Tak Pengaruhi Penjualan, Vendor HP Resmi Tetap Merasa Dirugikan Barang BM

Tak Pengaruhi Penjualan, Vendor HP Resmi Tetap Merasa Dirugikan Barang BM

Aryo_

Reporter: Rani Setianingrum
MENTARI.NEWS,SOLO – Merebaknya ponsel tanpa IMEI  (International Mobile Equipment Identity) yang jelas, tidak hanya merugikan pemerintah tetapi juga produsen ponsel resmi yang ada di Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan Aryo Meidianto. A PR. Manager OPPO Indonesia kepada wartawan, Sabtu (6/7) lalu.

“Barang black market (BM) jelas sangat merugikan bagi kami maupun pemerintah. Pemerintah kerugiannya dalam bentuk hilangnya pendapatan yang mencapai triliunan rupiah.

Sedangkan untuk produsen besar dan resmi di Indonesia kerugian lebih kepada non materi.

“Kami sudah mengikuti segala bentuk aturan yang ditetapkan pemerintah aturan main yg ditetapkan pemerintah  tapi masih ada barang yang nyatanya masuk,” lanjutnya.

Untuk itu pihaknya mendukung rencana pemerintah yang akan memberlakukan IMEI resmi yang rencananya akan dibeelakukan dalam waktu dekat.

“Kami yang tergabung dalam Asosiasi Perangkat Telekomunikasi Indonesia kebanyakan isinya produsen yang memiliki pabrik di Indonesia tentu sangat mendukung,” kata Aryo.

Sebab menurut Aryo, dengan maraknya peredaran barang BM mencederai UU perlindungan konsumen karena konsumen harus mendapatkan service terbaik dari vendor.

“Untuk barang BM kami tidak bisa memberikan service terbaik buat konsumen. Di situ vendor bisa jadi salah di mata konsumen pengguna BM. Sedagkan kami punya banyak konsumen yang membeli perangkat resmi,” terang Aryo.

Lebih lanjut Aryo mengatakan, pihaknya memiliki antisipasi tersendiri teekait penjualan produk secara resmi yakni dengan membukan official store di beberapa market place besar.

“Kami berusaha membuka toko resmi sehingga konsumen kalau ingin membeli produk Oppo melalui online dapat ke toko resmi kami. Kami menjamin dapat perlindungan terbaik dan layanan purna jual yg terbaik dari kami.”

Meski marak barang BM, namun Aryo mengaku tidak banyak memberikan pengaruh terhadap penjualan.

“Yang disayangkan kerugian in materiil seperti kami membuka pabrik besar, kami turuti semua prosedurnya tetapi kerannya masuk semua ke Indonesia. Itu yang kami pertanyakan ini bagaimana karena kami sudah investasi besar tapi barang BM bisa masuk seenaknya,” terang Aryo.