Haedar Nashir Tentang Makna Soft Launching Muktamar Muhammadiyah Ke-48

Pujoko04/08/2019

Haedar Nashir Tentang Makna Soft Launching Muktamar Muhammadiyah Ke-48

Pujoko04/08/2019
Soft Launching Muktamar Muhammadiyah

Reporter: Pujoko
MENTARI.NEWS, SOLO – Panitia Muktamar Muhammadiyah ke-48 menyelenggarakan peresmian awal (soft launching) Muktamar Muhammadiyah ke-48 pada Rabu (31/7/2019).

Soft Launching diwarnai peresmian logo Muktamar Muhammadiyah ke-48 serta logo Muktamar Aisyiyah ke-48. Peresmian awal ini menjadi semacam ‘pembuka pagar’ dari Muktamar Muhammadiyah, begitu dikatakan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir.

“Soft launching ini sebagai pra muktamar, memulai Membuka pagar agar Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah yang insya Allah akan diselenggarakan tanggal 1-5 Juli 2020 terselenggara dengan baik, penuh kebersamaan, semangat untuk memajukan bangsa dan kehidupan semesta/global,” terang Haedar Nashir  kepada awak media usai acara.

Menurut Ketua Umum PP Muhammadiyah, penyelenggaraan Muktamar Muhammadiyah di Kota Solo ini menghadirkan perpaduan budaya Solo serta kemajuan Muhammadiyah melalui UMS serta Muhammadiyah Jawa Tengah.

 

Wawancara Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir dengan awak media usai Soft Launching Muktamar Muhammadiyah ke-48. (mentari.news)

“Ktia sampaikan UMS ini, termasuk menempati 10 rangking  dunia. Kita punya 166 PT Muhammadiyah yang akan terus menggelorakan semangat maju dan memajukan bangsa. Budaya itu jadi tempat kita berpijak agar nilai-nilai gotong, royong, kepedulian, kebersamaan, kemanusiaan, tetap menjadi landasan kolektif sebagai bangsa,” ujar mantan Sekretaris PP Muhammadiyah tersebut.

Haedar Nashir menyinggung sambutan soft launching  yang ia berikan dengan menyebutkan bangsa yang besar pun akan jadi  hancur ketika mengalami perpecahan apalagi kalau sedang berjuang meraih kejayaan.

“Itulah makanya kita memadukan budaya Solo atau Indonesia dengan kemajuan Muhammadiyah,” ujar Haedar Nashir.

Makna ketiga dari soft launching  Muktamar Muhammadiyah ini adalah merupakan momtentum menghitung kemajuan dan kelemahan Muhammadiyah untuk bangkit pada abad ke-2 dengan tema memajukan Indonesia dengan memperkokoh peran keindonesiaan seperti yang sudah dilakukan Muhammadiyah sejak satu abad lalu.

“Periode kedua ini dalam konteks abad ke-2, Muhammadiyah  masuk ke ranah global. Kita sudah meletakkan landasan. Pertama, Memiliki 27 cabang Istimewa Muhammadiyah/ Aisyiyah di seluruh dunia. Kedua, kita sudah punya pusat dakwah di Kairo, Mesir. Sekarang merintis boarding school atau Muhammadiyah Australia College di Melbourne.

“Terakhir kita di Malaysia sudah ada kerjasama dengan pemerintah Malaysia, dan Universitas Malaysia dengan membangun UMAM (Universitas Muhammadiyah Malaysia). Nah, dengan langkah ini, kami ingin menegaskan semangat rahmatan lil alamin juga harus diwujudkan dengan karya-karya keunggulan, karya-karya kemajuan,” tandas Haedar Nashir.

Makna yang lain adalah Muhammadiyah akan terus menggelorakan semangat perdamaian dunia yang sudah dirintis Muhammadiyah dari periode ke periode.

“Inilah (makna) momentum launching prak muktamar untuk Muhammaidyah/Aisyiyah (saat ini). Kita ingin tegaskan bahwa Muhammadiyah ingin mencerdaskan Indonesia dan Aisyiyah untuk kemajuan dunia perempuan kita, serta ingin memajukan peradaban bangsa. Kita tahu sekarang, disamping jumlah perempuan yang besar, kita juga menyadari dunia perempuan masih memiliki banyak hal tertinggal, ada problem kekerasan, tenaga kerja, disorientasi memandang perempuan. Nah Muhammadiyah dan Aisyiyah berkomitmen memajukan dunia perempuan indonesia,” tandas  Haedar Nashir. (*)