Tim PPM FEB UMS Kembangkan Penggunaan Wood Pellet Bantu IKM di Sragen

Tim PPM FEB UMS Kembangkan Penggunaan Wood Pellet Bantu IKM di Sragen

Pujoko07/08/2019
Pujoko07/08/2019
Wood Pellet

Reporter: Pujoko
MENTARI.NEWS, SUKOHARJO –  Kolaborasi antara pendidikan tinggi dan pemerintah daerah, pelaku industri kecil menengah (IKM) dilakukan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMS, Pemkab Sragen, pelaku usaha nata de coco dan aneka kripik.

Dengan pendanaan dari Kemenristekdikti, FEB UMS melakukan program pengabdian masyarakat (PPM) berupa pengembangan penggunaan bio massa wood pellet sebagai alternatif sumber bahan bakar yang dapat digunakan mendukung proses produksi IKM di Kabupaten Sragen.

Dua IKM yang dilibatkan dalam project ini adalah CV Tiga Cahaya Sejahtera, pelaku usaha produksi nata de coco yang dipunyai Tri Handayani di Kecamatan Kedawung serta aneka keripik Haykrip miliki Tri Wulan Agustina yang berada di Kecamatan Gondang. Tim PPM FEB UMS juga bekerjasama dengan produsen wood pellet yaitu UD Karunia Jati yang berada di Kalijambe.

Anggota tim PPM FEB UMS untuk project wood pellet ini, Muzakar Isa menerangkan, penggunaan wood pellet bisa sebagai pengganti kayu bakar yang digunakan IKM nata de coco serta LPG 3 kg oleh IKM aneka keripik untuk proses pembakaran.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  “LPG 3 kg itu sebenarnya untuk rumah tangga miskin. Tapi dalam prakteknya digunakan juga untuk pertanian dan industri. Sehingga perlu terobosan dalam penggunaan bahan bakar bagi para pelaku IKM ini,” kata tenaga pengajar FEB UMS yang kerap dipanggil Isa ini.

 

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMS, Dr. Syamsudin, M.M. (mentarin.news)

Tim PPM FEB UMS melihat di Gemolong dan daerah Sragen utara lainnya itu ada banyak limbah gergaji kayu. Dari ana tim punya inisiatif menjadikan limbah itu sebagai bahan wood pellet.

“Kita gandeng teman                         dosen FEB  yang mampu secara teknis membuat alat mengolah limbah wood pellet jadi bahan bakar. Kita bikin kompor untuk wood pellet,” ujar Isa.

Anggota tim PPM FEB UMS lainnya, Aflit Nuryulita Praswati menambahkan, penggunaan wood pellet dengan kompor khusus ini lebih efisien ketimbang kayu bakar yang membutuhkan tempat penyimpanan luas.

“Selain itu, kalau menggunakan kayu bakar dibutuhkan tingkat kering kayu yang harus sama agar pembakaran bahan nata de coco bisa bagus,” ujar dosen FEB UMS yang sering dipanggil Aflit ini.

Terkait wood pellet ini, secara ringkas, diterangkan Aflit, dibuat dari limbah kayu hasil proses gergajian dicampur dengan semacan cairan kemudian dipadatkan lalu dipress untuk dicetak.

“Ada produsen yang membuat wood pellet. Namanya UD Karunia Jati di Kalijambe yang biasa menjual wood pellet keluar Sragen seperti ke kawasan industri tahu di Klaten dan PTPN di Semarang,” kata Aflit.

Lalu bagaimana peran Pemkab Sragen? Diterangkan Aflit, Pemkab Sragen berkeinginan memasok IKM dengan wood pellet. Masalahnya, IKM belum tahu apakah bisa terbiasa menggunakan wood pellet dibanding kayu bakar.

“Pemkab Sragen meminta lagi untuk dibuatkan 15 kompor wood pellet,” tambah Doni Eko Mardono, dosen, anggota tim PPM FEB UMS yang juga figur yang membuat pengembangan kompor wood pellet ini.

Dekan FEB UMS, Syamsudin menambahkan IKM nata de coco yang menggunakan kayu bakar bisa beralih menggunakan wood pellet dengan menggunakan limbah gergajian kayu.

Untuk mendukung penggunaan wood pellet ini, menurut Syamsudin, dibuat pengembangan dari kompor wood pellet oleh Doni Eko Mardono yang pintar secara teknik karena lulusan teknik (S2 UGM)

“Limbah yang kurang begitu digunakan dibuat wood pellet. Tapi saya tidak tahu teknis maka saya panggil Doni (Doni Eko Mardono) untuk mengerjakan (kompor wood pellet), ternyata bisa cepat jadi, produksinya efektif, dananya efisien. Kita kaji kelayakannya dan alhamdulillah layak sekali,” kata Syamsudin.

Berdasarkan makalah penelitian yang diperoleh dari tim PKM FEB UMS terkait proyek wood pellet ini, diperoleh informasi bahwa hasil perhitungan pada industri makanan olahan Nata de coco menunjukkan bahwa biaya produksi pertahun dengan menggunakan bahan bakar Wood Pellet lebih rendah dibanding dengan biaya bahan bakar dengan gas, efisiensi biaya mencapai Rp. 34.200.000,00 per tahun.

Sementara untuk IKM aneka keripik Haykrip  menunjukkan bahwa biaya produksi pertahun dengan menggunakan bahan bakar Wood Pellet lebih rendah dibanding dengan biaya bahan bakar dengan gas, efisiensi biaya mencapai Rp. 79.200.000,00 per tahun. (*)