Kejuaraan Dunia Tapak Suci Pertama Telah Berakhir, Ini Evaluasinya

Pujoko06/09/2019

Kejuaraan Dunia Tapak Suci Pertama Telah Berakhir, Ini Evaluasinya

Pujoko06/09/2019
Pembukaan Kejuaraan Dunia Tapak Suci I Tahun 2019

Reporter: Pujoko
MENTARI.NEWS, SOLO – Kejuaraan Dunia Tapak Suci yang pertama tahun 2019 telah berakhir Kamis (5/9/2019) sejak digelar Senin (2/9/2019) di Sritex Arena, Solo. Lalu apa saja evaluasi yang bisa dicatat dari kejuaraan dunia tersebut? Mentari.news menemui ketua panitia kejuaraan, Wiwaha Aji Santoso sebelum penutupan kejuaraan. Menurut Ketua PIMWIL Tapak Suci Jawa Tengah tersebut, ada tiga hal yang patut menjadi catatan pihak penyelenggara.

“Kekurangan kami yang pertama dalam hal teknis pertandingan, walaupun berjalan sudah cukup bagus sistem di Tapak Suci perlu ada pembenahan, ada penyempurnaan-penyempurnaan,” kata Wiwaha. Ia memberi contoh mengenai kinerja wasit dan pembantu yang dipengaruhi oleh durasi pertandingan yang dilaksanakan mulai pagi hingga dini hari.

“Contoh ketika kondisi fresh, wasit dan pembantu wasit itu tidak begitu masalah. Menjadi bermasalah ketika pertandingan panjang, wajar ini manusia, karena kondisi lelah jadi kadang terbalik. Nah, yang bisa melihat langsung ketua pertandingan tapi di Tapak Suci ini, ketua pertandingan tidak punya kewenangan apapun untuk mengkoreksi kesalahan wasit. Yang punya hak itu pembantu wasit. Tapi sama saja karena pembantu wasit juga lelah sekali karena (pertandingan) panjang. Ini pertama yang perlu dikoreksi,” terang Ketua PDM Sukoharjo tersebut.

Selama empat hari kejuaraan dunia Tapak Suci ini, untuk kategori olahraga dimulai dari jam 8 pagi sampai 11 malam. Sementara untuk kategori seni dimulai jam 7 pagi sampai 00.30 dini hari. Dikatakan Wiwaha, kapasitas wasit dan pembantu wasit sudah cukup baik dengan dibantu perangkat digital scoring board. “Yang perlu ditambah itu venue (tempat pertandingan,” ujar Wiwaha.

Baca juga: PIMWIL Jawa Timur Juara Umum Kejuaraan Dunia Tapak Suci I Tahun 2019

Catatan kedua adalah mengenai penggunaan IT dalam pertandingan. Diakui Wiwaha, penggunaan IT tersebut baru kali ini dilakukan dan dinilai sudah baik tapi memang harus dilakukan penyempurnaan-penyempurnaan. “IT ini, kami baru pertama kali menggunakan. Sudah baik tapi perlu ada penyempuraan, perlu disempurnakan,” ujar Wiwaha.

Ketiga, menurut Pendekar Kepala Tapak Suci tersebut, terkait penjiwaan sebagai pendekar yang harus benar-benar tertanam dalam diri pesilat Tapak Suci. Hal ini disampaikan Wiwaha terkait adanya sedikit insiden ada satu pesilat Tapak Suci yang merasa tidak puas dalam pertandingan.

 

Salah satu pertandingan pencak silat dalam Kejuaraan Dunia Tapak Suci I Tahun 2019 hari ketiga, Ratbu (4/9/2019). (mentari.news)

“Ada yang kadang-kadang mengedepankan orientasi prestasi ansich sehingga kadang-kadang filosofi kependekaranitu kurang di nomor satukan. Apa itu? Taqwa, taqwa yang melahirkan akhlakul karimah sehingga pertandingan pencak silat tidak terjadi keributan. Meskipun hanya sekali terjadi ketidak puasan dalam pertandingan panjang ini, kita akui dan itu dilakukan 1 orang dan tadi sudah minta maaf,” ungkap Wiwaha.

Menurut Wiwaha insiden dalam pertandingan pencak silat itu tidak hanya terjadi di Tapak Suci saja, tapi juga di perguruan lain juga terjadi. “Kami harus mengakui bahwa penjiwaan sebagai pendekar harus benar-benar tertanam,” ujar Wiwaha.

Menjawab pertanyaan mau dibawa kemana evaluasi yang diperoleh dari kejuaraan dunia Tapak Suci yang pertama ini, Wiwaha menjawab akan dilaporkan kepada Pengurus Pusat Tapak Suci Putera Muhammadiyah. “Kedua kepada AUM, baik sekali kerjasamanya. Bagus. UMS PKU Muhammadiyah dengan PDM Dikdasmen Solo raya menggembirakan,” kata Wiwaha

Secara umum, penyelenggaraan Kejuaraan Dunia Tapak Suci yang pertama Tahun 2019 ini menurut Wiwaha berjalan cukup baik dengan warna silaturahmi yang sangat kelihatan.

“Alhamdulillah amat kami syukuri. Yang paling nampak silaturahmi yang terjadi bahkan secara  internasional dimana kawan-kawan luar negeri juga datang. Yang kami tidak menduga dari sepuh sampai anak-anak bisa bertemu bersama-sama. Luar biasa. Masya Allah,” tandas Wiwaha. (*)