Bekal Sukses Itu Ilmu (Pandangan Islam)

admin01/08/2019

Bekal Sukses Itu Ilmu (Pandangan Islam)

admin01/08/2019
Ilustrasi Pixabay

Oleh: Pranyata, SE *

Allah menyampaikan bahwa seseorang yang berilmu akan diangkat derajatnya. Firman-Nya, “niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (QS. Al-Mujadillah: 11). Kita yakin apa yang dijanjikan Allah ini sangat benar. Bisa diperhatikan di lingkungan kita, bahwa orang-orang yang sukses kebanyakan karena mereka berilmu.

Manusia adalah makhluk pilihan Allah untuk mengelola Bumi. Hal ini ditegaskan ketika Dia berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS. 2: 30). Pengertian khalifah secara umum adalah makhluk yang dipilih Allah sebagai penguasa dan pemimpin atas makhluk lainnya, seperti  binatang, tumbuhan, bumi , bahkan jagad raya seisinya. Namun kata khalifah bisa juga berarti sesuatu yang menggantikan. Maknanya kepemimpinan manusia itu akan saling menggantikan, yaitu pergantian penguasaan antar waktu atau antar generasi.

Bekal yang diberikan Allah kepada khalifah tersebut adalah ilmu, sebagaimana firman-Nya “ dan Dia mengajarkan kepada Adam” (QS. Al-Baqoroh:31). Kata mengajarkan menunjukan bahwa Allah memberikan ilmu. Dan inilah bekal utama Nabi Adam untuk menjadi khalifah. Dengan ilmu ini Nabi Adam bisa mengungguli makhluk lain termasuk para malaikat, sehingga  ketika diminta untuk menjelaskan nama-nama, Nabi Adam lebih tahu dibanding malaikat.

Ini menggambarkan kalau ilmu itu dalam Islam sangat sentral. Dalam konsep illahiyah, ilmu adalah dasar keunggulan manusia. Untuk itu seharusnya setiap muslim  itu rajin menuntut ilmu. Dan perlu diketahui bahwa agama mewajibkan agar setiap umat Islam menuntut ilmu. Nabi Muhammad bersabda “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim “(HR. Ibnu Majah).

Fakta yang terjadi saat ini bahwa masyarakat Islam hampir di seluruh pelosok dunia terbelakang. Penyebab utamanya adalah karena umat Islam tidak menguasai ilmu seperti orang Eropa, Amerika Serikat, Jepang, Korea maupun China. Umat tidak mengamalkan perintah agamanya yang mewajibkan menuntut ilmu.

peradaban Keemasan Islam

Kewajiban menuntut ilmu  dalam Islam pernah diamalkan oleh umat di masa lalu dan ternyata  membuat peradaban Islam mengalami kejayaan dan mengungguli bangsa lain. Itulah zaman keemasan Islam. Banyak ahli sejarah mencatat, zaman itu ada pada rentang tahun 750-1258 atau sekitar 500 tahun, yaitu ketika berkuasanya Dinasti Abbasiyah.

Dasar-dasar pemerintahan Dinasti  Abbasiyah yang modern diletakkan dan dibangun oleh Abu al-Abbas as-Saffah dan al-Manshur. Dalam naungan Dinasti ini  umat Islam banyak mendapatkan pencerahan ilmu. Kemajuan demi kemajuan banyak mereka capai, baik secara individu maupun kolektif. Puncak keemasan dinasti ini ada pada tujuh khalifah sesudahnya, yaitu al-Mahdi , al-Hadi,  Harun Ar-Rasyidal-Ma’munal-Mu’tashimal-Watsiq, dan al-Mutawakkil.

Pada masa al-Mahdi, kemakmuran dicapai dengan  peningkatan irigasi pertanian dan eksplorasi pertambangan seperti perak, emas, tembaga dan besi. Pengembangan perdagangan saat itu juga menjadi prioritas. Maka dibangunlah kota  Bashrah menjadi pelabuhan dan ternyata kota ini kemudian menjadi  terkenal di dunia terkait lalu lintas perdagangan dan ekspor impor antara Timur dan Barat.

Kesejahteraan masyarakat melalui ilmu pengetahuan terus ditingkatkan. Perkembangan ilmu pengetahuan mencapai puncak keemasan pada pemerintahan  Harun Ar-Rasyid  (786-809 M) dan puteranya Al-Ma’mun (813-833 M). Pemerintahan Harun Ar-Rasyid banyak membiayai pengembangan pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan.

 

Pranyata, SE

Setelah Harun Ar-Rasyid wafat diganti putranya Al-Ma’mun. Pada masa ini digalakkan pengembangan pendidikan dengan  banyak mendirikan sekolah. Yang monumental adalah pemerintah membangun Baitul Hikmah, yaitu  pusat penerjemahan buku-buku asing yang sekaligus berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Sehingga negara Islam saat itu mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan dunia.

Pengembangan ilmu pengetahuan melahirkan banyak tokoh. Tokoh-tokoh  yang terkenal diantaranya Ibn Sina (ahli filsafat, kedokteran, astronomi, bukunya yang terkenal “The Canon of Medicine” yang   jadi buku pegangan utama para mahasiswa kedokteran di penjuru Eropa sampai abad ke-18),  Al Kindi (ahli menerjemahkan sekaligus penulis 260 buku, keahlian monumentalnya di bidang optik dan  kimia terkait produksi alkohol), Al Khwarizmi (ahli matematika yang mengembangkan persamaan linear dan kuadrat, yang kita kenal dengan nama Aljabar. Bukunya yang terkenal “al-Ardh”, orang Barat lebih mengenal  dengan judul “geography”).

Namun masa keemasan tersebut berakhir pada  tahun 1258 karena diserang bangsa Mongol. Kota Baghdad sebagai pusat pemerintahan tak menyisakan sedikitpun dari pengetahuan yang dihimpun di perpustakaan.

Revolusi Industri 4.0

Dunia saat ini sedang memasuki babak awal revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan kemajuan dalam kecerdasan buatan, robotika, pencetakan 3D, dan Internet of Think (IoT). Diakui bahwa pendekar teknologi dalam revolusi industri 4.0 bukanlah dari kaum muslimin.

Tetapi kaum muslimin tidak boleh tinggal diam. Seharusnya segera menyusul ketertinggalan untuk mencapai kejayaannya kembali, seperti dahulu kaum muslim pernah jaya selama 500 tahun karena didukung ilmu pengetahuan. Sehingga saat itu masyarakat dunia berkiblat kepada kaum muslimin.

Mengejar ketertinggalan bukanlah hal yang tabu. Dahulu negara Jepang, Korea Selatan dan China juga pernah tertinggal dengan negara-negara barat. Mereka  hanya butuh waktu kurang lebih 40-50  tahun untuk mampu berkompetisi dengan negara barat. Umat Islam pun begitu, kalau sekarang tertinggal, maka untuk mengejar peradaban yang dicapai negara maju saat ini juga bisa pasang target waktu, misal pada kisaran 50 tahun.

Islam mengajarkan bahwa mencari ilmu itu wajib dan untuk meningkatkan derajatnya harus menguasai ilmu. Ini adalah doktrin yang bisa didorong kepada seluruh umat untuk meraih sukses melalui penguasaan ilmu. Para Ulama, da’i, mubaligh, guru, dan orang tua seharusnya menggelorakan semangat menuntut ilmu bagi setiap muslim untuk mengejar ketertinggalan di bidang ilmu pengetahuan di seluruh bidang, baik teknologi, kesehatan, pertanian, perdagangan, maupun kebudayaan. Semua itu dilandasi ilmu agama yang kuat. Kita harus yakin kalau kesuksesan kita bisa diraih hanya dengan menguasai ilmu pengetahuan.

 

 

——————————————-

*Penulis adalah Sekretaris Majelis Wakaf PDM Kab. Cilacap dan Pemerhati Ekonomi-Sosial