PSBPS-UMS Adakan Lokakarya Perencanaan Program “Revitalisasi dan Institusionalisasi Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi”

Pujoko30/08/2019

PSBPS-UMS Adakan Lokakarya Perencanaan Program “Revitalisasi dan Institusionalisasi Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi”

Pujoko30/08/2019
RIPP-PT

Reporter: Pujoko
MENTARI.NEWS, SOLO – Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial (PSBPS) UMS menggelar Lokakarya Perencanaan Program bertema “Revitalisasi dan Institusionalisasi Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi” atau RIPP-PT, Kamis-Jumat (29-30/8/2019) di Solo.

Program Manajer RIPP-PT, Yanuar Ihtiyarso, mengatakan lokakarya RIPP-PT menghadirkan narasumber dari Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama dan lembaga-lembaga pemerintah. Dari Muhammadiyah, menghadirkan Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan selaku pengurus Majelis DIKTI & LITBANG PP Muhammadiyah, Dr. Ma’mun Murod Ketua Pusat Studi Pancasila dan Islam, Dr. Ahmad Muhibbin Ketua Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan UMS, Prof. Dr. Bambang Sumardjoko dan Prof. Dr. Markhamah dari Pascasarjana UMS, Listia Suprobo dari Nahdlatul Ulama dan penggerak Pendidikan Berparadigma Pancasila, Dr. Sirin Wahyu Nugroho Kasubdit Pendidikan Akademik Ditjen BELMAWA KEMENRISTEK DIKTI, dan Dr. Sobri AR Direktur Pengkajian Materi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Drs. H. A. Dahlan Rais, M.Hum., dalam pembukaan lokakarya menyampaikan bahwa para pendiri bangsa menyusun Pancasila berdasarkan atas dua hal: keyakinan (belief) dan ilmu (knowledge). Sistem keyakinan harus dilandasi oleh pemahaman beragama yang terbuka terhadap kemajuan dan pembaharuan (tajdid).

Sementara sistem pengetahuan melandasi praktik bernegara dan berbangsa yang paripurna. Dahlan Rais menegaskan bahwa Pimpinan Pusat Muhammadiyah memberi dukungan dan apresiasi penuh atas program Pendidikan Pancasila yang disinergikan dengan pendidikan agama Islam berwawasan kemajuan dan berprinsip moderasi ini.

Dalam perencanaan Program RIPP-PT ini, PSBPS UMS sebagai inisiator bekerjasama dengan mitra utama Lembaga Pengembangan Ilmu Dasar dan Bahasa (LPIDB) UMS yang memiliki peran strategis terkait tugas dan fungsi pokoknya sebagai lembaga yang merumuskan, mengkoordinasi dan melaksanakan pembelajaran Pancasila di kampus.

Ketua LPIDB UMS, M. Thoyibi, mengatakan bahwa pendidikan Pancasila beririsan dengan pendidikan agama dalam arti keduanya membidik pada penguatan karakter mahasiswa sebagai pribadi, anggota masyarakat maupun sebagai warga negara. “Oleh karena itu, program ini menjadi penting agar menjadi model alternatif pendidikan Pancasila di perguruan tinggi,” kata Thoyibi dalam keterangan tertulis PSBPS-UMS yang diperoleh mentari.news, Jumat (30/8/2019).

Dalam sambutan orientasinya, Yayah Khisbiyah selaku Direktur Eksekutif PSBPS UMS menuturkan tujuan lokakarya adalah menggali masukan dan saran terhadap hasil awal penelitian sebagai evidence-based data dalam melakukan advokasi kebijakan, revitalisasi buku ajar dan modul di universitas, dan merancang pembelajaran Pancasila bermetode andragogi.

Ia juga menekankan perlunya mengukuhkan jejaring lintas-golongan dan lintas-sektoral guna menggalang dukungan dan kerjasama dari lembaga-lembaga pemerintah maupun masyarakat sipil dalam rangka implementasi visi bersama mengejawantahkan nilai-nilai Pancasila dalam perilaku sehari-hari.

Pembicara Prof. Munir Mulkhan menegaskan tentang Pendidikan Pancasila sebagai sistem etik agar mengejawantah dalam laku nyata. Sementara itu, Dr. Ma’mun Murod melengkapi dengan pandangan perlunya implementasi Pancasila dimulai oleh para pejabat, politisi dan pelaku penyelenggara pemerintahan atau “State actors“.

Sementara Dr. Muhibbin dan Listia Suprobo menguatkan penerapan pedagogi Pancasila sebagai sistem pengetahuan yang terintegrasi untuk mengembangkan kecerdasan, partisipasi dan tanggungjawab kewargaan mahasiswa. (*)