Rojolele Organik, Produk Unggulan Agribisnis Muhammadiyah

admin02/07/2019

Rojolele Organik, Produk Unggulan Agribisnis Muhammadiyah

admin02/07/2019
Among

Reportase: Among Kurnia Ebo*

MENTARI.NEWS, KLATEN – Seharian kemarin saya menemani teman-teman Lazismu dan MPM PC Muhammadyah Babat Lamongan, Jatim, di bawah pimpinan mas Eko Hijrahyanto Erkasi dan Edy Syahputro, yang sedang studi banding model pemberdayaan agribisnis jamaah tani Muhammadyah di desa Gempol, Karanganom, Klaten. Selaku tuan rumah yang dikunjungi untuk studi banding ini adalah Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan PD Muhammadiyah Klaten.

Model pemberdayaan petani binaan Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah adalah concern (peduli) yang sudah lama dirintis semenjak jaman Pak Said Tuhuleley (alm). Bahkan concern Pak Said pada gerakan pemberdayaan masyarakat di tingkat terbawah khususnya para petani melalui MPM inilah yang telah mengantarkannya memperoleh anugerah Doktor Honoris Causa dari UMM Malang.

Slogan “Selama Rakyat Masih Menderita Tidak Ada Kata Istirahat” yang beliau canangkan seakan telah menjadi ruh gerakan MPM PP Muhammadiyah hingga kini. Tujuan dari ‘Jihad Kedaulatan Pangan’ adalah mewujudkan kedaulatan pangan. Dalam hal ini, kesejahteraan petani sebagai produsen pangan dapat meningkat dengan menghasilkan produk yang berkualitas (halalan-thoyiban) dan diterima oleh pasar. Sejauh ini realitas kehidupan para petani selama ini masih sangat memprihatinkan. Mereka berada pada struktur sosial-ekonomi terbawah. Kondisi ini meniscayakan kehadiran para aktivis Muhammadiyah untuk terjun ke sektor pertanian dan memberikan pendampingan agar petani dapat berdaulat di negeri sendiri.

Salah satu pilot proyek yang sudah dipandang berhasil (sebagai percontohan) adalah gerakan Tani Bangkit di Gempol, Karanganom, Klaten. Gerakan yang diinisiasi oleh MEK PDM Klaten dan Lazismu PP ini jumbuh (sesuai) dengan visi MPM PP yang telah mendeklarasikan pembentukan JATAM (Jamaah Tani Muhammadiyah) pada Maret 2018 guna masifikasi gerakan pemberdayaan petani. Para petani Gempol sudah sejak beberapa tahun sebelumnya, atas inisiatif sendiri, telah membentuk kelompok tani organik yang dibentuk oleh Pemerintah Desa. Mereka fokus mengembangkan pertanian organik, dengan varietas padi Rojolele.

Rojolele adalah varietas padi unggulan dan khas Klaten yang konon dulunya adalah beras yang paling disukai raja-raja Mataram. Varietas ini sangat istimewa terutama dalam hal rasa yang pulen dan wangi.

“Dulu usia tanamnya saja sampai 5 bulan lebih 20 hari. Oleh karena itu, varietas istimewa ini sudah lama langka di pasaran karena para petani enggan menanamnya,” terang Pak Rahmadi pengurus Gapoktan. “Melihat potensi lokal ini, Pemkab Klaten bekerjasama dengan BATAN telah melakukan upaya pemuliaan Rojolele. Dengan sentuhan teknologi dari para ahli nuklir, usia tanam Rojolele dapat diperpendek menjadi 108 hari dengan tinggi tanaman yang normal, sama dengan tanaman padi pada umumnya,” lanjutnya.

Gerakan Tani Bangkit Muhammadiyah hadir di Gempol guna membantu pengembangan budidaya Rojolele Organik. Bila sebelumnya di Desa Gempol baru ada lahan padi organik seluas 5 hektar, maka dengan program yang dibiayai oleh Lazismu PP Muhammadiyah ini akan terjadi penambahan  luas lahan 16 hektar. “Saat ini penambahan baru berjalan efektif 7 hektar,” kata Pak Rahmadi.

“Full 100% organik ya. Bukan hanya hasilnya. Tapi dari prosesnya hingga perlakuan akhirnya. Kita juga sudah mendapat sertifikasi dari LESOS (Lembaga Sertifikasi Organik). Prosesnya dulu sangat rumit. Monitoring dari Lesos juga rutin dilakukan. Tidak boleh ada SOP yang salah, meski hanya satu.” jelas Wahyudi Nasution, Ketua MEK (Majelis Ekonomi Kewirausahaan) PDM Klaten yang juga anggota MPP (Majelis Pemberdayaan Masyarakat) PP Muhammadyah yang memandu dan menjamu para tamu ini, baik saat rapat, makan siang, maupun di lahan dan gudang pengemasan.

Padi Rojolele yang dihasilkan para petani JATAM di Klaten dikelola dengan manajemen yang rapi dan terpadu sehingga standar kualitasnya dapat selalu dijaga. Pengemasannya pun sudah memakai plastik dan mesin vacuum sehingga beras akan awet sampai dua tahun.

“Padi organik Rajalele ini kami jual dalam kemasan  kardus berisi 20 kg. Hargai mulai Rp 450.000 per kardus, dan ada rabat/potongan harga untuk pembelian dalam jumlah banyak. Sementara ini masih beredar di kalangan warga Muhammadiyah. Kami berikan apresiasi yang tinggi kepada Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang sejak 8 bulan lalu telah membeli 5 ton per bulan untuk dosen dan karyawan di UMY. Sinergi ini jelas sangat penting guna memberi semangat kepada para Petani JATAM Gempol. Pembeli yang lain masih skala kecil, baik lewat koperasi maupun personal,” jelas Wahyudi, yang juga Direktur Utama BUNDA Collection Klaten, pabrik konveksi jilbab dan mukena travelling

Pada pertemuan kemarin, terjadi tanya-jawab menarik antara tamu dari Babat dengan para Pengurus Gapoktan. Salah satunya adalah pertanyaan, “Bagaimana cara menanam padi organik di lahan tadah hujan seperti di Babat?” Pak Dadi, salah satu Pengurus Gapoktan, menjawab dengan yakin karena pernah mencobanya. Dia menanam padi di lahan tadah hujan dengan trik khusus, dan ternyata berhasil.

Baca juga: Tantangan koordinasi dalam kerjasama antar amal usaha Muhammadiyah

“Ternyata padi justru bagus dikembangkan di lahan yang tak terlalu melimpah airnya,” kata Pak Dadi.

Pertanyaan lain yang mengemuka adalah,” Dari mana kita harus memulai pertanian organik?”

Pak Satibi, pengurus senior Gapoktan pun menjawab, “Yang penting ada niat dulu dari beberapa orang yang siap memulai sebagai pelopor. Tidak harus banyak. Beberapa orang itu membentuk lembaga, ada pengurus dan ada pembagian kerja. Lalu mau mempelajari SOP Organik dan mempraktekkan dengan sungguh-sungguh.”

 

Penulis dan PC Muhammadiyah Babad Lamongan berfoto bersama dengan JATAM Desa Gempol, Karanganom, Klaten. (istimewa)

“Model ini sudah mulai merambah beberapa daerah. Kalau yang melakukan studi banding dan magang di Gempol sudah ada ratusan orang. Tapi yang mempraktekkan langsung baru beberapa daerah,” imbuh Pak Rahmadi.

Capek tapi seneng. Itu yang saya rasakan. Entahlah, kalau ada program-program Muhammadyah yang positif, produktif, dan bervisi pemberdayaan jamaah, saya berasa antusias, bersemangat sekali menjalaninya. Saya sendiri berharap keberadaan JATAM ini akan menjadi salah satu amal usaha Muhammadiyah unggulan di masa depan, yang langsung menyentuh lapis kehidupan masyarakat terbawah.

“Kita ingin kesejahteraannya meningkat. Cara budi dayanya juga terukur dan benar. Sehingga pasar akan dengan senang hati menerima dengan harga yang pantas. Selama ini petani cenderung asal dalam budidaya dan hasilnya pun bakbuk, impas. Ini yang ingin kita terobos. Dengan sinergi bersama Lazismu dan pihak kampus, saya optimis program idealis ini akan berhasil,” jelas Wahyudi saat menjamu tamunya di warung tengkleng Pak Kamto Jatinom yang legendaris itu.

 

*Penulis adalah Motivator & Mentor Wirausaha, mantan aktifis namun tetap peduli dengan program produktif Muhammadiyah