Muhammadiyah dan Sindrom Otak TBC

admin05/08/2019

Muhammadiyah dan Sindrom Otak TBC

admin05/08/2019
Buku Boeah Fikiran Kijai H.A Dahlan.

Oleh: Adhitya Yoga Pratama

Judul

Boeah Fikiran Kijai H.A. Dachlan

Penulis

Abdul Munir Mulkhan

Waktu Terbit

Pertama, 2015

Jumlah Halaman

XII + 208

Penerbit

Global Base Review STIEAD Press

Kita mungkin masih ingat pada suatu kesempatan, Presiden Suharto dalam pidato Muktamar Muhammadiyah ke-41 di Surakarta, bertanya: Siapakah yang tidak tahu Muhammadiyah? Kita tak bisa membayangkan bagaimana perasaan warga Muhammadiyah mendengar pertanyaan Suharto itu menggema di Stadion Sriwedari pada tahun 1984. Atas nama Muhammadiyah dalam sebuah pidato, Suharto faktanya mengesampingkan kenyataan sejarah dan ideologi bahwa Muhammadiyah sudah ada sejak lama, tumbuh seiring dengan gagasan dan etos K.H. Ahmad Dahlan menyebar ke seluruh pelosok Nusantara.

Sudah lama orang tahu bahwa Muhammadiyah adalah organisasi keagamaan Islam terbesar di Indonesia, karena memang amal usahanya banyak berdiri dimana-mana. Sudah lama pula kita memaklumi bahwa Muhammadiyah dikenal sebagai jamaah yang berjami’yah, karena memang banyak orang dari umat Islam tertarik untuk mengaji di organisasi ini, baik karena materi-materi pengajiannya dipandang kontekstual dan kontemporer bagi para anggota atau karena simpatisan bekerja di amal usahanya. Sejak dulu orang-orang bahkan mengetahui bahwa Muhammadiyah adalah organisasi Islam modern karena terdapat pula organisasi Islam tradisional, ketika masyarakat Indonesia mulai dikategorisasikan oleh ilmuwan Barat yang mengkaji Islam Indonesia.

Namun, dalam pandangan Suharto karakteristik Muhammadiyah semacam itu dipandang tidak cukup, bahkan mungkin tidak penting terutama jika dikaitkan dengan relasi kekuasaan yang terpusat. Karena itu, rezim Orde Baru perlu menerapkan asas tunggal Pancasila yang lebih bersifat struktural kepada seluruh organisasi kemasyarakatan. Rezim yang secara politik cenderung ultrakanan ini menular juga ke dalam tubuh Muhammadiyah yang mengidap sindrom otak takhayul, bid’ah, dan churafat; terobsesi pada ideologi Islam, sehingga konflik internal di Muhammadiyah perlu disederhanakan oleh K.H. A.R. Fakhrudin melalui politik helm kepada penguasa.

Itulah mengapa, adanya gejala pergantian dan penambahan tujuan dalam organisasi sering menimbulkan perbedaan pendapat yang menjurus menjadi konflik. Dengan demikian sinyalemen dan kontatasi tentang “kemandekan” dalam Muhammadiyah (kalau ada) sebenarnya bukan karena adanya inovasi ide, tapi adanya jebakan struktural karena pandangan dogmatik terhadap organisasi sebagai instrumen gerakan. Maka permasalahan kesadaran berorganisasi akan muncul dan pada saat itulah loyalitas anggota dan para pemimpinnya dengan organisasi akan diuji (Djazman, 63-64: 2019).

Pemerintah versi Orde Baru memang sudah selesai. Tapi, hasrat birokrasi untuk melakukan efisiensi, efektifitas, dan tujuan asas tunggal tidak pernah selesai. Bahkan, kalau menengok ke belakang hasrat semacam itu adalah peninggalan nenek moyang yang berkembang seiring dengan lahirnya negara-bangsa. Jauh hari sebelum Indonesia merdeka pemerintah kolonial sudah terlebih dahulu menerapkan kebijakan asosiasi sebagai bagian dari sebuah program pendidikan yang luas. Snouck Hurgronje selaku pendukung utama politik etis percaya bahwa program-program pendidikan—diiringi dengan proses yang bertahap menuju “indonesianisasi”aparat administratif—menunjukkan kepada penduduk Hindia Belanda bagaimana peradaban Barat akan menguntungkan mereka. Selain itu kebijakan asosiasi itu akan menciptakan sebuah kelas penduduk bumiputera berpendidikan Barat yang progresif dan setia pada Belanda (Abdullah, 64: 2018).

Karena itu, tidak berlebihan jika Suharto mengatakan kepopuleran Muhammadiyah tidak identik dengan hadirnya sosok Ahmad Dahlan, tokoh pragmatis dalam tesis Alfian (2010) yang melakukan kegiatan-kegiatan dalam melaksanakan misi dan karya-karyanya untuk membangun gerakan Muhammadiyah. Berbeda dengan Sukarno yang membaca gagasan Ahmad Dahlan dalam forum pengajian di rumah Tjokroaminoto, pengakuannya sebagai murid telah memperoleh pengertian yang lain tentang agama Islam dari seorang guru. Maka ide otentik Ahmad Dahlan tampaknya penting bagi organisasi Muhammadiyah dari masa ke masa yang sering terserang sindrom TBC.

Potret Tindakan Otentik

     Boeah Fikiran Kijai H.A. Dachlan karya Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan pada akhirnya seperti menunjukkan kepada kita tentang tindakan-tindakan otentik yang dilakukan Ahmad Dahlan melalui naskah yang terbit dengan judul “Tali Pengikat Hidup Manusia”. Secara ideologis bentuk kegiatan amal usaha Muhammadiyah sudah dimulai sejak gerakan ini dipimpin oleh pendirinya. Bagi mereka yang kritis mudah menyebut tidak banyak inovasi baru dalam AUM, yang kini tidak terkesan memihak rakyat kecil, tidak memihak wong cilik, dan kaum proletar (hal. ix). Tetapi secara otentik terutama dalam hal relasi teori dan praktik, tindakan-tindakan yang dilakukan Ahmad Dahlan sesungguhnya berorientasi (ideologi) program/kegiatan persyarikatan ini adalah membela kaum tertindas dan mencerdaskan semua lapis umat melalui gerakan pendidikan (hal. 41).

Boleh jadi dalam ijtihad pendidikan Ahmad Dahlan seperti itulah Mohammad Djazman Al-Kindi, pada suatu kesempatan ketika menanggapi perubahan drastis dalam masyarakat dan organisasi Muhammadiyah sendiri. Berharap bahwa di dalam Muhammadiyah akan muncul orang-orang dengan kategori man of think sekaligus man of action. Sehingga pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh lama yang mengandung pemikiran intelektual sekaligus juga pemikiran yang bijak, arif, dan bagaimana Muhammadiyah itu harus dibangun mesti dimunculkan. Dengan demikian tindakan-tindakan otentik tokoh-tokoh lama merupakan konsep pikir universal yang bisa diwariskan pada generasi muda yang akan datang. Apakah mungkin kita sewa satu kamar di Hotel Mandarin kemudian kita dirikan Muhammadiyah Ranting Hotel Mandarin? (Djazman, 58-59: 2019).

Jawaban itu setidaknya ditampilkan secara bernas oleh Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan dalam Boeah Fikiran Kijai H.A. Dachlan. Dari halaman pertama buku ini kita dapat membaca pidato Ahmad Dahlan yang berjudul “Tali Pengikat Hidup Manusia”, sampai halaman terakhir kita disuguhkan dokumen tulisan dr. Sutomo berjudul “Cinta-Kasih Vs Darwinisme”. Buku ini seperti mengajak pembaca berfikir reflektif dan kritis, karena secara konsisten harus diakui Abdul Munir Mulkhan memborbardir kita dengan argumentasi dan fenomena-fenomena Muhammadiyah menyangkut tindakan-tindakan otentik Ahmad Dahlan. Beliau seperti hendak mengatakan bahwa Muhammadiyah, dalam kondisi kapan saja selalu mengidap sindrom yang sama; takhayul, bid’ah, dan churafat. Dalam pandangannya tidak ada yang dikafirkan, diharamkan, dan dimusuhi Muhammadiyah kecuali kebodohan dan keterbelakangan umat akibat pemimpin Islam yang lupa caranya berpikir. Sepanjang hidup Ahmad Dahlan, hal-hal semacam itulah yang berurusan dengan gerakan Muhammadiyah.

Melalui konsep pendidikan inilah, Ahmad Dahlan berusaha menerobosetos guru dan murid sebagai sifat orang Islam dalam dua kewajiban yang harus dijalani yaitu belajar dan mengajar. Maka gerakan Muhammadiyah masa Dahlan adalah gerakan kebudayaan yang berfokus pada penyadaran umat akan peran dan tanggung jawab kemanusiaan dan sejarah. Pendidikan adalah media utama gerakan kebudayaan yang fokusnya ialah penyadaran umat melalui makrifat ketuhanan. Tujuan pokoknya tindakan otentik Ahmad Dahlan adalah pembebasan umat dari kebodohan dan keterbelakangan. Seolah-olah Paulo Freire tentang prinsip pembelajaran membaca kembali tekline Ahmad Dahlan tentang sifat utama seorang muslim, yaitu “menjadi guru sekaligus murid”. Faktanya Freire lahir saat Ahmad Dahlan meminta legalitas politik gerakan pendidikan kepada publiknya (hal. 40).

Di mata H.M Sudja’ sebagai seorang murid, maksud dan tujuan Ahmad Dahlan mewujudkan pendidikan yang teratur secara modern pada prinsipnya ialah hendak melaksanakan umat yang baik sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah SWT. Surat Ali Imran ayat 110 sebagaimana maksudnya, keadaan kamu sekalian adalah sebaik-baiknya umat yang dilahirkan untuk kepentingan manusia. Perintahkanlah dengan perkara yang baik dan cegahlah akan perbuatan yang munkar dan percayalah kamu sekalian kepada Allah SWT. Kalau mereka orang kafir ahli kitab sama percaya, sungguh ada akan lebih baik bagi mereka, dari pada mereka sebagian ada yang mukmin, tetapi kebanyakan dari mereka sama berdosa.

Sampai disini, kita bisa merasakan bagaimana Boeah Fikiran Kijai H.A. Dachlan mengajak kita untuk memahami ide dasar dan tindakan otentik Ahmad Dahlan, jika bukan menelanjangi ruang kosong yang selama ini menjadi optik Muhammadiyah dalam memandang organisasi sekaligus menjalankan amal usahanya. Sejak dari komersialisasi pendidikan hingga mahalnya biaya rumah sakit, Muhammadiyah terobsesi menyaksikan takhayul, bid’ah, dan churafat semakin mewabah ke dalam struktur sosial masyarakat. Dengan kata lain, melalui buku ini sebenarnya Abdul Munir Mulkhan sedang mengatakan bahwa Muhammadiyah, dalam kondisi kapan saja ditakdirkan untuk mengidap sindrom obsesive compulsive disorder (OCD), sebuah perilaku aneh yang tidak mau membela wong cilik atau kaum tertindas.

Penutup: Etika Welas Asih?

     Sebagaimana buku-buku Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan sebelumnya, dalam Boeah Fikiran Kijai H.A. Dachlan, pada akhirnya juga merayakan etika welas asih, yang kali ini dideklarasikan sebagai gerakan. Gerakan ini menjadikan pembelaan pada kaum tertindas melalui pendekatan ke-welas-asihan sebagai implementasi nilai kerahmatan Islam bagi seluruh segi dan ranah kehidupan (alamien). Ke-welas-asihan menjadikan gerakan ini bekerja untuk semua orang dari semua latar belakang etnis dan kepemelukan agama. Suatu cara kerja yang sekarang mungkin banyak disebut kaum liberal (hal. 19). Beliau secara lugas mengatakan bahwa gerakan yang didasarkan atas etika welas asih sesungguhnya jauh lebih rasional dibandingkan dengan gerakan yang didasarkan atas logika dan prinsip humanisme Barat. Pada bagian awal, secara napak tilas beliau banyak membandingkan gagasan-gagasan gerakan sosial antara pemikir-pemikir Timur Tengah dan Barat dengan ide Ahmad Dahlan, tetapi pada bagian penutup beliau melakukan kemunduran yang sulit dipahami oleh pembaca dengan diksi “revolusi kebudayaan” terhadap organisasi Muhammadiyah.

Membaca buku ini kita akan merasakan bagaimana Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan melakukan idealisasi terhadap pemikiran dan tindakan otentik Ahmad Dahlan di satu sisi dan memandang sinis terhadap Muhammadiyah disisi lain, pilihan sikap yang justru dihindari oleh Toynbee (1987) dalam Perjuangkan Hidup: Sebuah Dialog. Dalam pandangan saya, kedua buku tersebut menyasar persoalan yang sama tentang kecerdasan insani yang dilakukan oleh seorang intelektual, meski berakhir dengan tekanan yang tidak sama. Jika Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan tetap belum beranjak dari cara pandang lama hingga terus mengidealisasikan Ahmad Dahlan sebagai pembaharu Islam modern, tidak demikian dengan Toynbee yang justru menawarkan “kehormatan menuntut tindakan mulia” yang merupakan aturan cocok bagi tindakan para cendekiawan dan seniman. Karena itu, dibeberapa tulisan belum terpotret oleh Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan: tindakan otentik.

Meski begitu, Boeah Fikiran Kijai H.A. Dachlan adalah buku yang sangat kaya data dan analisis, sebagaimana lazimnya Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, selalu menggugat kemapanan-kemapanan berpikir, terutama dalam hal rekonstruksi gagasan Ahmad Dahlan. Setelah Warisan Intelektual K.H. Ahmad Dahlan dan Amal Muhammadiyah yang menggunakan cara pandang filsafat, kali ini Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan mencoba memandang lebih kontekstual. Seperti disinggung sebelumnya, hasilnya tidak berbeda. Jawaban bagi segenap persoalan yang dihadapi oleh Muhammadiyah pada ide dasar Ahmad Dahlan adalah etika welas asih. Jadi Prof. Munir tetaplah Prof Munir, yang selalu memperbaharui gagasan Ahmad Dahlan dan menawarkan pendekatan keagamaan, jawaban yang sebenarnya justru mengundang pertanyaan-pertanyaan baru terutama di era sekarang ketika pendekatan keagamaan justru dianggap sebagai piranti perusak akidah Muhammadiyah!.

Daftar Pustaka

Abdullah, Taufik. 2018. Sekolah dan Politik: Pergerakan Kaum Muda di Sumatera Barat, 1927-1933. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.

Alfian, 2010. Politik Kaum Modernis: Perlawanan Muhammadiyah terhadap Kolonialisme Belanda. Jakarta: Al-Wasat.

Alkindi, Mohammad Djazman, 2019. Ilmu Amaliah-Amal Ilmiah: Muhammadiyah Sebagai Gerakan Ilmu dan Amal. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.

Arifin, MT. 1990. Muhammadiyah: Potret Yang Berubah. Surakarta: Institut Gelanggang Pemikiran Filsafat Sosial Budaya dan Kependidikan Surakarta.

Mulkhan, Abdul Munir. 2015. Boeah Fikiran Kijai H.A. Dachlan. Jakarta: Global Base Review dan STIEAD Press.

Sudja, H.M. 2018. Cerita Tentang Kiai Haji Ahmad Dahlan: Catatan Haji Muhammad Sudja’. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.

Toynbee, Arnold dan Daisaku Ikeda. 1987. Perjuangkan Hidup: Sebuah Dialog. Jakarta: PT. INDIRA Anggota IKAPI.