28 Mahasiswa UMS Lolos Program Magang BUMN. Apa Saja yang Mereka Dapat?

Pujoko03/08/2019

28 Mahasiswa UMS Lolos Program Magang BUMN. Apa Saja yang Mereka Dapat?

Pujoko03/08/2019
Magang BUMN

Reporter: Pujoko
MENTARI.NEWS, SUKOHARJO – Sebanyak 28 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta lolos mengikuti program “BUMN Hadir untuk Negeri”. Mereka berasal dari sejumlah fakultas di UMS. 28 mahasiswa tersebut berhasil lolos dari seleksi awal yang diikuti 53 mahasiswa. Sebenarnya, yang terpilih dari seleksi awal tersebut adalah 25 mahasiswa. Mereka akan mengikuti program magang 6 bulan.

“Lalu ada kuota tambahan 3 mahasiswa sehingga total mahasiswa UMS yang lolos program magang “BUMN Hadir untuk Negeri” ini jadi 28 orang,” terang Wakil Rektor I UMS, Dr Muhammad Dai, M.Si dalam siaran pers Humas UMS, Kamis (1/8/2019).

Fasilitas magang BUMN

Puluhan mahasiswa UMS yang lolos program Magang BUMN tersebut bakal memperoleh jaminan fasilitas magang yang sangat menguntungkan mulai dari biaya operasional mulai dari uang saku, uang kos, uang transportasi, hingga jaminan kecelakaan kerja (JKK), jaminan kematian (JKm).

Diterangkan Muhammad Dai, biaya operasional mahasiswa magang BUMN ini cukup terjamin. Misalnya uang saku. Setiap peserta mendapat uang saku sebanyak Rp 1,5 – Rp 2 juta per bulan sesuai kebijakan perusahaan yang ditempati magang.

Lalu ada bantuan uang kos bagi mahasiswa yang lokasi universitas atau kampusnya berada minimal 50 km dari lokasi penempatan magang. Masing-masing sebesar Rp 800.000 apabila lokasi penempatan magang berada di ibu kota provinsi atau Rp 600.000 jika lokasi penempatan magang di ibu kota kabupaten.

Ada pula pemberian uang transportasi sebesar Rp 30 ribu untuk setiap kali datang kerja. Di samping itu mahasiswa magang BUMN pemberian jaminan kecelakaan kerja (JKK) dan jaminan kematian (JKm) selama 6 bulan mengikuti magang BUMN. Perusahaan juga memberikan makan siang per kedatangan bekerja para peserta magang.

Baca juga: UMS Seriusi Program Magang BUMN

“Perusahaan BUMN yang ditempati oleh mahasiswa magang juga harus menyediakan fasilitas, akses dan otorisasi yang diperlukan dalam ruang lingkup kerjasama yang telah disepakati dan sesuai dengan kebutuhan perusahaan,” ujar Muhammad Dai.

Persyaratan ikut magang BUMN

Ada sejumlah persyaratan bagi mahasiswa yang ingin mengikuti program Magang “BUMN Hadir untuk Negeri”. Syarat-syarat tersebut adalah mahasiswa harus memiliki IPK minimal 3.0 serta minimal sudah mengambil 120 SKS.

“Kemudian bersedia ditempatkan di BUMN yang berada di wilayah kerja di seluruh Indonesia. Mereka akan mengikuti program magang BUMN 6 bulan,” kata Muhammad Dai.

Bagi yang sudah menyelesaikan program ini akan mendapat sertifikat dimana sertifikat tersebut dapat menjadi pengganti tugas akhir maupun kerja praktek mata kuliah yang relevan.

 

UMS bekerjasama dengan PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) dalam program Magang BUMN. (Dok.Humas UMS)

Diterangkan WR I UMS, program magang BUMN Hadir untuk Negeri bertujuan memperkaya wawasan dan keterampilan mahasiswa sebagai persiapan mereka masuk dunia kerja serta  dalam menghadapi persaingan global.

“Bagi Perguruan Tinggi, program ini untuk kalibrasi link and match kurikulum serta silabus antara yang disampaikan di perguruan tinggi dengan yang dibutuhkan oleh industri. Sedang bagi industri, agenda ini sebagai sumber rekrutmen karyawan sesuai kebutuhan, serta untuk meningkatkan company branding bagi perusahaan,” kata Muhammad Dai disela penandatanganan kerjasama dengan PT Pelabuhan Indonesia III (Persero).

Adapun BUMN yang terlibat program magang untuk mahasiswa UMS antara lain PT Angkasa Pura I sebanyak 5 mahasiswa,  PT Pelabuhan Indonesia III (4),  PT Perusahaan Listrik Negara (3),  PT Perusahaan Gas Negara (3).

Selain itu juga ada di PT Surveyor Indonesia (2 orang),  PT Kimia Farma (2) , PT Bank Mandiri (2) , PT Timah (1), PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (1), PT Perkebunan Nusantara IX (1), PT Jasa Marga (1), PT Industri Kereta Api (1),  PT Aneka Tambang (1) dan Perum Jasa Tirta (1).

“Mereka tersebar di Bali, Jakarta, Yogyakarta, Surakarta,  Semarang, Madiun, Pangkal Pinang,” terang Muhammad Dai. (*).