Muktamar Muhammadiyah ke-48 dan Semangat Wa’tashimu bi hablillahi jami’an wala tararroqu’

Pujoko23/08/2019

Muktamar Muhammadiyah ke-48 dan Semangat Wa’tashimu bi hablillahi jami’an wala tararroqu’

Pujoko23/08/2019
Haedar Nashir__

MENTARI.NEWS, SUKOHARJO – Muktamar di Surakarta akan diselenggarakan 1-5 Juli 2020. Untuk Kota Solo, ini muktamar ketiga. Muktamar pertama di Solo tahun 1929, muktamar ke-19. Muktamar kedua tahun 1985. Untuk Jawa Tengah mungkin muktamar ke-6. Muktamar Muhammadiyah yang dulu namanya kongres, pertama kali keluar dari Jogja tahun 1926 di Surabaya. Untuk Jawa Tengah pertama kali di Pekalongan 1927. Di Surakarta 1929. Setelah itu di Semarang tahun 1933, lalu Purwokerto tahun 1941, 1953, setelah itu baru di Solo kembali tahun 1985.

Tahun 1922 Muhammadiyah telah menjadi organisasi yang menasional. Satu tahun sebelum Kyai Dahlan wafat, Muhammadiyah sudah menyebar. Bahkan di Aceh tahun 1922 sudah masuk. Jugaseluruh Jawa juga sudah tersebar. Juga di Makassar, kemudian Kalimantan.

Kemudian di era kedua, K.H Ibrahim, masuk ke Papua tahun 1926, ke kawasan NTT sekitar tahun 30an.Perkembangannya saat itu luar biasa dan itu memperlihatkan dinamika Muhammadiyah yang telah meng-Indonesia dan me-nusantara karena alam pikiran Muhammadiyah telah diterima alam pikiran umum dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Untuk itu, soft launching ini  harus jadikan momentum menggairahkan syiar Bermuhammadiyah dan ber-Aisyiyah tapi juga terus melebarkan sayap dakwah bermuhammadiyah bukan saja di Indonesia tapi untuk ranah semesta.

Kalau kita angkat tema muktamar yaitu Memajukan Indonesia Mencerahkan semesta. Untuk Aisyiyah, Perempuan Berkemajuan untuk Peradaban Bangsa. Dua semangat ini tentu tidak kalah penting bagi kita, selain kegembiraan tetapi juga satu tahun kedepan selain persiapan menyelenggarakan muktamar dengan baik tapi juga terus menggelorakan semangat dakwah kita agar betul-betul  bisa menjadi gerakan Islam berkemajuan dan mencerahkan bagi masyarakat luas sehingga Islam jadi rahmatan lil alamin.

Muhammadiyah bukan akan tapi telah berbuat, berkiprah bangsa dan negara dan umat manusia selama 1 abad lebih.

Tapi kita menyadari betul bahwa masih banyak hal yang kurang dalam perjalanan pergerakan kita. Karena itu ke depan kita harus tetap menjadi suluh pergerakan kemajuan  bangsa dan kemanusiaan semesta.

Di hadapan kita, satu diantara tantangan yang perlu kita jawab untuk 1 tahun kedepan sambil terus mempersiapkan muktamar, bagaimana Muhammadiyah dan kekuatan sipil lain terus menjadi pemandu kehidupan beragama di kalangan umat Islam khususnya dan warga bangsa pada umumnya yang terus menanamkan benih-benih spirit kemajuan dan pencerahan sekaligus didalamnya memperlihatkan Islam yan g membawa damai dan Islam yang membangun kebersamaan.

Kita sebagai umat Islam dan bengsa tidak akan jadi maju dan besar jika tercerai berai. Ayat tadi yang dibacakan, Q.S Ali Imrorn 102, yang sering disebut juga 103 ayatnya Nu, 104 ayatnya Muhammadiyah tetapi sesungguhnya semangat ‘ wa’tashimu bi hablillahi jami’an wala tararroqu’ itu harus menjadi semangat kebersamaan kita yang otentik, ukhuwah yang lahir dari dalam dan konsisten kita wujudkan terutama di kala kita berbeda dan di kala kita berbeda kepentingan.

 

Acara Soft Launching Muktamar Muhammadiyah ke-48 di halanan Gedung Induk Siti Walidah UMS, Rabu (31/7/2019). (mentari.news)

Kalau dalam keadaan normal, kita biasanya gampang ukhuwah. Tapi di saat-saat kritis bisakah kita ukhuwah. Ini tugas kita yang tak boleh lengah. Jangan pernah mengabaikan kekuatan kebersamaan. Sejarah mutakhir menunjukkan, Yugoslavia tinggal kenangan. Padahal dulu jadi negara besar. Uni Sovyet hampir saja juga kolap sekarang pecah jadi berbagai negara.

Ini menunjukkan kepada kita bahwa kekuatan kebersamaan akan jadi energi kolektif kita untuk maju. Sebaliknya kalau kita pecah, biar kita punya potensi maju akan runtuh kembali. Seperti ilustrasi dalam alquran, ‘engkau jangan seperti orang yang mencerai beraikan benang yang sudah dipintal dengan baik’.

Kedua, kita harus terus punya komitmen memajukan bangsa ini tanpa pamrih. Dan itulah karakter Muhammadiyah dengan semangat kemandirian dan kekuatan dari dalam. Itu kita bisa maju dan memajukan bangsa. Kita bangga tadi UMS begitu optimis dengan penyelenggaraan Muktamar nanti.

Setiap  Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah punya tradisi setiap muktamar, penyelenggara membangun gedung yang bagus. Itu selalu begitu. Sejak dari muktamar di Malang ketika rektornya Pak Muhadjir Effendy, ada DOM University besar, kemudian muktamar di Yogyakarta ada Sportarium UMY. Kemudian kemarin ada di Sulawesi juga membangun gedung yang bagus disebut Balai Sidang Muktamar dan insya allah di Surakarta akan membangun edutorium yang cukup megah.

Dan ini menandai juga rasa syukur UMS yang tahun ini masuk 10 besar dunia dari Unirank. Selamat, termasuk ketua BPH-nya pak Dahlan Rais. Jadi kami percaya muktamar akan terselenggara dengan baik, penuh persaudaraan, semangat  persyarikatan untuk bersyirkah, satu kesatuan yang utuh dan tidak kalah penting membawa pesan memajukan Indonesia mencerahkan semesta membangun kemajuan perempuan berkemajuan

Di ujung sambutan ini saya ingin membacakan lagu muktamar ke 18 tahun 1929. Judul lagu muktamar itu nyanyian Muktamar ke-18 di Solo.

Lagu ini penting sebagai bagian spirit menjelang muktamar. Say abacakan.Kongres kita akamt ebsar.Selalu kita gembira.Besar rti dan besar halnya. Besar pula yang ditera. Maka syukur kami yang tak terkira-kira kepada Allah yang memelihara. Muhammadiyah di tolong dan disuburkan dengan segera sehingga syiarnya kentara. Muhammadiyah sedikit bicara banyak bekerja.

 

 

_______________________________________________________________

*Tulisan dibawah ini merupakan sambutan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir pada Soft Launching Muktamar Muhammadiyah ke-48 yang dilakukan di halaman Gedung Induk Siti Walidah UMS, Rabu (31/7/2019).

*Judul tulisan ini dibuat redaksi mentari.news.