ICMI Gandeng UMS Beri Solusi Masalah Penyimpangan Perilaku Seksual

Pujoko07/09/2019

ICMI Gandeng UMS Beri Solusi Masalah Penyimpangan Perilaku Seksual

Pujoko07/09/2019
Seminar Nasional Perilaku Penyimpangan seksual

Reporter: Pujoko
MENTARI.NEWS, SUKOHARJO –  Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) menggandeng Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)  melaksanakan seminar nasional dengan tema “Menyelamatkan Generasi Penerus Bangsa dari Malapetaka Moral pada Perilaku Penyimpangan Seksual Sejenis” di Auditorium Muh. Djazman, kampus I UMS Solo, Kamis (5/9).

Selain UMS,ICMI bekerjasama dengan sejumlah perguruan tinggi negeri dan swasta di tanah air seperti Undip,UGM, ITS, IPB, UIN Jakarta, UI serta sejumlah universitas di Lampung, dan Sumatra Barat.

Wakil ketua Umum ICMI Sri Astuti Buchori dalam pembukaan seminar mengatakan melalui seminar nasional ini,  ICMI berusaha untuk memberi solusi terhadap persoalan perilaku penyimpangan seksual.

Pertama dari perspektif komunikasi gender. Kedua dari perspektif kesehatan, ketiga dari perspektif agama, juga dari perspektif pembuat UU (DPR RI) serta dari sisi perlindungan anak.

“Kami dari ICMI tidak menghakimi namun menolong siapapun yang sudah terkena itu nanti akan ditangani bersama-sama dokter spesialis kulit dan kelamin di Solo jadi tidak perlu khawatir. Tapi kalau yang sudah parah tinggal menunggu. Namun yang belum harus diobati dan hidup lebih baik lagi dan  mari bersama-sama menghindari hidup menyimpang yang dianggap agama manapun tidak baik,” terang Sri Astuti.

Dalam konteks perlindungan anak, Sri Astuti mengatakan anak-anak harus dilindungi dari praktek penyimpangan perilaku seksual. Demikian juga dari sisi agama Islam.

Saat ini menurut Sri Astuti sudah ada 28 negara yang mengesahkan perkawinan sejenis. Namun belum tentu semua daerah di negara-negara tersebut melegalkan hal serupa.

“Di Jerman pun, di daerah Bavaria, disitu organisasi agamanya kuat sehingga disana perilaku menyimpang tidak bisa masuk. 28 negara sudah melegalkan perkawinan sejenis. Namun bukan berarti semua seperti itu Dan tidak ternyata,” kata Sri Astuti.

 

Pemberian cinderamata UMS kepada ICMI dalam Seminar Nasioonal “Menyelamatkan Generasi Penerus dari Malapetaka Moral pada Perilaku Menyimpang Hubungan Seksual Sejenis. (dok.Humas UMS)

Dalam konteks hukum, ICMI juga sudah berkomunikasi dengan DPR RI terkait sosialisasi praktek perilaku seks menyimpang ini dengan sasaran kampus-kampus di tanah air.

“Solusi dengan hukum, karena yang sudah terjebak itu memang kasihan karena penyebabnya macam-macam. Namun misalnya perilaku sodomi terhadap 5 anak itu, kalau tidak dihukum tidak adil. Jadi memang harus dihukum,” ujar Sri Astuti.

Dikatakan Sri Astuti, ICMI sudah meminta ada hukuman sedikitnya paling tidak 15 tahun penjara bagi pelaku perilaku seksual menyimpang kepada DPR yang bisa bekerjasama dengan pemerintah membuat undang-undang yang memadai.

“Kemarin sampai harus ada yang dikebiri. Kami dari ICMI membuat solusi jangan sampai ada hal-hal yang memprihatinkan terjadi di masyarakat. Bahkan di negara-negara barat, Amerika, Eropa, Asia, Thailand, Indonesia. Bahkan di Brunei itu hukumannya mati,” terang Sri Astuti.

Sementara itu, Rektor UMS, Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si mengatakan seminar nasional yang dilakukan ICMI terkait perilaku seksual menyimpang ini penting dilakukan karena menyangkut masa depan anak-anak muda.

Perilaku seksual yang menyimpang merupakan salah satu persoalan bangsa Indonesia. Untuk itu, menurut Rektor UMS, sebagai civitas akademika, harus mampu membuat usaha-usaha penyelesaiaan masalah ini dengan ikut serta mencarikan solusi.

“Perguruan tinggi harus riset mencari solusi yang tepat,” kata Rektor UMS. (*)