Program S-3 Ilmu Hukum Pascasarjana UMS Luluskan Doktor ke-21

Pujoko05/07/2019

Program S-3 Ilmu Hukum Pascasarjana UMS Luluskan Doktor ke-21

Pujoko05/07/2019

MENTARI.NEWS, SUKOHARJO – Dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) NTB, Hilman Syahrial Haq, S.H., LLM menjadi lulusan dokter ke-21 yang diluluskan Program S-3 Ilmu Hukum Sekolah Pascasarjana UMS usai berhasil mempertahankan disertasi S-3 Ilmu hukumnya dihadapan penguji dalam ujian S-3 UMS, Kamis (4/7/2019).

Disertasi yang mengantar Hilman memperoleh gelar Doktor Ilmu Hukum (S-3)dari UMS tersebut berjudul “Konflik Hukum Lokal dengan hukum Nasional: Studi Resolusi Konflik Menuju Konvergensi Hukum Pada Perkawinan Merarik dan Waris Adat Masyarakat Sasak Lombok”. Ujian Doktor Hilman dilaksanakan di ruang seminar lantai 5 Gedung Sekolah Pascasarjana UMS

Promovendus Hilman Syahrial Haq dipromotori Prof. Dr. Khudzaifah Dimyati, S.H., M.Hum. Sementara Ko-Promotor pertama Prof. Dr. Absori,S.H., M.Hum., dan Dr. Nurhadiantomo. Hilman Syahrial harus berhadapan dengan 4 penguji yaitu Prof. Dr. Bambang Sumardjoko, Prof. Dr. Harum, S.H., M.Hum., Dr. Kelik Wardjono, S.H., M.H., Prof. Dr. Esmi Warassih Pujirahayu, S.H., MS.

Tujuan Penelitian dari disertasi yang dibuat Hilman adalah mendeskripsikan konflik hukum lokal dengan hukum nasional pada perkawinan merarik dan waris adat masyarakat Sasak Lombok. Selain itu juga untuk mendeskripsikan sarana penyelesaian sengketa timbul akibat konflik hukum lokal dengan hukum nasional pada perkawinan merarik dan waris adat masyarakat Sasak Lombok. Serta merumuskan resolusi konflik menuju konvergensi hukum pada perkawinan merarik dan waris adat masyarakat Sasak Lombok.

Hilman berharap disertasi tentang perkawinan merarik dan waris adat masyarakat Sasak Lombok bisa memperkaya khasanah teoritik mengenai konflik hukum lokal dengan hukum nasional di masyarakat Sasak berkenaan dengan penyelenggaraan perkawinan merarik dan waris adat, serta resolusi konflik menuju konvergensi hukum.

 

Suasana Ujian Program Studi Ilmu Hukum (S-3) Pascasarjana UMS yang menghadirkan promovendus Hilman Syahrial Haq. (mentari,.news)

“Memberikan kontribusi bagi berbagai pihak terkait dalam rangka merumuskan resolusi konflik menuju konvergensi hukum pada perkawinan merarik dan waris adat masyarakat Sasak Lombok,” kata Hilman.

Desertasi tersebut di antaranya menyimpulkan sejumlah hal berupa perkawinan merarik dan waris adat di masyarakat Sasak melahirkan konflik laten (tertutup), dikarenakan adanya kepasrahan orang tua untuk menikahkan anaknya yang telah dibawa lari oleh calon pengantin laki-laki.

“Karena kepercayaan masyarakat Sasak, jika anak perempuannya diambil kembali namun tidak dinikahkan akan menjadi aib bagi keluarga dan lingkungannya. Konflik lainnya dapat muncul seperti pemidanaan oleh keluarga perempuan yang tidak terima terhadap laki-laki yang melakukan perkawinan merarik,” katanya.

Selama 2 jam ujian terbuka itu berlangsung, akhirnya para penguji memberi nilai 3,65 atau predikat sangat memuaskan. (*)