FEB UMS Kembangkan Kompor Wood Pellet untuk IKM di Sragen

Pujoko08/08/2019

FEB UMS Kembangkan Kompor Wood Pellet untuk IKM di Sragen

Pujoko08/08/2019
Kompor Wood

Reporter: Pujoko

MENTARI.NEWS, SUKOHARJO – Pelaksanaan program pengabdian masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMS berupa pengembangan wood pellet sebagai salah satu alternatif bahan bakar untuk proses produksi bagi IKM menghadirkan teknologi kompor khusus wood pellet.

Orang dibalik pengembangan kompor khusus ini adalah dosen FEB UMS, Doni Eko Mardono. Dengan kemampuan teknis yang ia punyai, lulusan S2 UGM bidang teknik ini berhasil membuat kompor khusus wood pellet ini.

Doni menerangkan, kompor yang ia buat merupakan pengembangan dari teknologi yang sudah ada sebelumnya. Untuk keperluan penelitian FEB UMS Ini, ia mengembangkan dua kompor sekaligus yaitu 1 kompor yang menggunakan pengatur panas dan 1 tungku tanpa pengatur panas (manual).

Saat di lapangan, ketika bertemu IKM yang diajak bekerjasama, dua kompor buatan FEB UMS tersebut dicoba. Kompor yang tanpa pengatur panas lebih sedikit membutuhkan wood pellet. Sementara kompor yang menggunakan pengatur panas sedikit lebih boros wood pellet.

“Satu kompor tanpa pengatur dimasuki bio massa  (wood pellet) untuk 1 tampungan.  Dalam kajian, 1 jam (proses pembakaran) habis 2 kilo (wood pellet). Kalau (kompor dengan) pengatur agak boros karena (kompor ini) pakai blower. Pengapian lebih bagus kalau di semprot dengan oksigen. Fungsi blower itu (menghasilkan oksigen untuk membantu pengapian),” terang Doni saat ditemui mentari.news di FEB UMS, Selasa (6/8/2019)

Diungkapkan Doni, ada kompor dengan fungsi serupa dengan kompor yang ia kembangkan, yang menggunakan boiler dan semua dibuat dengan baja. Harganya untuk 1 kompor berukuran kecil minimal Rp 15 juta. Itu untuk harga kompornya saja. Belum harga boilernya yang menurut Doni bisa mencapai ratusan juta rupiah.

 

Doni Eko Mardono, dosen FEB UMS sekaligus pengembang kompor wood pellet.(mentari.news)

“Lalu muncul ide, IKM  dapat duit Rp 15 juta dari mana? Terus kita buat terobosan, bikin 1 kompor yang murah meriah, terjangkau IKM, kita mengembangkan kompor yang ada pengaturnya tapi harga murah,” kata Doni.

Ditanya berapa biaya pembuatan dua kompor untuk IKM yang diajak bekerjasama, Doni mengatakan biayanya mencapai Rp 15 juta. Bahan yang digunakan adalah besi (stainless) karena mempertimbangkan biaya pembuatan

“Bantuan alat hanya beberapa juta yang mencakup 2-3 UKM sebagai leading sector. Harga Rp 15 juta kita bikin 2 kompor sekaligus 1 satu set sama tungku revers fire . Jadi yang 1  manual untuk goreng-gorengan yang 1 pakai tungku revers fire. Jadi ada 2 tungku stainless itu  bisa  200 – 400 liter sekali masak tapi dalam 1 kompor. Kalau yang biasa pakai 8 tungku kayu kecil-kecil,” terang Doni.

 

Tungku pembakaran dengan bahan bakar kayu. (dok.penelitian)

“Prinsipnya kalau biasanya memanasi dari sisi bawah.  Yang baru itu, yang reverse fire tadi, karena disemprot udara.  Prinsip yang panas tetap diatas panasnya malah dari samping yang dibawah dilewati selama masih panas di situ terus, begitu ada yang panas yang dingin didorong keluar ke pembuangan tadi,” tambah Doni.

Ditandaskan Doni, sebenarnya bukan hanya kompor saja, tapi tungku juga berpengaruh banyak dalam proses kecepatan masak.  Kompor yang dikembangkan untuk IKM itu memiliki kecepatan 2 kali lebih cepat menghasilkan panas. Sehingga bisa memberikan efisiensi dalam penggunaan wood pellet.

Apakah kompor wood pellet yang dikembangkan FEB UMS melalui dirinya, itu bisa dikomersialisasikan, Doni menjawab bisa saja dilakukan komersialisasi.

““Pemkab Sragen meminta lagi untuk dibuatkan 15 kompor wood pellet,” tambah Doni.

Aflit Nuryulita Praswati, anggota tim pengabdian masyarakat FEB UMS dalam project wood pellet ini menambahkan, kalau kompor wood pellet ini mau dikomersialkan tergantung pada IKM itu mau menggunakan apa tidak kompor tersebut serta ketersediaan wood pellet yang mereka perlukaN

“Kalau yang ini dikomersialkan, IKM mau apa ngga beralih dari kayu bakar. Dia (IKM) yakin benar atau tidak (pakai kompor wood pellet). IKM ini berfikirnya bagaimana keberlanjutan barangnya (wood pellet) ada apa ngga ? Kalau gas ada terus,” ujar Aflit.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Syamsudin menambahkan pengembangan wood pellet serta kompor khusus bisa saja dilakukan di tempat lain dengan variasi yang berbeda.

“Untuk sementara ini cukup dulu, nanti kita evaluasi. Insya Allah kita akan sosialisasikan tidak hanya sekedar masuk di jurnal. Insya Allah untuk IKM besar sekali manfaatnya. Kalau dari Pemkab yang punya dana bisa mengembangkan lebih besar lagi. Kami juga berusaha berbagi kemampuan ilmu,” tandas Syamsudin. (*)