Muhammadiyah Tak Minta Jatah Menteri

Pujoko04/08/2019

Muhammadiyah Tak Minta Jatah Menteri

Pujoko04/08/2019
Haedar Nashir.

Reporter: Pujoko
MENTARI.NEWS, SUKOHARJO-Muhammadiyah tidak dalam posisi meminta jatah menteri kepada Presiden terpilih, Joko Widodo. Namun apabila diberi kepercayaan, Muhammadiyah memiliki kemampuan menunaikan tugas negara.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir kepada awak media usai mengikuti Soft Launching Muktamar Muhammadiyah ke-48 di halaman Gedung Siti Walidah UMS, Rabu (31/7/2019).

“Kami percaya bahwa Pak Jokowi sebagai Presiden terpilih itu dipunya hak prerogatif yang kuat dan mutlak untuk menyusun kabinet,” ujar Haedar Nashir.

Mantan Sekretaris PP Muhammadiyah tersebut menerangkan, Muhammadiyah memiliki komitmen mendorong kabinet kerja ke depan harus profesional, meritokrasi, berdiri tegak menjalankan amanat untuk kepentingan bangsa dan negara, bukan untuk kepentingan politik, golongan dan kelompok tertentu.

“Muhammadiyah dalam posisi menghargai segala kebijakan yang diambil Presiden. Karena itu kita tidak akan mendahului apapun dan bukan porsi Muhammadiyah (meminta jatah menteri kabiner),” ujar Haedar Nashir.

Prinsip yang dipegang Muhammadiyah, menurut  Haedar Nashir, tidak pernah menuntut, tetapi ketika diberi kepercayaan negara, insya Allah Muhammadiyah punya kemampuan menunaikan tugas negara.

Dan hal itu sudah terbukti, bahwa Muhammadiyah bekerja tanpa pamrih mencerdaskan dan mensejahterakan bangsa.

Haedar Nashir menandaskan, guna menyelesaikan persoalan besar bangsa, maka harus mementingkan kepentingan kolektif. Muhammadiyah, dan seluruh kekuatan civil society, partai politik dan lembaga pemerintah punya kewajiban utama menyelesaikan persoalan bangsa.

“Bagaimana menyelesaikan kesenjangan sosial, politik yang serba liberal, pendayagunaan sumber daya alam, memperkokoh kedaulatan bangsa itu harus menjadi kerja kolektif. Tidak bisa Indonesia dibangun oleh kekuatan politik tertentu, oleh golongan tertentu tapi harus disangga bersama oleh seluruh kekuatan bangsa,” terang Haedar Nashir. (*)