Mendikbud Tidak Anti Agama

Mendikbud Tidak Anti Agama

admin13/07/2019
admin13/07/2019
Mendikbud

Oleh: Jufra Udo*

Akhir-akhir ini, publik dihebohkan isu penghapusan pelajaran agama di sekolah. Bahkan beredar kabar; pondok pesantren ditiadakan,  bakal diganti dengan sistem sekolah biasa.

Kehebohan masih berlangsung hingga sekarang. Lewat tulisan, diskusi lepas di kantin-kantin, bahkan orang-orang yang ngumpul di warkop, sayup-sayup terdengar ngerumpi soal ini.

Titik kehebohan itu, akhirnya bermuara pada kesimpulan; Mendikbud, Muhadjir Effendy, phobia Islam. Ah, masa sih?

Dihimpun dari beberapa sumber akurat, kehebohan itu berbalik. Mendikbud saat ini, justeru tengah berupaya pada program penguatan pendidikan agama Islam.

Pelajaran agama tidak dihapus, melainkan diperkuat dengan berbagai model. Salah satunya, siswa diarahkan untuk belajar agama di luar kelas. Baik di rumah ibadah, maupun bentuk-bentuk kegiatan keagamaan lainnya.

Secara regulasi, rencana Mendikbud tentu dibenarkan, sejalan dengan tujuan sistem pendidikan nasional kita. Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, tujuan pendidikan adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggnug jawab.

Di samping itu, Permendikbud  Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah dikatakan, sekolah dapat bekerja sama  dengan lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan karakter yang sesuai dengan nilai karakter utama religiusitas atau keagamaan. Secara rinci, diatur dalam Pasal 5,6,7, bahwa sekolah mendorong penguatan karakter religius melalui kegiatan ekstrakurikuler.

Dalam Permendikbud tersebut, peserta didik didorong untuk intens pada tiga metode pendidikan; yakni intrakurikuler, kokurikuler, dan esktrakurikuler.

 

                          Jufra Udo. (dok.pribadi)

Intrakurikuler merupakan kegiatan yang dilaksanakan untuk penguatan atau pendalaman kompetensi dasar atau  pada mata pelajaran/bidang sesuai dengan kurikulum. Kokurikuler, kegiatan pengayaan mata pelajaran, kegiatan ilmiah, pembimbingan seni dan budaya, dan/atau bentuk kegiatan lain untuk penguatan karakter peserta didik.

Sedangkan, ekstrakurikuler merupakan kegiatan di bawah bimbingan dan pengawasan sekolah yang bertujuan untuk mengembangkan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerja sama, dan kemandirian peserta didik secara optimal untuk mendukung pencapaian tujuan pendidikan.

Aktivitas ekstrakurikuler meliputi kegiatan krida, karya ilmiah, latihan olah-bakat/olah-minat, dan keagamaan. Keagamaan meliputi aktivitas keagamaan seperti madrasah diniyah, pesantren kilat, ceramah keagamaan, katekisasi, retreat, baca tulis Al Quran dan kitab suci lainnya. Model kokurikuler dan ekstrakurikuler dapat dilaksanakan di dalam sekolah maupun di luar sekolah.

Beberapa daerah sudah menjalankan Permendikbud tersebut. Diantaranya, Kabupaten Siak. KBM di sekolah berlangsung hingga pukul 12, dilanjutkan ekstrakurikuler keagamaan yakni belajar agama bersama ustaz. Siswa diberi makan. Dana kegiatan ini bersumber dari ABPD. Juga, Kabupaten Pasuruan, usai sekolah, siswa belajar di madrasah diniyah.

Terkait isu penghapusan sekolah pesantren, itupun hoaks, yang patut diduga sengaja dihembuskan untuk menciptakan gonjang-ganjing, yang pada akhirnya menciptakan riuh di publik.

Justru, pemerintah saat ini tengah mematangkan RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan. Salah satu pokok pikiran dalam RUU  tersebut adalah upaya menghadirkan ruhul ma’had atau ruhnya pesantren. Termasuk mengatur syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh pesantren.

Menurut Menteri Agama, Lukman Hakim  Saifuddin, seperti dilansir dari Republika (10/7), selama ini, selalu ada klaim yang mengatas namakan pesantren. Tapi pelaksanaan instrumen pendidikannya tidak sejalan; tidak ada kajian kitab-kitab, tidak ada kiai, tidak ada ajaran keagamaan, adanya hanya kegiatan-kegiatan fisik. Olehnya, kata Lukman, harus didudukkan  bahwa pesantren harus betul-betul memiliki rukun pesantren.

Dan, RUU itu didorong untuk menghindari stigma radikalisme dan ekstrimisme yang selalu melekat pada institusi pendidikan Islam, seperti pesantren.

Saya kira upaya itu harus diapreasi positif. Tugas kita sebaga warga negara, ialah mengawal dan ikut berperan aktif  terhadap upaya-upaya Pemerintah demi terselenggaranya tujuan pendidikan kita. Tidak elok bila terus-terusan berburuk sangka, baik kepada Pemerintah, atau kepada siapa pun. Allah melarang setiap Muslim untuk berburuk sangka, sebagaimana firman-Nya;

 “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 12)

Ulama juga sudah memberi peringatan bahaya sifat buruk sangka. Salah satunya, Syaikh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di rahimahullahu Ta’ala. Ia berkata;

“Sesungguhnya adanya su’udzan buruk sangka dalam hati tidak akan menyebabkan pelakunya tersebut akan berhenti di situ saja. Akan tetapi, buruk sangka tersebut akan terus-menerus ada sampai pelakunya tersebut berkata dan berbuat yang tidak sepatutnya.” (Taisiir Karimirrahman, hal. 801)

Demikian, semoga memberi pencerahan kepada kita semua, dan terhindar dari sifat buruk sangka.

 

 

_____________________________________________________________________

*Penulis adalah aktifis di beberapa organisasi. Berminat pada diskusi literasi dan sosial. Berdomisili di Kota Kendari.

*Isi tulisan tidak menjadi tanggung jawab redaksi namun menjadi tanggungjawab penulis.