut Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah I Sukoharjo, Bambang Sadana,  sebagai implementasi dari Peraturan Presiden No 87 Tahun 2018 mengenai Pendidikan Karakter Anak Bangsa.

Kedua sebagai pelaksanaan dari instruksi Direktorat Pendidikan SMK Kemendikbud yang meminta kepada SMK-SMK supaya memberi pendidikan caracter building terkait dengan tuntutan industri saat ini yang mengharapkan lulusan SMK harus memiliki karakter kuat, skill serta pengetahuan.

Salah satu cara pembentukan karakter dengan ketarunaan. Prinsip kita bekerjasama dengan militer. Ini sudah berjalan mulai dengan Kodim sejak 2000. Tahun ini kita sengaja mematangkan lagi dengan menggandeng Kopassus, karena Kopassus adalah pasukan elit luar biasa di mata dunia. Kita menggaet militer karena dengan dasar dasar kemiliteran bisa membentuk jiwa korsa, kebersamaan, loyalitas dan tanggung jawab sangat kuat,” ujar Bambang Sadana, usai upacara penutupan Diklatsar Ketarunaan di Alun-Alun Satya Negara Sukoharjo, Sabtu (27/7/2019).

Diakui Bambang Sadana, memang belum ada peraturan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah mengenai pelaksanaan Diklatsar Ketarunaan seperti yang dilakukan SMK Muhammadiyah I Sukoharjo.

“Kami mengacunya pada Keppres 87/2018 tentang Penguatan Karakter anak Bangsa. Dengan begitu kami siap untuk membimbing anak-anak SMK Mutu sesuai yang diharapkan dunia usaha,” terang Bambang Sadana.

Sementara itu Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sukoharjo, Wiwaha Aji Santoso mengatakan diklatsar ketarunaan yang dilaksanakan SMK Mutu Sukoharjo ini merupakan implementasi dari

al mu’minul Qowiyyu khoiru Wa ahabbu ilallah minal mu’minidh dho’if  (Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada mukmiin yang lemah, H.R Muslim).

 

“Ini merupakan implementasi dari al mu’minul  Qowiyyu Wa ahabbu ilallah….. Jangan salah tafsir bahwa di sementara pihak ada yang melakukan demiliterisasi tapi di Muhammadiyah memandang  plus minus pasti ada. Kepada siswa perlu dibekali hal-hal yang terkait dengan kedisiplinan, sportivitas dll dan itu kita lihat Kopassus memang jagonya. Mudah-mudahan apa yang ada bisa dipahami betul oleh anak-anak dan orang tua,” terang Wiwaha.

Selanjutnya, menurut Wiwaha, tanggung jawab mendidik generasi anak didik adalah orang tua, masyarakat dan pemerintah. Pemerintah melalui Dirjen PSMK. Masayrakat melalui Muhammadiyah dengan menjalankan amal usaha pendidikan dan kembali kepada orang tua.

Maka mari bersama-sama guyup rukun, kritik dan saran orang tua terhadap sekolah sangat dibutuhkan. Demikian juga kalau sekolah memberikan punishment kepada anak mohon bisa dipahami.

“Kalau kurang bisa dipahami, diperjelas kenapa kok dapat hukuman. Karena sering kita ketahui, bisa jadi anak didalam rumah alim tapi kalau diluar  tidak seperti didalam rumah. Nah ini yang sering jadi miss komunikasi antara keluarga dengan sekolah.Maka saya minta, Muhammadiyah bertekad sebagaimana K.H Ahmad Dahlan  mendirikan Muhammadiyah, mempercepat amaliah untuk selamat dunia akhirat,” ujar Wiwaha.

Sementara itu Kepala Tim Pelaksana Diklatsar Ketarunaan dari Kopassus Kandang Menjangan, Sersan Mayor Edi Prayitno menerangkan, dalam diklatsar ketarunaan ini diperkenalkan sedikit ilmu kemiliteran.

“Yang kita sampaikan Cuma semi-seminya saja. Sedikit saja untuk pengetahuan dasar militer. Tujuan utamanya untuk kedisiplinan dan penbentukan karakter siswa kita latihkan PBB, senan dasar militer, kegiatan bela diri militer yang praktis. Semuanya itu berada dalam 3 aspek ilmu pengetahuan dan ketrampilan, binjasmil (Pembinaan Jasmani Militer) dan terakir kepribadian ,” kata Serma Edi Prayitno.