Maju Pilkada Sukoharjo 2020, Ini “Statement Politik” Wiwaha Aji Santoso

Pujoko28/07/2019

Maju Pilkada Sukoharjo 2020, Ini “Statement Politik” Wiwaha Aji Santoso

Pujoko28/07/2019
Wiwaha

Reporter: Pujoko
MENTARI.NEWS, SOLO – Pilkada Sukoharjo 2020 masih sekitar satu tahun lagi akan berlangsung. Namun begitu, dinamika politik menuju Pilkada 2020 sudah terasa menghangat.

Salah satu warna dinamika Pilkada Sukoharjo 2020 yang mulai menyita perhatian publik Sukoharjo adalah kemunculan sosok Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sukoharjo, Wiwaha Aji Santoso yang telah menyatakan diri maju dalam kontestasi Pilkada Sukoharjo 2020.

Guru, mubaligh, aktifis pramuka ini tiba-tiba masuk dalam kontestasi politik lima tahunan di Sukoharjo tersebut, dari sebelumnya selama lebih dari 30 tahun menjadi figur yang dekat dengan bidang pendidikan, sosial, dan keagamaan serta olahraga. Dan bukan politik.

Sejumlah partai politik baik secara organisasi maupun personal telah berkomunikasi dengan Wiwaha untuk diajak maju dalam kontestasi Pilkada Sukoharjo tahun depan.

Menariknya, sejumlah dukungan secara independen mulai bermunculan bahkan hingga di dunia maya. Jajak pendapat ataupun survei di media sosial maupun internet menempatkan Wiwaha sebagai figur pilihan teratas mengalahkan figur-figur lain yang notabene orang parpol atau didukung parpol.

Para pendukung juga mulai “bergerak” melakukan dukungan secara riil misalnya dengan menggelar pertandingan olahraga mengatas namakan Wiwaha sebagai nama kejuaraan.

Kepada sejumlah awak media termasuk mentari.news dalam wawancara pada Sabtu (27/7/2019) di SMK Muhammadiyah Sukoharjo, Wiwaha Aji Santoso memberikan pernyataan (statement) pertamanya mengapa ia berkomitmen maju dalam Pilkada Sukoharjo 2020.

“Ya yang pertama, tentu saya mengapresiasi apapun langkah masyarakat Sukoharjo (dalam memberi dukungan).  Saya mengedepankan husnudzon. Saya tidak tahu siapa yang membuat (dukungan-dukungan itu).  Bagi kami, saya mengapresiasi. Setiap langkah perlu disyukuri. Jadi saya mensyukuri, kalau memang itu riil dan ikhlas. Karena saya maju bukan mencalonkan diri tapi dicalonkan. Ini harus digaris bawahi. Benar-benar digaris bawahi,” ujar Wiwaha.

Sebagai cara untuk memperlihatkan ucapan bahwa ia bukan mencalonkan diri namun dicalonkan itu, diakui Wiwaha, ketika sejumlah partai politik maupun individu partai politik datang ke rumahnya di Balesari, Mulur, Wiwaha mengundang tetangganya untuk mengikuti pertemuannya dengan utusan parpol tersebut.

 

Wiwaha Aji Santoso, Ketua PDM Sukoharjo berkomitmen maju dalam Pilkada Sukoharjo 2020. (mentari.news)

“Maka ketika beberapa partai politik datang kerumah itu saya undang tetangga, tokoh-tokoh sekitar saya undang biar tahu bukan saya yang mencalonkan. Karena bisa dikatakan kok seperti mencoba nggayuh lintang (meraih bintang) kalau saya mencalonkan (maju Pilkada Sukoharjo), karena saya tidak punya logistik, sesuatu yang di politik ini sedang marak.

Lalu apa yang menjadi modal Wiwaha maju dalam Pilkada Sukoharjo 2020?

Ketua Tapak Suci Jawa Tengah ini mengatakan ketika saatnya nanti Allah SWT memberi amanah (menjadi kepala daerah) melalui partai politik ataupun jalur independen, ia akan menggunakan kekuasaan yang dipegang sebagai sarana perjuangan.

“Saya ingin orang kecil ini tidak dijadikan tameng, bukan jadi pemanis janji. tapi akan kita buktikan (janji itu). Maka saya minta partai politik yang mendekati saya atau masyarakat yang ingin mendukung saya secara independen, paham dengan apa yang saya mau. Jadi kekuasaan hanya sarana perjuangan,” ujar Wiwaha yang juga seorang guru di SD negeri di Tepisari Polokarto tersebut.

Pernyataan kekuasaan hanya sebagai sarana perjuangan tersebut muncul dari realitas yang dihadapi Wiwaha ketika berada di tengah-tengah masyarakat baik saat menjadi guru, maupun mubaligh dan kegiatan kemasyarakatan lain di berbagai bidang.

Ia begitu miris dengan situasi hidup masyarakat bawah yang kerap kalah pilihan politiknya karena adanya politik uang. Hal itu berdampak pada sikap apatis publik terhadap situasi dan kondisi yang ada dan dalam jangka panjang realitas ini membahayakan bahkan bagi bangsa dan negara.

“Tapi mohon maaf saya berangkat dari seorang guru, saya melihat miris dengan beberapa kali Pemilu baik di tingkat desa sampai Pilpres. Sungguh miris. Ini bisa jadi salah bisa benar, tapi jiwa saya sebagai seorang guru miris, mirisnya dimana?  Karena uang jadi panglima. Ini (money politik) yang media massa harus ikut berperan (mengatasinya). Saya pernah menyampaikan pengajian, ketika itu selesai pengangkatan perangkat desa, menjelang ujian. Lalu saya dorong, ‘bapak ibu, putra wayah didorong , digretehi untuk sregep sinau. Ada yang nyeletuk,’nggo opo pak sinau.’ Saya kan hafal dengan suara itu. Selesai pengajian saya dekati ibu tadi. “Mbokde sajake kok nggalaki kalih kulo enten nopo? (Ibu sepertinya galak kepada saya ada apa). ”Ora mas. Iki soale kahanan, mas Guru. Aku yo tenanan loh. Awan tak nggo bengi, bengi tak nggo awan. Ning kok sidane kok ger kalah karo duit (tidak marah mas. Ini soal situasi Mas Guru. Saya juga serius loh. Sampai-sampai malam hari saya buat siang, siang saya buat malam. Tapi kok akhirnya kalah dengan uang)

Hal demikian ini, jika tidak ada pihak yang memberikan terapi kejut, maka, menurut Wiwaha, anak-anak yang “kurang banyak uang” itu jadi apatis. Bagi guru, input bodoh atau kurang pintar itu biasa. Banyak strategi belajar yang bisa dilakukan untuk menjadikan siswa itu pintar.

“Tapi ketika berjumpa anak apatis itu sangat berat. Dan kami tidak ingin ada revolusi. Kalau ini dibiarkan, 10-20 tahun lAGI bisa revolusi anak-anak yang memendam kekecewaan. Jujur itu (alasan maju Pilkada). saya sampaikan lebih awal kepada para parpol itu. Siap tidak mengusung saya dengan prinsip saya ini, padangke ngarep daripada rame mburi. (dijelaskan diawal dulu daripada ada masalah dibelakang). Saya bilang begitu,” ujar Wiwaha.

Ditanya mengenai partai politik apa saja yang sudah datang dan melakukan komunikasi politik dengannya, Wiwaha mengungkapkan PAN, PPP dan PKS. Kalau secara personal juga sudah datang dari Partai Nasdem, Gerindra hingga beberapa personal PDIP juga sempat komunikasi.

“Paling awal datang itu PAN. Isi komunikasinya, mengajak berkontestasi, mau diajak maju ke Pilkada ke 2020,” ujar mantan Ketua Pemuda Muhammadiyah Sukoharjo tersebut.

Dalam konteks partai politik, disebutkan Wiwaha, ia tidak melihat pada partai politik untuk bersama-sama maju dalam Pilkada tapi pada komitmen yang disepakati partai politik atau masyarakat independen dengan dirinya.

Sehingga apapun partainya, harus mau menjadikan kekuasaan sebagai sarana perjuangan, memberikan keteladanan. Kalau jadi kepala daerah mau mengepalai seluruh daerah, bukan partai, bukan golongan.

“Situasi Indonesia yang carut marut ini sebenarnya ego dari penguasa tertentu saja. Kita harus buktikan. Maka saya memberi keteladanan. Pertama, saya menghormati siapapun.  Apapun partainya yang komunikasi dengan saya, saya hormati. Kemudian kepada para pendukung, saya minta jangan ada saling menjelekkan satu dengan yang lain. Kita ini manusia biasa, punya plus dan minus. Ini tidak lazim di dunia politik tapi saya akan mewarnai ketidak laziman ini dengan nilai-nilai yang sangat penting untuk dibawa sehingga menjadi lazim. Jadi saling menghormati, saling menghargai, memberi keteladan, tidak membuat black campaign terhadap lawan itu supaya jadi hal lazim.

Wiwaha menandaskan harus ada kesepakatan komitmen antara dirinya dengan siapapun pihak-pihak yang mendukungnya.

“Karena saya ingin Sukoharjo itu makmur betul. Dalam arti, selain sebagai akronim juga riil. Kita tidak usah ditutupilah. Sekarang ini like and dislike masih ada, dsb. Saya tahu Sukoharjo sudah baik. Tapi sebagai bagian dari warga Sukoharjo, saya pengin potensi untuk jadi lebih baik itu terwujud,” tandas Wiwaha. (*)